Setelah mencatat kenaikan selama empat hari berturut-turut, logam mulia ini berhasil bertahan di atas level psikologis USD5.200 per troy ounce. Pada awal sesi perdagangan Asia, harga bahkan sempat menyentuh area USD5.230, menandakan minat beli yang masih kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Baca juga: Volatilitas Tinggi, Harga Emas di Persimpangan Jalan
Menurut analis Dupoin Futures, Andy Nugraha, penguatan ini didorong oleh kombinasi faktor fundamental dan sinyal teknikal yang mendukung arah naik.
Dari sisi fundamental, tekanan terhadap dolar AS menjadi salah satu katalis utama.
Perubahan kebijakan perdagangan di Amerika Serikat, termasuk dinamika hukum terkait tarif impor dan pengumuman kebijakan baru, menciptakan ketidakpastian di pasar internasional. Kondisi ini mendorong investor mencari aset aman, dan emas kembali menjadi pilihan utama sebagai lindung nilai.
Di sisi geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran terkait isu nuklir. Prospek negosiasi yang belum sepenuhnya jelas membuat investor tetap berhati-hati.
Situasi seperti ini biasanya meningkatkan permintaan terhadap emas, karena logam tersebut dianggap relatif stabil saat risiko politik dan konflik meningkat. Namun, jika proses diplomasi menunjukkan kemajuan signifikan, tekanan terhadap harga emas bisa muncul dalam jangka pendek.
Faktor makroekonomi turut memperkuat tren penguatan emas. Indeks dolar AS yang melemah memberikan ruang bagi harga emas untuk naik, mengingat hubungan terbalik antara keduanya.
Selain itu, penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga menambah daya tarik emas. Ketika imbal hasil turun, biaya peluang untuk memegang emas, yang tidak memberikan bunga, menjadi lebih rendah, sehingga aset ini terlihat lebih menarik bagi investor.
Pelaku pasar kini juga menantikan rilis data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang diperkirakan menunjukkan kenaikan moderat. Data tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi arah kebijakan suku bunga bank sentral AS.
Pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve yang membuka kemungkinan penyesuaian suku bunga jika kondisi ekonomi mendukung turut memberi sentimen positif. Secara umum, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah cenderung mendukung kenaikan harga emas.
Dari sisi teknikal, kombinasi pola candlestick dan indikator rata-rata pergerakan menunjukkan bahwa tren naik masih dominan. Harga yang bertahan di atas area moving average utama menandakan tekanan beli tetap kuat. Struktur pergerakan ini mengindikasikan momentum bullish belum kehilangan tenaga dalam waktu dekat.
Jika tren positif berlanjut, emas berpotensi menguji level resistance berikutnya di sekitar USD5.250 per troy ounce. Level tersebut menjadi target terdekat selama sentimen pasar tetap mendukung. Namun, risiko koreksi tetap perlu diperhatikan. Apabila tekanan jual meningkat dan harga gagal mempertahankan posisi di atas area support, potensi penurunan menuju kisaran USD5.127 per troy ounce dapat terjadi.
Secara keseluruhan, prospek emas dalam jangka pendek masih cenderung mengarah ke atas, didukung oleh kombinasi faktor global dan kondisi teknikal yang solid. Selama harga mampu bertahan di atas level kunci, peluang untuk melanjutkan penguatan masih terbuka, meskipun volatilitas pasar tetap perlu diantisipasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)





