72 Ekor Harimau Benggala di Thailand Mendadak Mati Secara Massal 

erabaru.net
2 jam lalu
Cover Berita

Baru-baru ini, wabah penyakit hewan yang serius merebak di wilayah utara Thailand. Dalam waktu singkat, hanya 12 hari, sebanyak 72 ekor harimau Benggala mati secara beruntun. Karena jumlah kematian yang sangat besar, fasilitas kremasi tidak mampu menangani seluruh bangkai harimau tepat waktu, sehingga sebagian  terpaksa dikubur secara darurat di dua lubang berbeda.

EtIndonesia. Pada 21 Februari, Departemen Peternakan di bawah Kementerian Pertanian dan Koperasi Thailand mengeluarkan pengumuman bahwa selama periode 8–18 Februari, total 72 ekor harimau Benggala telah mati, terdiri dari 21 ekor di Taman Harimau Mae Rim, Chiang Mai, dan 51 ekor di Taman Harimau Mae Taeng, Chiang Mai.

Menurut pengumuman tersebut, Departemen Peternakan bersama otoritas peternakan Provinsi Chiang Mai telah turun ke lokasi sejak 13 Februari untuk melakukan pengambilan sampel patologi dan pengujian laboratorium.

Hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan gen virus influenza A, sehingga kemungkinan flu burung telah dikesampingkan. Kematian massal harimau ini terutama disebabkan oleh infeksi gabungan virus distemper anjing (canine distemper) dan bakteri mycoplasma.

Pihak berwenang menjelaskan bahwa distemper anjing merupakan penyakit virus yang sangat menular, dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh maupun melalui udara, dan dapat menyebabkan kerusakan parah pada sistem pernapasan, pencernaan, serta saraf hewan. Sementara itu, bakteri mycoplasma dapat ditularkan melalui caplak, kutu, dan lalat kandang, serta dapat memicu anemia hemolitik dan merusak sel darah merah.

Dalam lingkungan penangkaran, hewan cenderung berada di bawah tekanan jangka panjang. Ditambah dengan faktor stres seperti perubahan cuaca yang mendadak, infeksi virus dan bakteri dapat saling memperparah, menyebabkan kondisi cepat memburuk dan meningkatkan risiko kematian secara signifikan.

Departemen Peternakan menegaskan bahwa penyakit-penyakit tersebut bukan penyakit zoonosis, sehingga tidak menular dari hewan ke manusia. Seluruh staf taman telah menjalani pemeriksaan kesehatan dengan hasil normal, namun pemantauan lanjutan tetap akan dilakukan secara ketat.

Menurut laporan media Thailand Matichon, Kepala Kantor ke-16 Departemen Taman Nasional, Satwa Liar, dan Konservasi Tumbuhan Thailand menyatakan bahwa karena jumlah kematian terlalu banyak, fasilitas kremasi tidak mampu memproses seluruh bangkai harimau. Akibatnya, sebagian jenazah dikubur di dua lubang terpisah dan telah diberi penanda.

Ia juga mengungkapkan bahwa laporan terbaru menunjukkan 23 ekor harimau masih menampakkan gejala penyakit. Para dokter hewan saat ini memantau kondisi mereka secara ketat, dan belum ada laporan kematian tambahan sejauh ini.

Taman Harimau Mae Taeng dan Taman Harimau Mae Rim yang terdampak sama-sama dimiliki oleh perusahaan Tiger Kingdom. Perusahaan ini merupakan jaringan penangkaran harimau swasta yang terkenal di Thailand dan pertama kali didirikan pada tahun 2000 di Provinsi Ubon Ratchathani.

Saat ini, Taman Harimau Mae Rim memiliki 44 ekor harimau Benggala, sementara Taman Harimau Mae Taeng memiliki 130 ekor.

Laporan menyebutkan bahwa kematian tidak normal ini mulai terjadi sekitar 8 Februari. Awalnya, puluhan harimau di Taman Harimau Mae Taeng menunjukkan gejala seperti lesu, nafsu makan menurun, dan demam, kemudian penyakit dengan cepat menyebar. Dalam periode 8–19 Februari, kematian harimau mencapai puncaknya, dengan total 72 ekor mati dalam sekitar 12 hari.

Direktur Jenderal Departemen Peternakan Thailand menyatakan bahwa pihaknya telah memerintahkan taman-taman terkait untuk menerapkan langkah pencegahan dan pengendalian yang ketat, termasuk pembersihan dan disinfeksi menyeluruh pada kandang, isolasi individu yang sakit dari kelompok sehat, serta penyusunan program vaksinasi bagi harimau yang masih hidup guna menekan risiko penularan lebih lanjut. (Hui)

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Fajar/Fikri Siap Hadapi All England 2026, Target Juara Jadi Motivasi
• 20 jam lalutvrinews.com
thumb
Rincian Estimasi Biaya Kuliah Arya Iwantoro di Belanda yang Wajib Dikembalikan ke LPDP! Belum Termasuk Tunjangan Istri dan Anak
• 3 jam laluharianfajar
thumb
KPK Butuh Keterangan Budi Karya Sumadi untuk Kasus DJKA
• 10 menit lalumetrotvnews.com
thumb
Pramono Gelar Rapat Khusus Bahas Trotoar dan Lapangan Padel
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Aswan di Mesir Catat Lonjakan Wisatawan Musim Dingin, Tur Sungai Nil Jadi Daya Tarik Utama
• 22 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.