EtIndonesia. Pada 21 Februari 2026, sejumlah media internasional, termasuk Axios, melaporkan bahwa Gedung Putih tengah secara serius mempertimbangkan opsi tekanan paling keras terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, serta putranya, Mojtaba Khamenei.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa opsi itu diajukan sebagai bagian dari strategi “tekanan maksimal” untuk memaksa Teheran melunak dalam perundingan nuklir yang kembali menemui jalan buntu. Bahkan, dalam skenario ekstrem, langkah tersebut disebut-sebut membuka kemungkinan perubahan rezim.
Menurut Axios, proposal itu telah disampaikan kepada Presiden Donald Trump beberapa minggu sebelum 21 Februari. Namun hingga tanggal tersebut, belum ada konfirmasi resmi apakah presiden akan menyetujui opsi tersebut.
Seorang wakil juru bicara Gedung Putih menyatakan bahwa hanya presiden yang mengetahui keputusan final, sementara proses konsultasi keamanan nasional masih berlangsung.
Dua Jalur Strategis: Kompromi Nuklir atau Opsi Militer
Di tengah kebuntuan negosiasi, Gedung Putih dikabarkan mempertimbangkan dua jalur utama:
- Kompromi terbatas: Mengizinkan Iran melakukan pengayaan uranium dalam batas tertentu sebagai konsesi simbolis, guna membuka ruang kesepakatan diplomatik baru.
- Opsi militer langsung: Menargetkan pucuk kepemimpinan sebagai langkah penekan yang paling drastis.
Dalam beberapa pernyataan publik sepanjang pertengahan Februari 2026, Trump berulang kali memperingatkan bahwa Iran memiliki waktu 10–15 hari untuk mencapai kesepakatan yang “bermakna dan dapat diverifikasi.” Jika tidak, ia menegaskan bahwa konsekuensi serius akan menyusul.
Peringatan ini memperkuat persepsi bahwa Washington tengah mempersiapkan skenario eskalasi cepat jika diplomasi gagal.
Israel Gempur Hizbullah di Lebanon
Sementara itu, dinamika di lapangan turut memperkeruh situasi.
Pada malam 20 Februari 2026, Angkatan Udara Israel melancarkan serangan presisi terhadap sejumlah target Hizbullah di wilayah Lembah Bekaa, Lebanon timur.
Pada 21 Februari 2026, militer Israel mengonfirmasi bahwa beberapa komandan senior Hizbullah tewas dalam operasi tersebut. Informasi yang beredar di media sosial menyebut delapan pimpinan utama unit rudal gugur ketika tengah menggelar rapat membahas rencana balasan terhadap Israel.
Jika informasi ini terverifikasi, serangan tersebut dinilai memukul rantai komando dan untuk sementara melemahkan ancaman roket dari Lebanon selatan terhadap wilayah Israel utara.
Gejolak Domestik di Teheran
Tekanan terhadap Iran tidak hanya datang dari luar negeri. Pada 21 Februari 2026, demonstrasi mahasiswa pecah di sejumlah kampus, termasuk Amir Kabir University of Technology di Teheran.
Para mahasiswa meneriakkan slogan anti-korupsi serta menuntut perubahan politik. Video aksi tersebut dengan cepat menyebar melalui platform media sosial internasional, memperlihatkan meningkatnya ketidakpuasan generasi muda terhadap situasi ekonomi dan tata kelola pemerintahan.
Demonstrasi ini terjadi di tengah tekanan ekonomi berat akibat sanksi dan ketidakpastian geopolitik, sehingga memperbesar tekanan domestik terhadap kepemimpinan Iran.
Pengerahan Militer AS Mendekati Skala Perang Irak 2003
Di sisi militer, Amerika Serikat menunjukkan peningkatan kekuatan secara signifikan.
Kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln dilaporkan berada di Laut Arab, sementara USS Gerald R. Ford ditempatkan di Laut Mediterania timur.
Lebih dari 100 jet tempur—termasuk F-15, F-22, dan F-35—telah digeser dari pangkalan domestik Amerika dan Eropa ke kawasan Timur Tengah. Pengerahan ini didukung pesawat tanker, pesawat pengintai, serta armada angkut militer.
Total personel AS di kawasan kini dilaporkan melampaui 50.000 orang, dengan lebih dari 12 kapal perang aktif di wilayah operasi. Beberapa analis militer menyebut skala ini mendekati—bahkan dalam aspek tertentu melampaui—pengerahan menjelang invasi Irak tahun 2003.
Sejumlah pejabat keamanan nasional disebut telah memberi tahu presiden bahwa militer siap melaksanakan operasi dalam waktu singkat apabila diperintahkan.
Strategi Tekanan Berlapis dan Risiko Eskalasi Regional
Para analis menilai strategi Washington saat ini memadukan tiga elemen utama:
- Melemahkan proksi regional Iran (Hizbullah, Hamas, dan jaringan milisi lain),
- Menekan melalui ancaman militer langsung,
- Membuka opsi yang menyasar inti kekuasaan di Teheran.
Namun, risiko yang menyertai pendekatan ini sangat besar. Kesalahan kalkulasi kecil dapat memicu konflik regional luas yang melibatkan Israel, Iran, Hizbullah, Hamas, bahkan menarik sekutu Barat dan kekuatan global lain ke dalam pusaran perang.
Per 21 Februari 2026, kawasan Timur Tengah berada dalam situasi yang sangat rapuh. Diplomasi masih berjalan, tetapi pengerahan militer dan dinamika lapangan menunjukkan bahwa jendela kompromi semakin menyempit.
Apakah tekanan maksimal akan menghasilkan kesepakatan, atau justru menjadi percikan yang menyalakan konflik besar berikutnya? Dalam hitungan hari ke depan, arah sejarah kawasan ini bisa berubah secara dramatis.





