Panduan Fikih Puasa: Memahami Rukun dan Syarat Sah Ibadah

mediaindonesia.com
3 jam lalu
Cover Berita
 

Puasa atau saum merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dijalankan oleh setiap Muslim yang memenuhi kriteria. Namun, ibadah ini tidak sekadar menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Dalam ilmu fikih, terdapat aturan baku yang menentukan apakah ibadah tersebut diterima secara syariat atau justru batal.

Aturan baku tersebut terangkum dalam Rukun Puasa. Berbeda dengan syarat wajib, rukun adalah sesuatu yang harus ada di dalam ibadah itu sendiri agar ibadah tersebut dianggap sah di mata hukum Islam.

Dua Rukun Puasa Utama

Mayoritas ulama menyepakati bahwa rukun puasa terdiri dari dua hal fundamental yang tidak boleh ditinggalkan:

Baca juga : Baca Niat Puasa Ramadan Pakai Ramadhana atau Ramadhani yang Benar?

1. Niat (An-Niyyah)

Niat adalah pilar pertama dalam setiap ibadah. Tanpa niat, aktivitas menahan lapar hanya akan menjadi rutinitas fisik tanpa nilai pahala. Untuk puasa wajib seperti Ramadhan, niat harus dilakukan di dalam hati pada malam hari sebelum waktu fajar tiba.

2. Menahan Diri (Al-Imsak)

Rukun kedua adalah menahan diri atau imsak dari segala hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar shadiq hingga terbenamnya matahari. Hal ini mencakup menahan diri dari makan, minum, hubungan suami istri, serta hal-hal lain yang membatalkan secara sengaja.

Tabel Perbedaan Syarat Sah dan Rukun Puasa

Agar tidak tertukar, berikut adalah tabel perbandingan antara syarat sah (hal yang harus ada sebelum puasa) dan rukun puasa (hal yang dilakukan saat puasa):

Baca juga : Rangkuman PAI Kelas 8 SMP Semester 2

Kategori Syarat Sah Rukun Puasa Fokus Kualifikasi Pelaku Inti Ibadah Contoh 1 Beragama Islam Niat (Malam Hari) Contoh 2 Suci dari Haid/Nifas Menahan diri dari pembatal Contoh 3 Berakal Sehat - People Also Ask (FAQ) Bagaimana jika saya lupa berniat saat malam hari?

Dalam pandangan Mazhab Syafi'i, niat puasa wajib harus dilakukan pada malam hari (tabyit). Jika lupa, maka puasanya tidak sah, namun ia wajib tetap menahan diri dari makan dan minum hingga Magrib dan menggantinya di hari lain.

Apakah niat puasa harus diucapkan dengan keras?

Niat letaknya di dalam hati. Melafalkannya secara lisan adalah sunah (anjuran) untuk memantapkan hati, namun yang paling utama adalah kesadaran batin untuk berpuasa esok hari.

Apa batas waktu akhir makan sahur yang sebenarnya?

Batas akhir makan sahur adalah saat terbit fajar shadiq, yang ditandai dengan kumandang azan Subuh. Jadwal imsak yang ada di masyarakat biasanya merupakan waktu peringatan (10 menit sebelum Subuh) agar seseorang bersiap-siap berhenti makan.

Kesimpulan

Memahami rukun puasa sangat penting agar ibadah yang kita jalankan tidak sia-sia. Dengan memastikan niat yang tulus dan menjaga diri dari segala hal yang membatalkan sejak fajar hingga matahari terbenam, kita telah memenuhi syarat dasar diterimanya ibadah puasa secara fikih. Jangan lupa untuk senantiasa menjaga adab dan akhlak agar pahala puasa tetap sempurna.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Donald Trump Peringatkan Dunia: Jangan Macam-macam Dengan Amerika Serikat (AS)
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
DOID Teken Kontrak Jangka Panjang dengan Adaro di Tambang Kalsel
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
Sidang Nadiem Makarim, JPU Dalami Penggunaan Layanan Google di Gojek
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Pramono Stop Izin Bangun Lapangan Padel di Pemukiman, yang Sudah Buka Operasional Sampai Jam 20.00
• 8 jam lalusuara.com
thumb
Main Hujan Berujung Pilu, Bocah di Selong Hilang Terseret Arus Drainase di Dekat Sekolah
• 6 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.