Dompet digital (e-wallet) kini bukan sekedar alternatif metode pembayaran, melainkan telah berevolusi menjadi bagian dari gaya hidup finansial masyarakat. Industri ini memasuki fase baru dengan hadirnya ekosistem terpadu dalam satu aplikasi yang mampu memenuhi beragam kebutuhan transaksi digital.
Melalui studi terbaru Ipsos Indonesia bertajuk Digital Wallet Research 2026: User Behavior & Competitive Landscape, hasil riset menunjukkan dompet digital semakin terintegrasi dalam berbagai kebutuhan transaksi finansial harian.
Dalam hal ini, mayoritas masyarakat menggunakan dompet digital untuk belanja online (86%), pembelian makanan dan minuman (77%), pembayaran tagihan rutin seperti listrik dan internet (69%) dan transfer ke rekening bank (68%).
Dalam momentum pertumbuhan yang pesat, terbuka ruang kompetitif bagi para pemain utama seperti ShopeePay, GoPay, DANA dan OVO untuk menghadirkan inovasi berkelanjutan melalui ragam promo, penguatan fitur serta pengembangan ekosistem layanan yang relevan dengan kebutuhan transaksi digital masyarakat.
Executive Director Ipsos Indonesia, Andi Sukma, mengungkapkan peta persaingan dompet digital di tahun 2025 telah berevolusi dari sekadar meningkatkan awareness menjadi perlombaan pengembangan ekosistem digital dalam satu aplikasi.
Baca Juga: Dorong Digitalisasi UMKM, iFortepay Hadirkan QRIS Tanpa Buka Rekening
“Riset terbaru IPSOS menunjukkan bahwa preferensi pengguna kini berakar pada keamanan sistem dan kedalaman integrasi layanan. Bukan lagi soal siapa yang paling dikenal, melainkan siapa yang paling mampu hadir di setiap titik sentuh kehidupan finansial masyarakat secara mulus yang terintegrasi," ucap dia.
Riset terbaru Ipsos mengungkapkan sejumlah faktor utama yang mempengaruhi keputusan masyarakat dalam memilih dompet digital. Pertama, promosi yang menarik. Andi mengatakan, promosi menjadi kunci utama dalam mendorong intensitas transaksi menggunakan dompet digital.
Dalam riset ini dipaparkan, dari beragam promo yang ditawarkan, gratis biaya admin (79%), cashback (71%) dan diskon atau potongan harga (66%) menjadi tiga promo dompet digital terfavorit responden.
“Aspek promosi merupakan instrumen penting, tidak hanya dalam meningkatkan daya tarik tetapi juga memperkuat loyalitas pengguna dompet digital,” tegas dia.
Kedua, terintegrasi dengan aplikasi. Dompet digital yang terhubung dengan platform e-commerce serta layanan digital lainnya memiliki peluang lebih besar untuk digunakan secara berulang.Ketiga, banyak digunakan di merchant/toko favorit. Penggunaan dompet digital tidak hanya dominan dalam transaksi online, tetapi juga semakin kuat di ranah offline melalui QRIS.
Selain penggunaan QRIS, data menunjukkan responden turut menggunakan dompet digital untuk pembelian paket data dan pembayaran tagihan
Keempat, kemudahan penggunaan dan keamanan. “Promo memang masih menjadi pintu masuk utama, tetapi integrasi ekosistem, kemudahan penggunaan, keamanan serta relevansi terhadap gaya hidup akan menjadi faktor pembeda jangka panjang,” tegas Andi.
Di antara para pemain dompet digital di Indonesia, ShopeePay, GoPay, DANA dan OVO, ShopeePay menduduki peringkat pertama pada indikator utama. Adapun indikatornya antara lain adalah indikator merek yang paling pertama diingat atau Top Of Mind, 41% responden memilih ShopeePay, disusul Dana (26%), GoPay (23%), OVO (8%), dan lainnya (2%).
Indikator dompet digital yang digunakan dalam 3 bulan terakhir, ShopeePay menduduki peringkat paling tinggi dengan persentase 91%, disusul dengan GoPay (67%), Dana (67%) dan OVO (44%). Indikator jumlah frekuensi transaksi menggunakan dompet digital per bulan, responden rerata melakukan 23 kali transaksi per bulan menggunakan ShopeePay, disusul oleh OVO, GoPay, dan Dana.
Baca Juga: Kemnaker dan Shopee Dorong Ekonomi Digital lewat Pelatihan Affiliate
“Keunggulan ShopeePay di berbagai indikator menegaskan bahwa selain insentif promosi, persepsi kemudahan dan keamanan aplikasi dompet digital menjadi pertimbangan nyata dalam mempengaruhi preferensi pengguna. Hal ini menunjukkan bahwa ShopeePay memiliki fondasi yang kuat dalam membangun kepercayaan sekaligus mempertahankan daya saingnya di industri pembayaran digital,” lanjut Andi.
Bukan lagi sekadar pengikut tren, sebagai digital natives yang lahir dengan kemudahan akses internet dalam genggaman, Generasi Z memiliki ekspektasi tinggi terhadap fungsi pembayaran yang dinilai dapat terintegrasi dengan gaya hidup digital.
Berdasarkan data perilaku konsumen terbaru, penetrasi dompet digital dalam kategori Ever Used 3 Months (P3M) mencatatkan, sebanyak 88% Gen Z memilih ShopeePay sebagai dompet digital yang paling sering digunakan. Diikuti platform lain seperti DANA (72%), GoPay (68%), dan OVO (47%).
Preferensi tersebut tidak terjadi tanpa alasan. Keputusan Generasi Z memilih dompet digital, dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti aspek kepraktisan (57%) dan dompet digital yang menawarkan bebas biaya administrasi untuk berbagai transaksi (49%), mulai dari transfer antar-platform, top-up saldo, hingga penarikan tunai. Selain itu, fleksibilitas penggunaan yang bisa di berbagai merchant (48%) juga menjadi faktor penentu.





