Gunung Es Terbesar di Dunia Segera Mencair, Warna Biru Terakhirnya Mengundang Keprihatinan

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

Gunung es raksasa A-23a di Antartika sedang selangkah demi selangkah menuju akhir perjalanannya. Gunung es kolosal yang telah mengapung selama 40 tahun ini baru-baru ini menunjukkan tanda-tanda keretakan yang jelas. Para ilmuwan menilai, kemungkinan besar ia tak akan bertahan melewati musim panas Belahan Bumi Selatan tahun ini.

EtIndonesia. Gunung es A-23a terlepas dari lapisan es Antartika pada tahun 1986. Saat itu, luasnya hampir 4.000 kilometer persegi, hampir dua kali luas negara bagian Rhode Island, AS, sehingga dijuluki sebagai “benua es” yang mengapung di laut.

Namun, perjalanannya tidak mulus. Setelah terpisah, A-23a lama terdampar di Laut Weddell (Laut Weddell), bertahan di tempat yang sama selama lebih dari 30 tahun. 

Baru pada 2020 ia mulai bergerak perlahan ke utara. Pada musim semi 2024, gunung es ini kembali terjebak pusaran arus di dekat Kepulauan Orkney Selatan, berputar di lokasi yang sama selama beberapa bulan sebelum melanjutkan perjalanan ke utara.

Data satelit terbaru menunjukkan bahwa A-23a kini mengapung di Samudra Atlantik Selatan, di antara ujung timur Amerika Selatan dan Pulau Georgia Selatan. Pada akhir Desember lalu, citra satelit NASA memperlihatkan hamparan luas air lelehan berwarna biru di permukaan gunung es. Air lelehan ini berkumpul di celah-celah es; seiring bertambahnya bobot, celah makin melebar dan mempercepat proses pecahnya gunung es.

U.S. National Ice Center menyatakan bahwa setelah beberapa peristiwa patahan besar, terutama saat memasuki perairan yang relatif lebih hangat, luas A-23a menyusut dengan cepat. Hingga awal Januari tahun ini, luasnya tinggal sekitar 1.182 kilometer persegi. Meski jauh lebih kecil dari sebelumnya, A-23a masih merupakan gunung es terbesar di lautan saat ini, bahkan lebih luas dari Kota New York.

Para ilmuwan mengatakan, semua tanda ini menunjukkan bahwa gunung es raksasa tersebut mungkin akan sepenuhnya runtuh dalam hitungan hari atau minggu, dan mengakhiri perjalanan 40 tahunnya sebelum musim panas Belahan Bumi Selatan berakhir.

Bagi para ilmuwan yang telah lama memantau A-23a, kepergiannya terasa menyedihkan.
Ilmuwan pensiunan dari Universitas Maryland, Chris Shuman, mengungkapkan, “Saya sangat bersyukur kita memiliki sumber daya satelit yang memungkinkan kita memantau dan mendokumentasikan evolusinya secara begitu rinci.”

Meski gunung es pada akhirnya akan lenyap, perjalanan panjang dan berliku A-23a tetap meninggalkan halaman penting bagi pemahaman manusia tentang wilayah kutub dan perubahan iklim.

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Riuh Penolakan Rencana Impor 105.000 Pikap India
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Laporan Keuangan Disclaimer, Emiten Afiliasi Kaesang (PMMP) Beri Penjelasan
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
AS Beri Tarif Nol Persen untuk Tekstil Indonesia, Ini Respons APSyFI
• 13 jam laluidxchannel.com
thumb
Kapolri Perintahkan Brimob Penganiaya Diusut Etik & Pidana: Tegakkan Keadilan bagi Korban
• 20 jam laludetik.com
thumb
Manfaat Rutin Makan Yogurt untuk Kesehatan
• 14 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.