Rahayu Saraswati: Ketika perempuan bangkit, bangsa pun bangkit

antaranews.com
10 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Inisiator Saraswati Fellowship yang juga Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Rahayu Saraswati Djojohadikusumo menekankan pentingnya peran perempuan dalam berbagai lini kehidupan karena ketika perempuan bangkit, bangsa pun ikut bangkit.

"Karena ketika seorang perempuan menemukan jati dirinya, ia mengubah lebih dari sekadar hidupnya, ia mengubah generasi. Ketika perempuan bangkit, bangsa pun bangkit," ucap dia dalam bahasa Inggris saat menutup sambutannya pada wisuda Saraswati Fellowship Batch 1 di Museum Nasional, Jakarta, Minggu (22/2).

Sara, sapaan akrabnya, memandang bahwa Indonesia memiliki banyak perempuan dengan kapasitas mumpuni di bidangnya masing-masing. Namun, mereka belum tentu memiliki kesiapan dalam kepemimpinan yang mencakup kemampuan untuk menavigasi.

"Bahkan kadang, (perempuan) enggak punya petanya bagaimana untuk bisa mencapai the highest level of leadership (puncak kepemimpinan),” tuturnya.

Dalam tataran itu, Sara menyoroti keterbatasan akses perempuan untuk berkontribusi lebih aktif dalam kepemimpinan. Padahal, menurut dia, perlu lebih banyak perempuan di meja-meja pembuat kebijakan.

Ia menganalogikan bahwa perempuan tidak cukup hanya hadir dalam suatu ruangan, tetapi harus ikut di meja pengambilan keputusan.

"Kita tidak bisa mengambil keputusan atau membuat kebijakan yang bicara tentang equity and equality (keadilan dan kesetaraan), kalau tidak semua suara terwakilkan di meja itu," ujarnya.

Berkaca dari pengalamannya sebagai legislator di parlemen, Sara mengaku terbantu dengan peran perempuan.

"Kalau saya mau bicara dengan mereka yang ada di Komisi IV yang kaitannya dengan agriculture (agrikultur), it helps (itu membantu) kalau ada perempuan-perempuan yang paham apa yang dilalui oleh petani perempuan. Kalau saya bicara dengan rekan-rekan di Komisi IX, it helps kalau ada dokter-dokter perempuan yang duduk di situ," tuturnya.

Lebih dari itu, Sara meyakini keadilan dan kesetaraan gender akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Satu hal yang sebenarnya dibutuhkan kalau kita bicara 8 persen pertumbuhan ekonomi, hanya dari yang namanya gender equality and equity saja itu bisa drive (mendorong) 8 persen karena majority of those driving the economy on the grass root level (mayoritas penggerak perekonomian di tingkat akar rumput) itu perempuan," ucapnya.

Ia turut menekankan pentingnya ketangguhan karakter. Dalam konteks ini, ia menyoroti fenomena sindrom impostor di kalangan perempuan, yakni ketika wanita dengan talenta mumpuni meragukan dirinya sendiri.

"Kadang-kadang kita, perempuan-perempuan, hesitation to lead (ragu untuk memimpin). Sudah takut saja duluan, impostor syndrome. ‘Layak enggak, ya, ada di ruangan ini?’ … Your talent will get you there (bakatmu akan membawamu ke sana), tapi kalau you don't have the character to withstand the challenges that you face, you will fracture (jika kamu tidak memiliki karakter yang cukup kuat untuk menghadapi tantangan yang kamu hadapi, kamu akan runtuh)," katanya.

Dia mengakui akses maupun representasi perempuan belakangan ini sudah berkembang ke arah lebih baik. Hal ini, salah satunya, tampak dari persentase pendaftar ke perguruan tinggi yang mayoritasnya adalah perempuan.

Namun demikian, persoalannya, menurut Sara, ialah kurangnya dukungan untuk perempuan. Dia menyebut talenta tanpa dukungan hanya akan membuatnya memudar atau bahkan tersendat.

Oleh sebab itu, Sara, melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, menghadirkan Saraswati Fellowship yang selama tiga bulan terakhir telah membimbing 30 perempuan dengan beragam latar belakang dari berbagai daerah di Indonesia.

Para penerima fellowship itu diharapkan dapat lebih aktif terlibat dalam kepemimpinan di bidangnya masing-masing.

Baca juga: Saraswati Fellowship wisuda 30 perempuan usai dibimbing selama 3 bulan

Baca juga: DPR sebut Kampung Batik Okra contoh pembangunan ekonomi dari bawah


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Taktik Toyota di Tengah Mulai Surutnya FOMO Mobil Listrik: Genjot Produksi Mobil Hybrid hingga 2028
• 14 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Satu Energi, Satu Kepedulian: Posyandu Disabilitas UIT JBM dan Srikandi PLN Sambut Ramadan di Malang
• 3 jam lalurealita.co
thumb
Ini Rute dan Syarat Ikut Mudik Gratis Jasa Marga 2026
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Bukannya Bikin Kuat Puasa, Makan Sahur Porsi Jumbo Justru Bikin Lambung Menjerit, Begini Penjelasan Dokter
• 18 jam lalugrid.id
thumb
Remaja yang Cabuli 4 Anak di Tangsel Kerabat Korban, Kini Jadi Tersangka
• 1 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.