REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Ramadhan selalu menghadirkan kembali ingatan umat kepada sosok Nabi Muhammad ﷺ sebagai pusat keteladanan. Alquran menegaskan dalam QS. Al-Ahzab ayat 21, “Laqad kāna lakum fī rasūlillāhi uswatun ḥasanah…”, sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik.
Ayat ini bukan sekadar pujian, melainkan penegasan ilahiah bahwa jalan hidup beliau adalah kompas bagi siapa pun yang merindukan Allah dan hari akhir. Dalam suasana Ramadhan, teladan itu terasa semakin nyata: pada kesederhanaan sahur, kekhusyukan qiyam, dan kelembutan dalam memperlakukan sesama.
- Ungkap Penyebab Sopir Transjakarta Tertidur saat Mengemudi, Pramono: Bekerja Dua Hari
- Jadwal Buka Puasa hari ini 23 Februari 2026 di Surabaya
- Bansos Rp15 Triliun Strategi Pemerintah Amankan Dapur Rakyat
Kemuliaan pribadi Rasulullah ditegaskan pula dalam QS. Al-Qalam ayat 4, “Wa innaka la‘alā khuluqin ‘aẓīm”, sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung. Penegasan berlapis dalam ayat ini menunjukkan bahwa akhlak Nabi bukan sekadar keutamaan moral, melainkan fondasi peradaban.
Ramadhan, dengan puasa yang menahan lapar dan dahaga, sesungguhnya adalah madrasah akhlak. Dari sanalah kesabaran, empati, dan kejujuran tumbuh, meniru budi pekerti Rasul yang agung.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Alquran juga menempatkan Nabi Muhammad ﷺ sebagai rahmat universal. Dalam QS. Al-Anbiya ayat 107 ditegaskan, “Wa mā arsalnāka illā raḥmatan lil-‘ālamīn.” Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Kata “al-‘ālamīn” merangkum keluasan misi beliau, melintasi batas suku, bangsa, dan zaman. Di bulan Ramadhan, nilai rahmat itu menemukan panggungnya: tangan-tangan yang berbagi, doa-doa yang mengalir bagi sesama, serta hati yang belajar memaafkan.
Identitas kerasulan Nabi ditegaskan kembali dalam QS. Al-Fath ayat 29: “Muḥammadur rasūlullāh…” Muhammad adalah utusan Allah. Ayat ini menggambarkan komunitas beliau sebagai sosok-sosok yang tegas terhadap kezaliman namun penuh kasih di antara mereka, serta tekun rukuk dan sujud mencari ridha-Nya. Gambaran itu seakan hidup dalam malam-malam Ramadhan, ketika saf-saf shalat tarawih memanjang dan doa-doa terangkat dalam hening yang syahdu.
Sementara itu, QS. Al-Ahzab ayat 40 menegaskan posisi beliau sebagai “khātam an-nabiyyīn”—penutup para nabi. Risalah yang dibawanya adalah penegasan akhir dari rangkaian kenabian, dan Alquran menjadi mukjizat yang terjaga sepanjang zaman.




