Produsen otomotif asal Jepang, Toyota Motor Corporation, berencana meningkatkan produksi kendaraan hybrid secara tajam hingga 2028.
Langkah ini diambil di tengah surutnya antusiasme atau FOMO mobil listrik, serta terjadi pula perubahan kebijakan sejumlah negara yang mulai mengurangi dukungan terhadap mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV).
Berdasarkan laporan Nikkei Asia yang mengutip pemasok internal, Toyota menargetkan produksi global sebanyak 6,7 juta unit kendaraan hybrid pada 2028. Angka ini naik signifikan dibandingkan rencana produksi lima juta unit kendaraan hybrid dan plug-in hybrid pada 2026.
Baca Juga: Toyota RAV4 PHEV 2026, Tenaga 329 PS dan Harga Mulai Rp600 Jutaan
Kenaikan produksi hybrid tersebut melampaui pertumbuhan total produksi Toyota. Secara keseluruhan, perusahaan memproyeksikan output kendaraan naik sekitar 10 persen. Namun, porsi kendaraan hybrid dalam bauran produksi global diperkirakan meningkat dari sekitar 50 persen menjadi 60 persen dari total 11,3 juta unit kendaraan yang ditargetkan diproduksi pada 2028.
Kendaraan hybrid yang memadukan mesin bensin konvensional dengan motor listrik dan baterai mengalami peningkatan permintaan seiring berkurangnya insentif pemerintah untuk mobil listrik murni.
Di Amerika Serikat, pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan mulai membongkar berbagai insentif kendaraan listrik yang sebelumnya diperkenalkan pada era Presiden Joe Biden, termasuk kredit pajak pembelian mobil listrik.
Sementara di Eropa, Uni Eropa membatalkan rencana pelarangan penjualan kendaraan bermesin pembakaran internal baru pada 2035.
Di tengah perubahan kebijakan tersebut, Toyota berencana memperluas produksi hybrid di Amerika Serikat. Versi elektrifikasi dari model populer seperti Toyota Camry dan Toyota Tacoma mencatat performa penjualan yang positif.
Sepanjang 2025, penjualan Toyota di AS meningkat 8 persen menjadi 2,51 juta unit kendaraan.
Pada November lalu, Toyota mengumumkan komitmen investasi sebesar 1,5 triliun yen (sekitar 10 miliar dolar AS) di Amerika Serikat selama lima tahun. Investasi tersebut diawali dengan alokasi 140 miliar yen untuk memproduksi mesin dan komponen hybrid di lima pabrik.
Toyota juga memperkenalkan varian hybrid dari Toyota RAV4 pada Desember dan berencana memulai produksi sedan Corolla hybrid di fasilitasnya di Mississippi setelah 2028.
Berdasarkan data perusahaan dan GlobalData, Toyota menguasai 58 persen pangsa pasar global kendaraan hybrid pada akhir 2025. Lembaga riset berbasis di Inggris tersebut kemudian merevisi naik proyeksi penjualan hybrid dan plug-in hybrid global menjadi 29 juta unit pada 2030, atau 2,8 juta unit lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.
Sejumlah produsen otomotif global juga mulai menyesuaikan strategi elektrifikasi mereka. Ford Motor Company memangkas sejumlah program kendaraan listrik dan memperkirakan pembukuan penurunan nilai (write-down) hingga 19,5 miliar dolar AS sampai tahun fiskal 2027.
General Motors tengah merombak produksi kendaraan listriknya dan berencana mengembangkan model hybrid bersama Hyundai Motor Company. Sementara Volkswagen memperkenalkan sistem full-hybrid pertamanya.
Di sisi lain, Tesla bulan lalu mengumumkan penghentian produksi model premium S dan X serta akan mengalihkan fasilitasnya di California untuk pengembangan robot humanoid, setelah mencatat penurunan penjualan tahunan sebesar 9 persen menjadi 1,63 juta unit.
Dengan pergeseran kebijakan global dan dinamika pasar tersebut, Toyota tampaknya memilih memperkuat strategi hybrid sebagai jembatan transisi menuju elektrifikasi penuh, sembari menjaga fleksibilitas di tengah ketidakpastian regulasi dan permintaan pasar.





