Bisnis.com, BATAM — Perjanjian dagang resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat membuka peluang besar bagi penguatan industri manufaktur di Kota Batam, terutama pada sektor elektronik, semikonduktor, komponen pesawat terbang, dan tekstil.
Sebanyak 1.819 pos tarif produk strategis nasional berpotensi menikmati tarif ekspor nol persen ke pasar Amerika Serikat. Komoditas tersebut mencakup minyak sawit, rempah-rempah, kopi, kakao, karet, komponen elektronik dan semikonduktor, komponen pesawat, hingga tekstil dan produk apparel melalui skema Tariff Rate Quota (TRQ).
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam, Fary Djemy Francis, di Batam menyatakan kesepakatan ini tidak sekadar menyangkut penurunan tarif, melainkan menjadi momentum penting untuk mendorong transformasi struktur industri Batam ke arah manufaktur berteknologi tinggi.
“Ini adalah momentum strategis untuk mempercepat transformasi Batam sebagai simpul manufaktur berteknologi tinggi di kawasan,” katanya, Minggu (22/2/2026).
Menurut dia, akses pasar yang semakin kompetitif di Amerika Serikat akan memperkuat daya saing sektor unggulan Batam dan mendorong peningkatan kapasitas produksi perusahaan yang telah beroperasi di kawasan industri.
“Industri elektronik, semikonduktor, komponen pesawat, dan tekstil kini memiliki peluang ekspor yang lebih luas. Hal ini membuka ruang bagi ekspansi usaha serta masuknya investasi baru yang lebih berkualitas,” ujarnya.
Ia menambahkan, Batam berpotensi memperkokoh perannya dalam rantai pasok global, bukan hanya sebagai basis produksi, tetapi juga sebagai pusat operasional industri masa depan yang efisien dan terintegrasi.
BP Batam, lanjut Fary, optimistis dampak kebijakan tersebut akan tercermin pada pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan penyerapan tenaga kerja, serta penguatan struktur industri nasional. Pihaknya kini memfokuskan langkah pada kesiapan ekosistem investasi agar peluang tersebut segera terealisasi menjadi proyek nyata.
“Ini membuka ruang bagi peningkatan ekspor, ekspansi industri, serta masuknya investasi baru yang lebih berkualitas,” kata Fary.
Lanjut, selain mendorong ekspor, kesepakatan dagang itu juga mengatur impor sejumlah komoditas dari Amerika Serikat yang belum diproduksi di dalam negeri, seperti gandum dan kedelai.
Di bidang investasi, kerja sama diarahkan pada pengembangan mineral kritis, hilirisasi silika untuk kebutuhan semikonduktor, pemulihan lapangan minyak (oil field recovery), serta penjajakan pembangunan kawasan industri bersama Indonesia–Amerika.
“Kami memandang kebijakan ini sebagai peluang untuk memperkuat posisi Batam dalam rantai pasok global, bukan hanya sebagai lokasi produksi, tetapi sebagai platform eksekusi industri masa depan yang efisien, terintegrasi, dan berdaya saing tinggi,” ujarnya.
Data menunjukkan kebijakan ini berpotensi berdampak langsung pada sekitar 4 juta pekerja sektor tekstil dan memengaruhi sekitar 20 juta masyarakat Indonesia.
Skema tarif nol persen dinilai membantu menjaga stabilitas harga bahan baku, melindungi daya beli, dan menekan potensi inflasi, sehingga harga kebutuhan pokok seperti mi, tahu, dan tempe tetap terjangkau.
Perjanjian tersebut juga memuat mekanisme perlindungan nasional, termasuk pembentukan Council of Trade and Investment, forum penyelesaian sengketa jika terjadi lonjakan impor atau ekspor, serta ruang evaluasi bersama dengan tetap menghormati kedaulatan masing-masing negara.
Dengan peluang yang terbuka lebar, Batam kini bersiap memanfaatkan momentum untuk mempercepat lompatan sebagai simpul manufaktur berdaya saing global.
“Fokus kami adalah memastikan kesiapan ekosistem agar peluang ini dapat segera diterjemahkan menjadi realisasi investasi dan peningkatan ekspor yang berkelanjutan,” katanya.





