Mendung menggelayut di atas Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat pada Senin (23/2). Tapi itu tak menyurutkan semangat tiga perempuan paruh baya untuk mencari berkah Ramadan di Masjid Istiqlal.
Ketiga perempuan ini duduk berdampingan di area dalam masjid. Wajah mereka berseri saat kumparan menghampiri.
Salah seorang di antara mereka kemudian menjawab salam dari kumparan, lalu berbincang, hingga sampai menunjukkan tas yang mereka bawa.
Tas itu berisi mukena, pakaian ganti, dan bekal kecil untuk berbuka puasa. Tampak mereka siap menghabiskan hari di rumah ibadah ini.
Mereka adalah Nita (50), Ratu(55) dan Mely (61). Bagi mereka, Ramadan bukan sekadar bulan puasa, melainkan waktu untuk lebih dekat dengan masjid.
Mereka datang dari latar belakang berbeda, Padang, Sumbawa Besar, hingga Kalimantan. Namun kini dipertemukan oleh satu tujuan yang sama yakni, berburu berkah.
“Asal saya dari Padang, Sumatera Barat. Cuma saya memang menetap di sini, di Rawamangun,” ujar Nita.
Ia baru empat bulan kembali tinggal di Jakarta setelah sempat pulang kampung.
Ratu pun memiliki perjalanan panjang sebelum menetap di ibu kota.
“Nusa Tenggara Barat. Sumbawa Besar,” kata Ratu singkat.
Bagi mereka, datang ke masjid bukan sekadar kegiatan Ramadan tahunan. Ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Ibu kan tadi sudah ngomong, enggak bulan puasa aja di sini,” ungkap Ratu.
Nita mengangguk menguatkan. “He-eh, setiap hari di sini. Stay di sini.”
Masjid, bagi mereka, bukan sekadar tempat ibadah. Itu menjadi ruang sosial, ruang belajar, bahkan rumah kedua.
“Rumah. Rumah kedua. Kita ngikutin misalnya di sini ada acara apa, ini ceramah apa kita ikut jemaah. Pokoknya apa yang ada di masjid ngikutin itu,” ujar Ratu.
Dari tausiyah Subuh hingga kegiatan sore, hari-hari mereka diisi dengan agenda masjid yang silih berganti.
Pilihan mereka berkegiatan di Istiqlal pun bukan tanpa alasan. Ada rasa Dan keinginan untuk mencari pengalaman spiritual yang berbeda.
“Ibu pengin sensasi Istiqlal. Jadi ibaratnya berburu gitu lho, Mbak. Berburu bukan berkatnya, berkahnya,” tutur Nita.
Sementara bagi Ratu, alasan itu lebih sederhana, namun dalam.
“Pertama Istiqlal itu masjid negara kita. Bagi saya sih berkah, masjid punya karomah lah bagi saya. Enggak tahu memang merasa enak nyaman aja,” kata Ratu.
Ia mengaku telah mendatangi banyak masjid, namun tetap kembali ke Istiqlal.
“Banyak-banyak ke mana-mana, tapi nyaman ya di sini,” ujar Ratu.
Baginya, tujuan datang bukan mengejar dunia. “Kita pengennya akhirat kita kejar, tapi dunia ikut gitu.”
Jika Ratu melihat Istiqlal sebagai tempat kenyamanan spiritual, bagi Hajjah Mely masjid ini adalah tempat belajar seumur hidup.
“Ibu tuh jadi jemaah Istiqlal tuh dari tahun 89,” ujarnya dengan bangga.
“Ibu tuh cinta dengan Istiqlal itu ilmunya banyak. Ibu pintarnya tuh di Istiqlal,” kata Mely.
Ia menyebut masjid ini sebagai “gudang ilmu”, tempat ia belajar fikih, tasawuf, dan tafsir dari berbagai ulama.
“Ibu senang mengejar itu, menggali ilmu di situ,”
Ia bahkan mengingat ulama di masjid Istiqlal sebagai guru-gurunya dengan penuh hormat.
“Guru Ibu tuh Ali Mustafa, Profesor Ali Mustafa sama beliau,” Ungkap Mely.
Kecintaannya pada masjid begitu besar hingga ia rela membawa koper demi bisa ikut salat Subuh berjemaah.
“Ibu bawa baju, bawa koper. Saking cintanya dengan Istiqlal itu.”
Di antara canda mereka, Nita menyebut istilah yang membuat semua tertawa.
“Ibu-ibu ini sudah lansmar namanya lansia masjid… lansia masjid bukan remaja masjid,” kelakar Nita.
Istilah itu mereka pakai dengan bangga, bukan sebagai penanda usia, tetapi kedekatan mereka dengan rumah ibadah.
“Untuk usia lanjut apa sih lagi Mbak yang mau dicari… gimana kita pulang, dalam keadaan mudah-mudahan kita ini di masjid ini perginya pulang dijemputnya. Kebiasaan gitu,” kata Nita lirih.
Kalimat itu seperti menegaskan bahwa Ramadan bagi mereka bukan sekadar ritual tahunan, melainkan bagian dari persiapan pulang pulang dalam makna yang lebih dalam.
Aktivitas mereka di masjid berlangsung sepanjang hari menunggu tausiyah, salat berjemaah, hingga waktu berbuka puasa.
Ratu mengungkap, Istiqlal menjadi salah satu masjid favorit yang dikunjungi warga saat Ramadan tiba.
“Apalagi malam ganjil jangan tanya, sampai lantai 5 manusia tuh pasti penuh,” kata Ratu.
Namun di balik padatnya aktivitas itu, mereka tetap menikmati setiap detik ibadah.
“Dinikmati aja hidup ini dengan tenang,” ujarnya.
Di akhir percakapan, pesan mereka tak banyak untuk orang-orang yang belum berekeinginan datang ke masjid.
“Semoga dikasih hidayah sama Allah… kalau memang tergerak hatinya datang ke masjid itu kan kita ramaikan masjid lebih enak,” kata Ratu.
Bagi mereka, Ramadan bukan tentang seberapa lama berada di masjid, melainkan seberapa dalam niat yang dibawa.
Di usia yang tak lagi muda, mereka masih setia datang, membawa harapan, doa, dan keyakinan bahwa setiap langkah menuju masjid adalah bagian dari perjalanan pulang.





