Cegah Harga Daging  Melambung, Pemprov Jakarta Impor Sapi Australia 

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA,KOMPAS - Demi menjaga ketersediaan pasokan daging di Jakarta, pemerintah melalui Dharma Jaya mengimpor sapi langsung dari Australia. Hingga kini, ada 3.100 ekor yang sudah masuk ke Jakarta dari 7.500 ekor sapi dari kuota impor yang tersedia.

"Dengan adanya sapi dari Australia ini, saya meyakini bahwa kebutuhan daging terutama untuk di Jakarta mudah-mudahan betul-betul bisa terjaga," ujar Gubernur Jakarta Pramono Anung saat melihat kedatangan sapi impor di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (23/2/2026).

Dia mengatakan, impor sapi langsung dari Australia baru bisa dilakukan lagi setelah terakhir terjadi pada 28 tahun silam. "Karena sekarang kita baru dipercaya lagi untuk impor sapi," kata Pramono.  

Hal ini bisa terjadi karena adanya kerja sama dengan beberapa kota di Australia dengan skema sister city. "Dengan pasokan yang terjadi diharapkan tidak terjadi inflasi terutama di masa Ramadhan dan menjelang Idul Fitri," katanya.

Baca JugaHarga Beras di Jateng Lampaui HET, Pemerintah Siapkan Intervensi

Pramono menuturkan biasanya di dua momentum tersebut, Harga daging, cabai, riskan mengalami kenaikan Harga. "Namun saat ini, harga ketiga komoditas itu  tidak mengalami kenaikan yang signifikan," katanya.

Dia menjelaskan,untuk tahap awal ada 3.100 ekor sapi yang didatangkan dari Australia, namun batas kuota impor yang tersedia mencapai 7.500 ekor. "Jika memang masih ada kebutuhan, kita bisa repeat order (memesan kembali)," katanya.

Menurut Pramono, dengan datangnya kembali kepercayaan impor sapi ini dapat memberikan dampak yang baik bagi Jakarta agar kebutuhan daging di Jakarta bisa terpenuhi. "Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Namun sekarang kepercayaan itu sudah kita peroleh kembali," ucap Pramono.

Dia menyatakan pemerintah pusat sebenarnya telah menyiapkan pasokan sapi dari daerah dalam negeri, termasuk dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Namun, jumlahnya belum mencukupi kebutuhan konsumsi Jakarta. ”Karena itu, kita masih harus impor dari luar negeri. Kalau tidak, harganya daging pasti naik tinggi," katanya.

Baca JugaHarga Beras di Jakarta Tinggi, Program Pangan Murah Didorong

Direktur Utama Perumda Dharma Jaya Raditya Endra Budiman mengatakan, saat ini stok daging sapi yang tersedia mencapai 1.246 ton. Adapun masih ada sekitar 1.594 ekor sapi lagi yang ada di kandang dan dipersiapkan untuk kebutuhan Ramadhan.

"Direncanakan pada akhir Februari nanti akan ada 500 sampai 600 ekor sapi lagi yang akan didatangkan dari Australia," katanya.

Dengan impor ini diharapkan harga daging di pasar dapat terkendali. Raditya menjelaskan, kebutuhan daging di Jakarta tergolong besar. Dalam setahun, kebutuhan daging sapi mencapai sekitar 73.100 ton. Secara konsumsi per kapita, daging sapi berada pada kisaran 2,3 hingga 5 kilogram (kg) per orang per tahun.

Menurut Raditya, peningkatan kebutuhan daging biasanya akan meningkat menjelang dan selama Ramadan. "Walaupun masyarakat berpuasa, konsumsi daging justru cenderung naik, terutama dari sejumlah sektor usaha seperti hotel, restoran, dan kafe.

Upaya untuk mencegah melambungnya harga komoditas kebutuhan pokok pada masa Ramadhan dan Idul Fitri juga dilakukan oleh Satgas Pelanggaran Harga, Keamanan,dan Mutu Pangan Polda Metro Jaya. Tim ini juga terus memantau perkembangan harga pasar dan mengawasi para pedagang agar tidak menjual komoditas pokok di atas harga eceran tertinggi (HET) atau harga acuan pemerintah (HAP).

Bagi pedagang atau spekulan yang membandel akan direkomendasikan untuk dicabut izin usahanya. Hal ini disampaikan Kasubdit Indag Ditrekrimsus Polda Metro Jaya Ajun Komisaris Besar Muhammad Ardila Amry saat melakukan pengawasan di Pasar Koja Baru, Jakarta Utara (19/2/2026). Dia menargetkan pengawasan akan dilakukan setidaknya pada 46 pasar setiap harinya.

Langkah ini dijalankan agar tidak ada spekulan yang bermain untuk mengambil keuntungan secara berlebih pada momentum Ramadhan dan Lebaran. Jika dalam proses pengawasan ada pedagang yang menjual produk kebutuhan pokok di atas HET dan HAP akan mendapat teguran administrasi. Namun jika dalam satu minggu tidak ada perubahan bisa saja direkomendasikan untuk dicabut izin usahanya.

Ardila mengatakan, tidak ada alasan bagi spekulan untuk menaikan harga komoditas karena pasokan sejumlah kebutuhan pokok seperti beras dan minyak goreng di wilayah Jakarta dan sekitarnya terbilang aman.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KemenPPPA Kecam Ibu Tiri Diduga Aniaya Anak hingga Tewas: Keluarga Harus Jadi Tempat Aman
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
KPK Buka Peluang Panggil OSO Usai Menag Nasaruddin Beri Klarifikasi Soal Jet Pribadi
• 7 jam lalusuara.com
thumb
Gempa Hari Ini Magnitudo 7 di Kaltara
• 16 jam lalujpnn.com
thumb
Sidang Perdana Ujaran Kebencian, Resbob Diteriaki Pengunjung Saat Masuk Ruangan Persidangan
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Masuk Bali Tanpa Dokumen, Tujuh WN Bangladesh Ditangkap
• 16 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.