Melihat Lebih Dekat Al-Quran Raksasa dan Mini di Kudus

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Museum Jenang dan Gusjigang di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menyimpan banyak koleksi tentang Kudus. Tak terkecuali koleksi Al-Quran raksana dan Al-Quran mini.

Museum ini berada di Desa Gantengan, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, didirikan pada Mei 2017. Di museum tersebut tersimpan koleksi berupa Al-Quran raksasa, Mushaf Al-Quran Akbar, Al-Quran mini Istanbul Turki, miniatur Menara Kudus, dan koleksi lainnya. Secara keseluruhan, museum ini menyimpan sekitar 750 koleksi tentang Kabupaten Kudus.

Pengelola Museum Jenang dan Gusjigang, Tri Hartanto, mengatakan Al-Quran jumbo memiliki ukuran 1 meter x 1,4 meter karya HM Noor Aufa Shiddiq. Al-Quran tersebut berisi 30 juz dan dapat dibaca. Saat ini kondisinya tertutup.

“Kalau posisi terbuka (posisi baca), ukurannya menjadi 2 meter x 1,4 meter dengan tebal 40 sentimeter dan berat 150 kilogram. Al-Quran raksasa ini mulai masuk ke museum pada 2018,” katanya saat ditemui di lokasi, Selasa (24/2).

Ia menuturkan, Al-Quran ini dibuat pada 1985 dengan proses pengerjaan selama dua tahun.

“Penulisan Al-Quran harus dalam keadaan suci. Khat yang digunakan adalah Utsmani dengan bahan kertas kuno,” sambungnya.

Selama bulan Ramadan ini, Al-Quran raksasa tidak dipajang di museum, melainkan diletakkan di Masjid Agung Kudus untuk digunakan dalam pengajian Ramadan.

Tri menjelaskan, alasan pendiri museum memilih Al-Quran raksasa sebagai koleksi adalah untuk edukasi masyarakat sekaligus melengkapi Ruang Galeri Al-Quran di museum.

Kondisi Al-Quran raksasa masih baik meski usianya telah mencapai 41 tahun. Rangkaian hurufnya pun masih dapat dibaca.

Perawatannya membutuhkan penanganan khusus. Pembersihan dilakukan setiap hari agar terbebas dari debu. Selain itu, Al-Quran raksasa harus ditempatkan di ruangan ber-AC dengan suhu 25 derajat Celsius untuk menjaga kualitas kertas agar tetap awet.

“Al-Quran jumbo ini bisa dibaca, jadi bukan sekadar pajangan. Di bulan Ramadan seperti ini kami pindahkan ke Masjid Agung Kudus untuk pengajian,” terangnya.

Pantauan di Masjid Agung Kudus, Selasa (24/2), sejumlah warga tampak antusias melihat Al-Quran raksasa setelah kain penutupnya dibuka. Salah satunya Mardiyanto, warga Kabupaten Jepara, yang baru pertama kali melihatnya.

“Unik ya dan bisa dibaca sepertinya,” ucapnya.

Hal serupa disampaikan Hidayat, warga Jepara lainnya. Ia juga baru pertama kali melihat Al-Quran berukuran raksasa tersebut.

“Baru pertama lihat Al-Quran besar. Baru tahu juga kalau ini koleksi Museum Jenang,” terangnya.

Mushaf Al-Quran Akbar

Selain Al-Quran raksasa, museum ini juga menyimpan Mushaf Al-Quran Akbar karya H Muhammad Assiry Jasri. Karya tersebut bermotif nuansa pintu rumah adat Kudus dan atap mustaka Menara Kudus.

Berbeda dengan Al-Quran raksasa, Mushaf Al-Quran Akbar ini tidak berisi 30 juz, melainkan hanya memuat Surah Al-Fatihah dan Al-Baqarah ayat 1 sampai 4.

Mushaf ini memiliki tinggi 3 meter dan lebar 2 meter. Saat dibuka, ukurannya mencapai 4,5 meter.

“Mushaf ini merupakan kombinasi seni kaligrafi dan seni lukis. Bingkainya menggambarkan pintu rumah adat Kudus. Karya ini masuk ke museum pada 2021,” ujarnya.

Al-Quran Mini Istanbul Turki

Museum ini juga menyimpan koleksi Al-Quran Mini Istanbul Turki yang ukurannya sangat kecil. Untuk membacanya harus menggunakan kaca pembesar (lup) yang sudah tersedia di bagian sampul Al-Qurannya.

Terdapat tiga kotak besar berisi Al-Quran Mini tersebut. Masing-masing kotak berisi beberapa Al-Quran Mini lengkap dengan lup. Koleksi ini diperoleh pada 2018 dan 2019 dari seorang kolektor di Jawa Timur.

Al-Quran Mini ini memiliki panjang 2,5 sentimeter, lebar 3 sentimeter, dan tebal 2 sentimeter. Bahannya menggunakan kertas kuno. Huruf hijaiyahnya ada yang berwarna emas, merah, dan hitam.

“Selain memiliki Al-Quran berukuran besar, kami juga mencari yang berukuran kecil supaya lengkap, dari yang terkecil sampai terbesar,” ujarnya.

Al-Quran Daun Lontar

Di Ruang Galeri Al-Quran juga terdapat koleksi Al-Quran daun lontar, Al-Quran berbahan kulit sapi, dan Al-Quran dari kertas kuno.

Tri menjelaskan, pada awal Ramadan jumlah pengunjung berkisar 50–70 orang per hari. Di luar Ramadan, jumlahnya sekitar 100–200 orang per hari.

“Pada pertengahan Ramadan sampai setelah libur Idul Fitri bisa mencapai 200 pengunjung,” ujarnya.

Museum buka setiap Senin hingga Minggu pukul 07.00–21.00 WIB dengan tarif masuk sekitar Rp 15 ribu per orang.

Museum Bikin Kagum Pengunjung

Sementara itu, pengunjung asal Bekasi, Asep Gunawan, kagum dengan museum tersebut.

“Dari luar terlihat biasa saja. Ternyata dalamnya bagus dan ada koleksi tradisional sampai modern,” ucapnya.

Lilis Hernawati, juga dari Bekasi, merasa senang berkunjung ke sana karena banyak koleksi bertema budaya.

Warga Kudus, Ika Oktaviani, terkesan dengan koleksi di Ruang Galeri Al-Quran.

“Kunjungan kedua saya di museum ini. Kali ini saya mengajak keluarga. Koleksi Al-Qurannya bagus dan cocok untuk edukasi anak-anak,” imbuhnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kadis PUPR Banten Klaim Jalan Berlubang TKP Kecelakaan Ojek Sudah Diperbaiki
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Beda Jauh dengan Andre Onana, Senne Lammens Sampai Dipuji David Moyes usai Manchester United Menang Lagi
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
Sidang Praperadilan Yaqut Cholil Qoumas, Ratusan Banser Berjaga di Lokasi
• 11 jam laluharianfajar
thumb
KPAI Minta Polisi Gerak Cepat Usut Kasus Anak Tewas Diduga Disiksa Ibu Tiri: Bukti Sudah Cukup
• 21 jam lalukompas.tv
thumb
Adik Kim Jong Un Dapat Jabatan Strategis di Partai Buruh Usai Kongres
• 17 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.