Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan pada perdagangan Selasa (24/2), turun 115,25 poin atau 1,37 persen ke level 8.280,833. Pelemahan ini terjadi seiring tekanan sentimen global dan aksi ambil untung investor di akhir bulan.
Berdasarkan data Stockbit, sepanjang sesi perdagangan IHSG bergerak di zona merah mengikuti tren bursa Asia. Indeks LQ45 juga ditutup turun 10,130 poin atau 1,20 persen ke level 837,629. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 28,78 triliun dengan volume perdagangan 59,94 miliar saham dan frekuensi 3,39 juta kali.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai pelemahan IHSG dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global. Menurutnya, sentimen global jadi faktor paling dominan.
"D isini ada pun faktor pelemahan IHSG, khususnya pada hari ini adalah berkaitan dengan misalnya dari domestik, yang minim sekali, ya, berita datang dari mobil domestik yang bisa memberikan high market impact. Belum lagi juga kinerja laporan keuangan masih belum banyak dirilis, sebenarnya yang paling penting adalah sentimen global," ucap Nafan kepada kumparan, Selasa (24/2).
Nafan menyebut dinamika kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump turut membayangi pasar.
“Sentiment global ini berkaitan dengan dinamika tarif Trump. Dinamika tarif Trump, di mana Trump akan menerapkan tarif baru. Ini menyebabkan terjadi aksi profit taking yang dilakukan oleh para pelaku pasar, seperti itu," terangnya.
Sementara Global Market Economist Maybank, Myrdal Gunarto, melihat pelemahan IHSG lebih disebabkan oleh aksi ambil untung rutin di akhir bulan. Katanya, kondisi fundamental domestik masih relatif terjaga.
"Kelihatannya profit taking akhir bulan aja, sih, ini. Kalau dari domestik, kan, kita lihat kemarin kondisi fiskal kita juga masih prudent," kata Gunarto.
Gunarto menekankan defisit fiskal Indonesia pada Januari masih rendah sehingga belum memunculkan kekhawatiran pasar.
"Defisit fiskal cuma 0,21% terhadap GDP, ya, periode bulan Januari, jadi concern terkait dengan inefisiensi anggaran itu belum kelihatan atau tidak kelihatan sama sekali," sambung dia.
Menurut Gunarto, secara teknikal IHSG masih berada dalam tren naik meskipun telah terkoreksi dari posisi tertingginya di atas level 9.000.
"Nah, ya, memang kalau kita lihat IHSG, kan, masih dalam uptrend sebenarnya. Meskipun turun dari level tertinggi di level di atas 9.000, tapi sekarang masih cukup tinggi. Jadi investor, ya, untuk akhir bulan biasanya memang rutin mereka melakukan profit taking, sih," tutur Gunarto.





