Seiring Bertambahnya Usia, Siklus Menstruasi Ternyata Alami Perubahan

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Suka tak suka, kondisi fisik akan mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Rambut, kulit, hingga metabolisme mengalami penyesuaian, dan hal yang sama juga terjadi pada siklus menstruasi.

Hal ini membuat banyak perempuan merasa cemas ketika menyadari pola haidnya berubah. Namun, kamu tak perlu khawatir Ladies, sebab perubahan tersebut merupakan bagian dari proses alami tubuh.

Dokter spesialis kebidanan dan kandungan asal Amerika Serikat, dr. Karmon James, menjelaskan bahwa sebenarnya tidak ada satu standar mutlak tentang seperti apa haid yang normal.

Setiap perempuan memiliki pola siklus yang unik dan bisa berubah sepanjang hidup. Namun, ada gambaran umum yang bisa dijadikan acuan untuk mengetahui apakah kondisi tersebut masih tergolong sehat.

“Nasihat terbesar saya untuk perempuan adalah mencari tenaga kesehatan yang dipercaya dan memberi tahu ketika ada perubahan. Jangan menganggap semuanya normal, karena perdarahan yang tidak biasa bisa berkaitan dengan berbagai hal,” ujar dr. James.

Secara umum, siklus menstruasi yang sehat biasanya berlangsung antara 24 hingga 35 hari. Masa perdarahan rata-rata berlangsung empat hingga delapan hari, dengan jumlah darah yang tidak berlebihan.

Jika pembalut harus diganti setiap jam selama beberapa jam berturut-turut, kondisi ini sebaiknya dikonsultasikan ke dokter. Begitu pula jika muncul perdarahan di luar jadwal menstruasi.

Meski begitu, perubahan kecil tidak selalu berarti ada masalah. Faktor stres, pola tidur, perubahan berat badan, hingga aktivitas fisik bisa memengaruhi siklus.

Karena itu, mencatat jadwal haid setiap bulan dapat membantu mengenali pola tubuh sendiri. Dengan begitu, perubahan yang tidak biasa akan lebih mudah disadari.

Perubahan Siklus Haid pada Masa Remaja

Sebagian besar perempuan mengalami menstruasi pertama sekitar usia 12 tahun, meski ada juga yang lebih cepat atau lebih lambat. Pada masa ini, siklus haid sering kali belum teratur karena tubuh masih menyesuaikan keseimbangan hormon. Kondisi tersebut bisa berlangsung hingga beberapa tahun dan masih dianggap normal. Selama tidak disertai keluhan berat, biasanya tidak perlu dikhawatirkan.

Masa remaja juga sering diwarnai perubahan gaya hidup yang memengaruhi siklus, seperti aktivitas sekolah yang padat, kurang tidur, atau stres. Semua faktor ini dapat membuat jadwal haid maju atau mundur.

Penting bagi remaja untuk memahami bahwa siklus yang belum stabil di awal masa menstruasi merupakan hal yang wajar. Edukasi sejak dini juga membantu mereka mengenali tanda-tanda yang perlu diperiksakan.

Siklus Haid di Usia 20-an

Memasuki usia 20-an, siklus menstruasi biasanya sudah lebih teratur dibandingkan masa remaja. Namun, perubahan tetap bisa terjadi, terutama jika menggunakan atau mengganti metode kontrasepsi. Perubahan aliran darah atau durasi haid dalam situasi ini umumnya masih normal. Tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.

Di usia ini, telat haid dapat disebabkan karena banyak faktor mulai dari stres, kelelahan, atau pola makan yang tidak seimbang. Aktivitas fisik yang terlalu berat dan gangguan makan juga bisa menyebabkan haid terhenti. Untuk itu, perubahan yang berlangsung lama sebaiknya tetap dikonsultasikan.

Siklus Haid di Usia 30-an

Di usia ini, sebagian perempuan merasakan perubahan pada siklus haid. Ada yang mengalami perdarahan lebih banyak atau nyeri yang lebih terasa, sementara yang lain justru merasa siklusnya menjadi lebih ringan. Bagi perempuan yang sudah hamil dan melahirkan, di fase menyusui, menstruasi bahkan bisa berhenti sementara. Semua kondisi ini masih termasuk variasi yang umum terjadi.

Menjelang akhir usia 30-an, sebagian perempuan mulai memasuki masa transisi menuju menopause. Pada fase ini, siklus bisa menjadi lebih jarang atau tidak teratur. Perubahan tersebut terjadi secara bertahap dan berbeda pada setiap orang. Memahami fase ini membantu perempuan tidak panik ketika pola haid mulai berubah.

Siklus Haid Setelah Usia 40 Tahun

Memasuki usia 40-an, produksi hormon reproduksi mulai menurun. Akibatnya, menstruasi bisa menjadi lebih singkat, lebih ringan, atau datang lebih jarang. Pada akhirnya, haid akan berhenti sepenuhnya, yang dikenal sebagai menopause. Kondisi ini biasanya terjadi pada akhir usia 40-an hingga awal 50-an.

Meski demikian, ada beberapa kondisi yang tetap perlu diwaspadai. Perdarahan setelah menopause, misalnya, bukan hal yang normal dan harus segera diperiksakan. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan tidak ada masalah kesehatan yang mendasari. Kesadaran terhadap perubahan tubuh menjadi kunci menjaga kesehatan reproduksi di usia ini.

Mengapa Penting Mengenali Pola Haid Sendiri?

Mencatat siklus menstruasi membantu perempuan memahami pola tubuhnya sendiri. Dengan mengetahui apa yang biasa terjadi setiap bulan, perubahan kecil akan lebih mudah dikenali. Hal ini juga memudahkan saat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Informasi yang lengkap membuat diagnosis lebih akurat.

Selain itu, memahami siklus haid juga membantu perempuan lebih peka terhadap kesehatan tubuh secara keseluruhan. Menstruasi sering kali menjadi salah satu indikator keseimbangan hormon dan kondisi fisik.

Perubahan yang muncul bisa menjadi sinyal awal dari berbagai kondisi kesehatan. Karena itu, memperhatikan siklus haid bukan hanya soal reproduksi, tetapi juga bagian dari menjaga kesehatan secara menyeluruh.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wamendagri Ungkap Target RI jadi Negara Maju 2045, Beberkan Strategi Prabowo
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Warga Tewas di Tangan Polisi Terjadi Lagi, Reformasi Polri Dipertanyakan
• 7 jam lalukompas.id
thumb
Kata Pakar Soal Demo Agustus Ricuh: Berangkat dari Tidak Beresnya Moral Penguasa
• 22 jam lalukompas.com
thumb
3 Polisi Dipecat Secara Tidak Hormat, Wakapolres Donggala: Mereka Tak Layak Lagi Jadi Anggota Polri
• 21 jam lalujpnn.com
thumb
Pramono Rilis Aturan Baru Perizinan Lapangan Padel di Jakarta, Dispora akan Dilibatkan
• 6 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.