Kulkas dan AC Siap-Siap Berubah, Peneliti Temukan Pengganti Freon

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita
Foto: Promo Aneka Kulkas di Transmart Full Day Sale. (CNBC Indonesia/Tias Budiarto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peneliti berhasil menemukan teknologi pengganti bahan kimia berbahaya, seperti hydrofluorocarbons (HFC) yang kerap dikenal sebagai freon, untuk mendinginkan ruangan.

Menurut IFL Science, sistem pendingin konvensional bekerja dengan memindahkan panas dari dalam ruangan menggunakan cairan yang mampu menyerap panas.

Cairan tersebut kemudian diuapkan menjadi gas dan dialirkan melalui sistem tertutup, sebelum dikondensasikan kembali menjadi cairan untuk mengulangi proses pendinginan.


Baca: Google & Apple Menyerah, Dipaksa Rela Berubah Total

Peneliti asal Lawrence Berkeley National Laboratory dari University of California, Berkeley mengembangkan cara baru untuk menyerap dan memindahkan energi panas. Model yang mereka gunakan memanfaatkan cara energi tersimpan dan dilepas saat material berubah bentuk, contohnya seperti saat es berubah menjadi air.

Jika suhu ruangan naik, es akan mencair. Pada saat yang sama, es yang mencair menyerap panas dari sekitarnya sehingga membuat ruangan menjadi dingin.

Untuk mencari alternatif proses pendinginan, peneliti fokus menemukan cara "mencairkan es" tanpa meningkatkan suhu. Metode yang ditemukan adalah dengan menambahkan partikel yang berisi energi yang dikenal sebagai ion.

Proses pencairan menggunakan partikel ion ini contohnya adalah saat garam digunakan untuk mencegah terbentuknya es di jalan raya ketika musim dingin di negara-negara empat musim. Siklus perubahan bentuk ini diberi nama siklus ionokalori (ionocaloric cycle)

"Belum ada solusi alternatif yang sukses menciptakan dingin, yang bekerja dengan efisien, memenuhi aspek keselamatan, dan tidak berdampak buruk untuk lingkungan. Kami pikir siklus ionocalori punya potensi," kata Drew Lilley dari Lawrence Berkeley National Laboratory.

Baca: Dunia Benar-Benar Berubah, Ramai Negara Ikut Aturan RI

Tim peneliti telah menguji coba garam yang dibuat menggunakan yodium dan natrium untuk mencairkan etilena karbonat. Cairan yang diproduksi memanfaatkan karbon dioksida ini juga digunakan dalam baterai lithium-ion. Artinya, proses pembuatannya tidak hanya nol emisi, tetapi emisi negatif.

Dalam uji coba itu, temperatur berubah hingga 25 derajat Celcius dengan hanya "charge" sebesar 1 volt.

Kini, peneliti tengah menciptakan sistem praktis yang bisa terapkan secara komersial. Salah satu pengembangannya adalah mencari "garam" yang paling efektif untuk menarik panas dari ruang. Pada 2025, peneliti menemukan bahwa garam yang paling efisien adalah garam yang berbasis nitrat.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Solusi Kelistrikan Yang Penting Bagi Proyek Data Center Era AI

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Beli Mobil Dinas Rp 8,5 Miliar, Pemprov Kaltim Dikritik
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Dunia Benar-Benar Berubah, Ramai Negara Ikut Aturan RI
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Richard Lee Tegas Bantah Isu Damai dengan Doktif: Saya Tidak Pernah Menawarkan atau Meminta!
• 11 jam lalugrid.id
thumb
Kadin Minta Presiden Batalkan Impor 105 Ribu Mobil Niaga dari India
• 7 jam lalukumparan.com
thumb
Woody Tampil Botak dan Hadapi Ancaman Digital dalam Trailer Terbaru Toy Story 5
• 19 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.