Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.885 per Jumat, 20 Februari 2026. Posisi rupiah itu menguat 40 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.925 pada perdagangan Kamis, 19 Februari 2026.
Sementara perdagangan di pasar spot pada Senin, 23 Februari 2026 hingga pukul 09.06 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp 16.849 per dolar AS. Posisi itu menguat 39 poin atau 0,23 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.888 per dolar AS.
- pixabay.com/WonderfulBali
Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat (AS) resmi menyepakati dokumen perjanjian perdagangan resiprokal bertajuk Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance, Jumat ini. Perjanjian tersebut diteken langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump.
Dalam perjanjian itu, tertuang sejumlah komitmen kerja sama antara kedua negara yang melingkupi 11 nota kesepahaman (MoU), pembentukan dewan ekonomi permanen, penurunan tarif ribuan pos produk, hingga komitmen pembelian energi dan pesawat.
Penandatanganan dokumen utama bertajuk Implementation of the Agreement toward New Golden Age US–Indonesia Alliance dilakukan di Washington DC, menandai babak baru hubungan ekonomi dua negara yang selama ini ditopang perdagangan, investasi, dan kerja sama strategis Indo-Pasifik.
Perjanjian ini akan menjadi tonggak bersejarah dalam kemitraan RI-AS, memperkuat keamanan ekonomi, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta secara berkelanjutan berkontribusi terhadap kemakmuran global. Lebih jauh,
Prabowo dan Trump menginstruksikan jajaran menteri untuk segera menurunkan kesepakatan tersebut ke dalam kebijakan teknis dan regulasi pendukung agar implementasinya berdampak nyata terhadap perekonomian.
"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.880 - Rp16.910," ujarnya.
Sebagai informasi, risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) di bulan Januari, yang diterbitkan pada hari Rabu pekan lalu, menunjukkan nada yang hati-hati namun cenderung hawkish. Risalah tersebut memperkuat pandangan bahwa pemotongan suku bunga jangka pendek tidak mungkin terjadi. Hal itu membuat Dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah tetap stabil, menekan logam mulia yang tidak menghasilkan imbal hasil.




