EtIndonesia. Teheran, 21 Februari — Situasi politik dan keamanan Iran kembali memanas. Pada Sabtu, 21 Februari, ribuan warga turun ke jalan di ibu kota Teheran, memadati Jalan Vali Asr—salah satu arteri utama dan pusat komersial kota. Rekaman dari lokasi menunjukkan suasana yang riuh dan tegang, dengan massa memenuhi jalan raya dan sebagian demonstran mulai mendirikan barikade darurat.
Aksi ini bertepatan dengan peringatan 40 hari sejak insiden berdarah dalam gelombang protes Januari lalu. Dalam tradisi Iran, peringatan hari ke-40 setelah wafatnya seseorang memiliki makna budaya dan religius yang kuat. Momentum ini kerap menjadi titik konsolidasi emosi publik—dan tahun ini berubah menjadi pemicu kembalinya demonstrasi besar.
Mahasiswa di Garis Depan
Berbeda dengan protes Januari, kali ini mahasiswa dan kaum muda tampil sebagai kekuatan utama.
Di Universitas Teknologi Sharif, ribuan mahasiswa berbaris sambil meneriakkan slogan seperti “Kematian bagi Khamenei” dan “Kebebasan.” Beberapa rekaman juga memperlihatkan mahasiswa menyerukan perubahan rezim, bahkan ada yang secara terbuka meminta campur tangan internasional.
Milisi Basij tampak dikerahkan di sekitar kampus. Meski menghadapi intimidasi, mahasiswa tetap bertahan. Banyak di antara mereka masih mengenakan ransel, seolah langsung bergabung dari ruang kuliah ke barisan aksi.
Slogan lain yang terdengar di sejumlah titik adalah “Hidup Raja!”—sebuah seruan yang merujuk pada nostalgia terhadap sistem monarki sebelum Revolusi Islam 1979. Di dalam kampus, sekelompok pemuda menyerukan kejatuhan “tiga kelompok korup”: kaum mullah, kelompok kiri, dan organisasi Mujahidin.
Bentrok sempat terjadi di sekitar kawasan yang dikenal sebagai bekas Universitas Teknologi Aryamehr di Teheran. Rekaman memperlihatkan dua kubu saling berhadapan: mahasiswa yang membawa foto rekan mereka yang tewas Januari lalu, dan kelompok pendukung pemerintah. Sejumlah orang berupaya memisahkan kedua pihak guna mencegah eskalasi lebih jauh.
Protes Meluas ke Berbagai Kota
Gelombang aksi tidak terbatas di Teheran. Di Abdanan, Provinsi Fars, Najafabad (Provinsi Isfahan), dan sejumlah kota lain, warga juga menggelar peringatan 40 hari bagi korban Januari.
Di Najafabad, suasana malam dipenuhi cahaya ponsel yang digoyangkan di udara, menciptakan pemandangan menyerupai bintang-bintang di langit gelap. Massa mengangkat foto keluarga dan sahabat yang tewas, sembari meneriakkan slogan anti-pemerintah.
Aksi solidaritas juga berlangsung di luar negeri. Di Frankfurt, Jerman, diaspora Iran turun ke jalan membawa bendera singa dan matahari—simbol monarki Iran—serta mengibarkan bendera Israel dan Amerika Serikat. Sebagian peserta menyerukan agar komunitas internasional segera bertindak.
Israel Perkuat Serangan terhadap Proksi Iran
Di tengah ketegangan domestik Iran, dinamika regional juga meningkat. Pada 21 Februari, laporan menyebutkan serangan udara Israel di Lebanon menewaskan 18 pemimpin senior Hizbullah. Dalam beberapa pekan terakhir, Israel memang meningkatkan tekanan terhadap basis dan pimpinan Hizbullah.
Analis menilai langkah ini merupakan upaya melemahkan proksi Iran sebelum kemungkinan konflik terbuka dengan Teheran. Jika perang langsung terjadi, kelompok seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman diperkirakan akan melancarkan serangan balasan terhadap Israel.
Trump Pertimbangkan Opsi Militer Terbatas
Sehari sebelumnya, 20 Februari, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyatakan dalam konferensi pers bahwa dia tengah mempertimbangkan opsi serangan terbatas terhadap Iran. Pernyataan ini muncul di tengah laporan peningkatan konsentrasi militer AS di kawasan.
Dalam beberapa hari terakhir, pesawat militer AS dilaporkan lepas landas dari Inggris, melintasi Jerman, Rumania, dan Yunani sebelum tiba di Timur Tengah. Tujuan utama penerbangan tersebut adalah Yordania, Israel, dan Arab Saudi. Pesawat angkut membawa peralatan berat dan amunisi untuk memperkuat kesiapan operasional.
Pergeseran Pangkalan dan Konsentrasi Kekuatan
Kebijakan diplomatik turut memengaruhi strategi militer. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer mengumumkan pembatasan penggunaan pangkalan Inggris untuk menyerang Iran. Akibatnya, AS memindahkan lebih banyak aset ke Yunani, khususnya Teluk Souda di Pulau Kreta.
Rekaman memperlihatkan kehadiran pesawat A-10, C-17, dan F-35 dalam jumlah signifikan. Pangkalan di Kepulauan Azores, Portugal, juga menjadi titik transit penting dengan belasan pesawat tanker KC-46, F-16, dan C-17 terlihat mendarat dan lepas landas menuju Timur Tengah.
Sementara itu, Pangkalan Udara Muwaffaq di Yordania kini menjadi fokus utama. Citra satelit menunjukkan lebih dari 60 pesawat tempur dan 68 pesawat tanker serta angkut ditempatkan di sana.
Di laut, kapal induk USS Abraham Lincoln berada di Laut Arab, sementara USS Gerald R. Ford dilaporkan tengah menuju kawasan. Lebih dari 20 sistem pertahanan udara—termasuk Patriot dan THAAD—telah ditempatkan untuk melindungi pangkalan utama.
Pesawat F-22 juga telah lepas landas dari Pangkalan Udara Langley, Virginia, menuju Inggris dan diperkirakan akan diteruskan ke Timur Tengah.
Titik Didih yang Menunggu Pemicu
Dengan gelombang protes domestik yang kembali membara dan pengerahan militer besar-besaran oleh Amerika Serikat serta kesiapan Israel menghadapi eskalasi, kawasan Timur Tengah kini berada dalam situasi yang sangat sensitif.
Sejumlah analis menyebut kondisi ini sebagai fase “semua sudah siap, tinggal menunggu pemicu.” Jika diplomasi gagal meredakan ketegangan, konfrontasi antara Washington dan Teheran berpotensi memasuki babak baru yang lebih luas dan lebih berbahaya.
Perkembangan dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu arah krisis ini—apakah kembali ke meja perundingan, atau melangkah menuju konflik terbuka.





