FAJAR, SIDOARJO — PSIS Semarang menunjukkan wajah berbeda saat bertandang ke Stadion Gelora Delta, Minggu (22/2) malam. Bukan sekadar mencuri kemenangan, Laskar Mahesa Jenar tampil dengan karakter baru: efisien, sabar, dan matang secara mental.
Satu gol cukup untuk membawa pulang tiga poin. PSIS menundukkan tuan rumah Deltras FC Sidoarjo dengan skor tipis 1-0 pada pekan ke-20 Grup 2 Championship 2025/2026.
Gol tunggal kemenangan lahir dari kaki striker Rafinha pada menit ke-26 melalui eksekusi penalti yang gagal diantisipasi kiper Deltras, Panggih Sambodo.
Bagi PSIS, kemenangan ini terasa lebih dari sekadar tambahan angka di klasemen. Ini adalah pelunasan hutang lama.
Dalam dua pertemuan sebelumnya musim ini, PSIS selalu menjadi korban dominasi Deltras. Mereka kalah 0-2 di Sidoarjo pada 26 Oktober, lalu kembali dipermalukan 0-3 di Semarang pada 17 Januari.
Kali ini ceritanya berbeda.
Efisiensi Mengalahkan Dominasi
Secara statistik, pertandingan berjalan relatif seimbang. Data Flashscore menunjukkan penguasaan bola kedua tim identik di angka 50 persen.
Namun sepak bola tak selalu dimenangkan oleh tim yang lebih sering menyerang.
Deltras justru tampil lebih agresif dengan total 12 tembakan. Sayangnya, hanya lima yang tepat sasaran. Tingkat akurasi mereka berhenti di angka 41,6 persen — sebuah gambaran betapa peluang gagal dikonversi menjadi gol.
Sebaliknya, PSIS tampil jauh lebih klinis.
Dari enam percobaan serangan, lima di antaranya mengarah tepat ke gawang. Empat tembakan berstatus on target, menghasilkan tingkat akurasi impresif mencapai 80 persen.
Perbedaan efisiensi inilah yang menjadi pembeda utama laga.
PSIS tak membutuhkan banyak peluang untuk menentukan hasil.
Deltras Terjebak Tren Negatif
Bagi Deltras FC, kekalahan ini memperpanjang periode sulit di putaran ketiga. Pekan sebelumnya, The Lobster juga tumbang 1-3 dari PSS Sleman.
Dua kekalahan beruntun membuat laju mereka tertahan di posisi enam klasemen sementara Grup 2 dengan koleksi 33 poin dari 20 pertandingan.
Dominasi permainan yang tak berujung gol menjadi pekerjaan rumah terbesar. Intensitas menyerang tinggi belum diiringi ketajaman penyelesaian akhir.
PSIS dan Kebangkitan Mental
Di kubu PSIS, kemenangan ini terasa seperti titik balik psikologis. Setelah sebelumnya selalu kalah dari Deltras, kemenangan di Sidoarjo memberi suntikan kepercayaan diri besar bagi tim berjuluk Laskar Mahesa Jenar.
Tambahan tiga poin membuat PSIS kini mengoleksi 15 angka dari 20 pertandingan dan bertahan di posisi sembilan klasemen sementara.
Posisi tersebut memang belum ideal, tetapi kemenangan ini membuka celah optimisme menuju papan tengah — bahkan peluang merangsek lebih tinggi jika konsistensi mampu dijaga.
Yang paling terlihat bukan hanya hasil akhir, melainkan perubahan pendekatan bermain. PSIS tampil lebih disiplin, menunggu momentum, lalu menghukum lawan dengan efektif.
Karakter permainan seperti ini sering menjadi ciri tim yang mulai menemukan “mental juara”.
Modal Penting Menuju Fase Penentuan
Kompetisi kini memasuki fase yang semakin menentukan. Setiap poin memiliki nilai berlipat, terutama bagi tim yang sedang berusaha keluar dari tekanan klasemen.
Kemenangan di kandang Deltras menunjukkan PSIS memiliki fondasi baru: tidak harus dominan untuk menang, cukup cerdas membaca pertandingan.
Jika performa efisien ini mampu dipertahankan, Laskar Mahesa Jenar bukan hanya sekadar peserta kompetisi — tetapi kandidat kejutan di sisa musim Championship 2025/2026.
Dan di Gelora Delta, tanda-tanda kebangkitan itu mulai terlihat.





/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F23%2F1cc6d3d54176fb225a0edd6aebfd1ef4-FAK_7929.jpg)