Bisnis.com, JAKARTA — Sejumlah bandara di Papua mulai beroperasi kembali setelah sempat ditutup demi keamanan, menyusul insiden penembakan pilot pesawat Smart Air di Koroway Batu pada 11 Februari 2026.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Lukman F. Laisa, menyampaikan bahwa per Minggu (22/2/2026), dua dari 11 lokasi yang ditutup berangsur dibuka kembali.
“Rute Nabire—Beoga kembali dilayani oleh Smart Air karena sudah ada satgas pengamanan di Beoga dan kondisi sudah dianggap kondusif untuk terbang ke sana,” ujarnya kepada Bisnis, Senin (23/2/2026).
Selain dari Nabire, rute Timika ke Beoga juga telah dilayani kembali oleh Asian One. Pada hari ini, Senin (23/2/2026), akan ada uji coba dengan penerbangan kargo di Lapangan Terbang Beoga di Papua Tengah.
Nantinya, jika uji coba tersebut terpantau kondusif, penerbangan penumpang akan dilayani kembali.
Lapangan Terbang Iwur juga telah melayani penerbangan charter yang dioperasikan oleh Associated Mission Aviation (AMA). Namun, saat ini belum ada rute perintis.
Baca Juga
- Kemenhub: Operator yang Hentikan Penerbangan Perintis di Papua Tak Disanksi
- Kemenhub Tunjuk Langsung Perusahaan Haji Isam untuk Selesaikan Pelabuhan Wanam Papua
- Kemenhub Tutup Sementara 11 Bandara dan Lapangan Terbang di Papua demi Keamanan
Sementara itu, untuk Koroway Batu —lokasi kejadian penembakan pilot dan co-pilot Smart Air— pemerintah telah memperkuat keamanan dengan menghadirkan sebanyak 100 personel TNI/Polri.
Meski demikian, layanan penerbangan tidak serta merta dibuka. Pemerintah perlu melakukan koordinasi terlebih dahulu dengan operator yang melayani satuan pelaksana Koroway Batu.
“Korwil Tanah Merah tengah melakukan koordinasi dengan operator penerbangan [Smart Air] dan aparat keamanan sebelum memutuskan untuk dapat melanjutkan kembali operasional penerbangan ke sana,” tambahnya.
Adapun, keamanan menjadi faktor penting dalam pelaksanaan penerbangan di wilayah-wilayah 3TP (Terpencil, Terdepan, Tertinggal, dan Perbatasan).
Sebelumnya, bos Susi Air, Susi Pudjiastuti, menyayangkan kejadian yang menimpa Smart Air. Pasalnya, bukan hanya kehilangan sumber daya manusia (SDM) yang menjaga konektivitas di Timur Indonesia, tetapi pesawat juga mengalami kerusakan.
“Tidak bisa lagi akomodir any error. It's very costly [biayanya sangat mahal]. Dari sisi pemerintah, harus mendukung upaya pengamanan, keamanan, dan segala kemudahan yang bisa diberikan kepada operator untuk bisa tetap melanjutkan penerbangannya dengan aman dan nyaman tentunya,” tuturnya kepada Bisnis, Jumat (20/2/2026).
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan terpaksa menghentikan sementara operasional penerbangan di 11 bandara/satuan pelaksana/lapangan terbang yang rawan keamanan di wilayah Papua per 16 Februari lalu.
Kegiatan operasional pada bandara-bandara tersebut akan dibuka kembali setelah mendapat pengamanan dari aparat TNI/Polri dan kondisi keamanan dinyatakan kondusif serta memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Kesebelas bandara/satuan pelaksana/lapangan terbang tersebut yakni: Satpel Koroway Batu, Bandara Bomakia, Satpel Yaniruma, Satpel Manggelum, Lapter Kapiraya, Lapter Iwur, Lapter Faowi, Lapter Dagai, Lapter Aboy, Lapter Teraplu, dan Lapter Beoga.





