Upaya mengatasi masalah kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, maupun stres yang moderat tidak melulu harus mengandalkan terapi psikologis. Beraktivitas fisik dengan tepat juga dapat memberikan manfaat sama seperti terapi psikologis.
Kesehan mental menjadi tantangan kesehatan global utama saat ini. Sekitar 280 juta orang di seluruh dunia mengalami depresi dan berkontribusi secara signifikan terhadap disabilitas.
Karena itu, pengobatan berbiaya rendah dan mudah diakses masyarakat terus diupayakan. Salah satunya dengan mempromosikan olahraga sebagai pilihan karena tidak hanya meningkatkan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental.
Analisis dari ilmuwan di Universitas Lancashire, Inggris, yang dipublikasikan di tinjuan Cochrane edisi Januari 2026, menunjukkan olahraga mengurangi gejala depresi yang moderat dibandingkan tanpa pengobatan. Jika dibandingkan terapi psikologis, olahraga menghasilkan perbaikan yang serupa.
Perbandingan dengan obat antidepresan juga menunjukkan efek yang sebanding. Namun, untuk ini bukti pendukungnya terbatas dan dianggap memiliki tingkat kepastian rendah.
“Temuan kami menunjukkan, olahraga menjadi pilihan aman dan mudah diakses untuk membantu mengelola gejala depresi. Jadi olahraga efektif bagi sebagian orang. Yang penting menemukan pendekatan individu dan mampu pertahankannya,” kata Profesor Andrew Clegg, peneliti di Applied Health Research hub, Universitas Lancashire.
Temuan kami menunjukkan, olahraga menjadi pilihan aman dan mudah diakses untuk membantu mengelola gejala depresi. Jadi olahraga efektif bagi sebagian orang. Yang penting menemukan pendekatan individu dan mampu pertahankannya.
Clegg mengatakan dari tinjauan ditemukan, aktivitas dengan intensitas ringan hingga sedang mungkin lebih bermanfaat daripada olahraga berat. Perbaikan yang lebih besar pada gejala depresi dikaitkan dengan penyelesaian antara 13 dan 36 sesi olahraga.
Ketika olahraga terbukti dapat membantu mengatasi masalah kesehatan yang moderat, peneliti mengkaji jenis olahraga yang efektif untuk meredakan gejala depresi dan kecemasan.
Dari publikasi secara daring di British Journal of Sports Medicine, tim peneliti dari Australia dan Amerika Serikat yang melakukan tinjauan skala besar mendapati, aktivitas kardio seperti berlari, berenang, dan menari sangat efektif meredakan gejala depresi dan kecemasan.
Agar mendapat manfaat besar bagi penderita depresi, olahraga kardio perlu dilakukan di bawah pengawasan atau dalam kelompok. Untuk mengatasi kecemasan, program olahraga yang dilakukan lebih singkat, hingga 8 minggu, dan melibatkan aktivitas dengan intensitas rendah mungkin paling bermanfaat.
“Secara keseluruhan, setiap jenis latihan yang diteliti menunjukkan hasil yang sama baiknya, atau bahkan lebih baik, daripada pengobatan dan terapi bicara. Efek ini terlihat tanpa memandang usia atau jenis kelamin,” kata Neil Richard Munro, peneliti dari James Cook University, Australia.
Munro memaparkan, depresi dan kecemasan memengaruhi sebanyak 1 dari 4 orang di seluruh dunia. Kelompok kaum muda dan perempuan mengalami tingkat tertinggi.
Menurut Munro, studi sebelumnya telah menunjukkan aktivitas fisik lebih efektif dibandingkan psikoterapi dan pengobatan untuk mengurangi gejala. Namun, belum sepenuhnya dipahami bagaimana olahraga bekerja di berbagai kelompok usia, tingkat intensitas, atau frekuensi.
Tim peneliti menelusuri basis data penelitian untuk analisis data gabungan dari uji coba terkontrol acak yang diterbitkan dalam bahasa Inggris hingga Juli 2025. Uji coba ini membandingkan program latihan terstruktur dengan aktivitas lain, plasebo, atau tanpa pengobatan aktif.
Studi yang memenuhi syarat melibatkan aktivitas fisik yang terencana, terstruktur, berulang, dan bertujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental. Semua jenis latihan disertakan, dengan berbagai intensitas, frekuensi, dan pengaturan (individu atau kelompok).
Semua format latihan dikaitkan dengan peningkatan kesehatan mental. Untuk depresi, aktivitas aerobik, terutama jika dilakukan di bawah pengawasan atau dalam kelompok, memberikan manfaat terbesar. Untuk kecemasan, program latihan aerobik, latihan beban, latihan pikiran-tubuh, dan latihan campuran masing-masing memiliki efek positif yang sedang.
"Meta analisis ini memberikan bukti kuat bahwa olahraga secara efektif mengurangi gejala depresi dan kecemasan di semua kelompok usia, setara dengan, atau bahkan melebihi, intervensi farmakologis atau psikologis tradisional," tegas Munro.
Samantha Teague dari Departmen Psikologi, James Cook University, Australia, menambahkan, format kelompok dan yang diawasi memberikan manfaat paling signifikan. Hal ini menekankan pentingnya faktor sosial dalam intervensi kesehatan mental.
“Dengan bukti bahwa karakteristik olahraga yang berbeda tampaknya memengaruhi depresi dan kecemasan dengan besaran yang bervariasi, program olahraga yang disesuaikan harus diresepkan," ujarnya.
Mengingat efektivitas biaya, aksesibilitas, dan manfaat kesehatan fisik tambahan dari olahraga, lanjut Teague, hasil ini menggarisbawahi potensi olahraga sebagai intervensi lini pertama. Hal ini penting untuk masyarakat di lingkungan dengan perawatan kesehatan mental tradisional yang kurang mudah diakses atau diterima.

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fphoto%2Fori%2F2022%2F06%2F25%2F7cfaa37d-4579-49a1-b3f5-ae5aa2db8fa3.jpg)



