Nelangsa Warga Jembatan Besi, Air PAM Mati Sebulan Imbas Pekerjaan Proyek

kompas.com
11 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Warga RW 03 Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Barat, mengalami krisis air bersih akibat terhentinya layanan air PAM di permukiman mereka selama satu bulan terakhir.

Krisis ketersediaan air bersih ini dialami warga di Jalan Jembatan Besi II, khususnya di RT 06, RT 07, dan RT 09 RW 03.

Akibatnya, warga kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari dan terpaksa mencari sumber air alternatif dengan biaya yang jauh lebih mahal.

Mati Sejak Januari

Eca (28), salah satu warga RT 09, menyampaikan bahwa gangguan suplai air sudah dirasakan warga selama hampir satu bulan sejak akhir Januari 2026 lalu.

Baca juga: Malapetaka di Jalur Langit, 2 Bus Transjakarta Adu Banteng karena Sopir Tertidur

Ia mengaku mendapat informasi layanan PAM akan mati melalui media sosial dan pesan WhatsApp resmi.

"Jadi dari Januari itu memang sudah ada proyek galian dan memang diinfokan ada masalah. Terdapat perbaikan galian di Jalan Dr. Makaliwe pada 28-29 Januari 2026," ucap Eca saat ditemui Kompas.com di lokasi, Senin (23/2/2026).

Pada saat itu. proyek galian berskala besar untuk pembangunan Flyover Latumeten yang letaknya tak jauh dari Jembatan Besi sudah mulai beroperasi.

Air disebut sempat menyala dua hari usai perbaikan tersebut, tetapi kembali mati total pada 2 Februari 2026.

Pihak PAM Jaya kemudian menjanjikan perbaikan pipa lanjutan pada 12-13 Februari 2026. Namun, perbaikan itu tak membuahkan hasil yang memuaskan bagi warga.

"Setelah itu suplai air kembali sekitar tanggal 14-17 Februari (2026). Namun, sama saja, hanya pada dini hari, dan itu pun 20-30 menit kemudian berhenti. Nah, setelah 18 Februari (2026), air mati total hingga per hari ini," keluh Eca.

Habiskan Rp 50.000 per Hari

Matinya aliran air PAM membuat warga harus memutar otak dan merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Eca menyebut warga terpaksa membeli air dari pedagang air keliling setiap harinya.

"Kisaran harga Rp 50.000 per gerobak. Ini pun cuma cukup untuk suplai air satu hari, atau dua hari jika dihemat sebisa mungkin," kata dia.

Baca juga: Buka-Bukaan BPJPH soal Isu Produk AS Masuk Tanpa Sertifikat Halal

Kesulitan serupa dirasakan oleh Harijani (65), warga RT 07 RW 03, yang terpaksa menyambung selang dan meminta air dari musala terdekat karena keran di rumahnya kering selama berminggu-minggu.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

"Kondisinya air hari ini mati sama sekali, enggak jalan. Jadi untungna ada air musala, jadi nyelang tiap hari," ujar Harijani kepada Kompas.com, Senin.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wings Group Bantah Isu PHK Massal Mie Sedaap demi Hindari THR: Sebut Penyesuaian Produksi Gresik
• 1 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Perketat Evaluasi Izin dan Rehabilitasi DAS untuk Cegah Banjir
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pemilik Warung di Jakbar Minta Wanita Viral Tak Bayar Makan Ditangkap
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Pasca Privatisasi Japfa di Singapura, Keluarga Santosa Jadi Pemilik Manfaat JPFA
• 5 jam lalubisnis.com
thumb
OJK Pelototi Influencer, Promosi Produk Keuangan Saham Bisa Kena Sanksi
• 15 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.