Grid.ID - Kasus tragis menimpa seorang bocah 12 tahun di Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, Sukabumi, Jawa Barat. Bocah berinisial NS itu meninggal dunia pada Kamis (19/2/2026) setelah diduga dianiaya ibu tirinya, TR (47).
Korban meninggal dunia setelah sempat dirawat di RSUD Jampangkulon. Tubuh korban dipenuhi luka bakar, lebam, dan kulit melepuh.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, korban sempat mengaku kepada ayahnya bahwa ia disiksa. Bahkan ia disuruh minum air panas oleh ibu tirinya.
NS pun akhirnya meninggal dunia setelah diduga dianiaya ibu tirinya. Pelaku, TR, membantah melakukan penganiayaan tersebut.
Mengutip Wartakotalive.com, kematian NS (12), bocah asal Sukabumi meninggalkan duka mendalam. NS meninggal dunia di RSUD Jampangkulon pada Kamis (19/2/2026) sore diduga karena mengalami luka di bagian dalam tubuhnya akibat meminum air mendidih. Tubuhnya, dikabarkan sampai melepuh.
Sosok ibu tiri berinisial TR (46) mencuat usai kematian NS. Perempuan itu diduga melakukan kekerasan hingga menyebabkan meninggalnya NS.
NS diduga meninggal akibat dipaksa meminum air mendidih hingga tubuhnya melepuh. Sebelum wafat, bocah malang ini dikabarkan sempat memberi kesaksian kepada petugas medis bahwa dirinya disiksa oleh ibu tirinya. Namun, TR muncul dengan bantahan keras pada Sabtu (21/2/2026), mengaku tak pernah melakukan penganiayaan terhadap anak tirinya itu.
"Terkait penyiraman itu tidak benar dan tidak ada. Kalaupun ada kulit yang melepuh, itu faktor dari panas dalam," ujar TR membela diri.
"Tidak ada yang namanya penyiraman air panas ataupun minum air panas, tidak pernah ada. Saya tidak kejam seperti yang dituduhkan netizen," sambungnya. Ia mengklaim bahwa luka-luka di tubuh NS adalah dampak dari penyakit kronis yang sudah lama diderita korban.
"Anak meninggal karena sakit kanker darah leukemia dan autoimun. Jadi kulit melepuh itu karena faktor panas dalam," bebernya.
Sementara itu, melansir Tribunnewsbogor.com, kekerasan ini sebenarnya sudah sampai ke ranah hukum setahun silam. Anwar pernah melaporkan istrinya ke Polres Sukabumi setelah melihat tubuh NS babak belur dihantam benda tumpul akibat bertengkar dengan si anak angkat.
Baca Juga: Kebohongan Terbongkar! Begini Pengakuan Ibu Tiri yang Paksa Anak 12 Tahun Minum Air Mendidih hingga Tewas, Sebut Korban Demam Tinggi
"Pas kejadian penganiayaan yang saya laporkan setahun lalu itu gara-gara berantem sama anak itu (anak angkat). Saksi waktu itu Kanit Riki. Kita buka baju anak saya, saya sampai menangis lihatnya," ungkap Anwar.
Nahas, laporan tersebut tidak berlanjut ke meja hijau. Atas campur tangan tokoh masyarakat, Anwar luluh setelah sang istri bersimpuh memohon ampun agar tidak dipenjara.
"Dia sampai sujud ke saya, minta jangan dilaporkan. Katanya Mama mau tobat dan berperilaku baik. Akhirnya terjadi perdamaian," tuturnya. Namun, perdamaian itu rupanya menjadi awal dari bencana yang lebih besar bagi NS.
Di sisi lain, kembali melansir Wartakotalive.com, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Setukpa Polri, Kombes Pol dr Carles Siagian, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan autopsi atas permintaan Polres Kabupaten Sukabumi. Hasil pemeriksaan tim dokter forensik justru menemukan fakta yang kontras dengan klaim penyakit korban.
“Memang hasil sementara yang bisa saya sampaikan terdapat luka bakar di sekujur tubuh korban. Ekstremitas di lengan, di paha, di perut. Kemudian ada luka tumpul juga di bagian bibir dan hidung pasien,” ungkap dr. Carles, Sabtu (21/2/2026).
Meski ditemukan banyak luka, tim dokter belum bisa memastikan apakah luka tersebut yang menjadi penyebab utama kematian NS. dr. Carles menyebut luka-luka luar itu tidak bersifat mematikan, namun ada kecurigaan pada kondisi organ dalam korban.
“Mengenai penyebab memang kami belum bisa tentukan karena luka-luka tersebut yang kami sebutkan memang tidak menyebabkan kematian. Tapi kami melakukan pemeriksaan mendalam mengambil beberapa sampel dari organ-organ dalam dan mengirimkannya dan kami sedang menunggu hasil dari Jakarta,” ucapnya lagi. dr. Carles mencatat bahwa secara fisik, Nizam tampak seperti anak yang terurus dengan baik.
“Sekedar informasi, anak ini dalam kondisi fisik yang cukup baik artinya terawat, tidak kurus, rambut baik terawat. Tetapi ada luka-luka di sekujur tubuhnya,” imbuh Carles. Kini, tim medis tengah meneliti apakah keanehan pada organ dalam tersebut murni karena penyakit atau dampak penganiayaan.
“Dari organ-organ dalam memang ada kecurigaan, tetapi kami belum bisa menentukan apakah ini karena sebuah penganiayaan. Ada beberapa kondisi juga yang menyebabkan organ dalam mengalami perubahan, salah satunya adalah penyakit,” sambungnya.
NS (12) meninggal dunia setelah diduga dianiaya oleh ibu tirinya, TR (47). Hasil autopsi menemukan adanya sejumlah luka bakar di lengan, kaki, punggung, bibir, hidung, serta adanya pembengkakan pada organ dalam. Kasus ini pun telah disorot oleh Polres Sukabumi. (*)
Artikel Asli




