Puasa Ketujuh: Bumi Berongga, Misteri Kedalaman, dan Kerendahan Hati Ilmu

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Memasuki puasa ketujuh Ramadan, perenungan kita semakin dalam secara harfiah dan spiritual. Infografik tentang “Teori Bumi Berongga” mengangkat legenda kota bawah tanah, misteri Antartika, hingga fakta bahwa manusia baru mampu mengebor sekitar 12 kilometer, sementara jari-jari bumi mencapai lebih dari 6.000 kilometer. Angka ini bukan sekadar statistik; ia adalah pengingat tentang keterbatasan manusia.

Namun teori bumi berongga bukan cerita baru.

Jejak Kisah Bumi Berongga di Berbagai Negara

Pada abad ke-17, astronom Inggris Edmond Halley yang namanya diabadikan pada Komet Halley pernah mengusulkan hipotesis bahwa bumi mungkin memiliki lapisan-lapisan kosong di dalamnya untuk menjelaskan anomali medan magnet. Teori ini kemudian ditinggalkan karena tidak sesuai dengan perkembangan geofisika modern.

Di Amerika Serikat pada abad ke-19, seorang veteran perang bernama John Cleves Symmes Jr. mempopulerkan gagasan bahwa bumi berongga dengan pintu masuk di kutub utara dan selatan. Ia bahkan mengajukan proposal ekspedisi resmi untuk membuktikannya.

Di Turki, kota bawah tanah Derinkuyu memang nyata adanya struktur kuno yang mampu menampung ribuan orang lengkap dengan ventilasi dan lorong-lorongnya. Namun ini bukan bukti bumi berongga, melainkan bukti kecerdikan arsitektur manusia purba.

Legenda Agartha dan Shambala dalam tradisi Tibet dan Asia Tengah berbicara tentang kerajaan tersembunyi di bawah permukaan bumi simbol dunia spiritual atau peradaban tinggi yang tersembunyi. Di Antartika, spekulasi tentang “rongga raksasa” kerap muncul karena citra radar yang disalahartikan.

Sains modern melalui seismologi menunjukkan bahwa struktur bumi terdiri dari kerak, mantel, inti luar cair, dan inti dalam padat. Gelombang gempa yang merambat melalui bumi memberikan bukti kuat bahwa interior bumi bukan ruang kosong besar, melainkan lapisan padat dan cair dengan suhu ekstrem.

Namun fakta bahwa manusia baru mengeksplorasi sebagian sangat kecil dari kedalaman bumi tetap menghadirkan rasa takjub.

Antara Misteri dan Batas Ilmu

Al-Quran mengingatkan,

Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit” (QS. Al-Isra: 85).

Ayat ini bukan untuk meremehkan ilmu, tetapi untuk menanamkan kerendahan hati. Tafsir Ibnu Katsir menjelaskan bahwa manusia, betapa pun cerdasnya, tetap memiliki keterbatasan dalam memahami hakikat ciptaan Allah.

Ketika teori-teori seperti bumi berongga muncul, ia bisa menjadi dua hal: dorongan eksplorasi atau jebakan spekulasi. Islam mendorong yang pertama, tetapi memperingatkan terhadap yang kedua.

Dalam QS. Ali Imran: 190, Allah menyebut bahwa pada penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang berakal. Tafsir klasik menekankan kata “berakal” artinya pengamatan harus disertai nalar, bukan sekadar imajinasi.

Puasa dan Kedalaman Diri

Jika bumi memiliki lapisan-lapisan yang dalam, manusia pun memiliki kedalaman batin yang jarang dijelajahi. Puasa adalah latihan menyelam ke dalam diri menahan nafsu, mengendalikan amarah, dan menata niat.

Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya (HR. Bukhari). Artinya, puasa bukan sekadar menahan fisik, tetapi menggali moralitas terdalam.

Satirnya, kita sering lebih tertarik membayangkan kota rahasia di dalam bumi daripada menggali “kota” batin kita sendiri yang penuh potensi dan konflik.

Sains sebagai Jalan Tafakur

Seismologi, pengeboran ilmiah seperti proyek Kola Superdeep Borehole di Rusia yang mencapai kedalaman sekitar 12 kilometer, menunjukkan betapa keras dan panasnya lapisan bumi. Fakta ini membantah teori bumi berongga dalam arti literal.

Namun yang menarik, semakin dalam manusia menggali, semakin besar pula rasa takjubnya terhadap kompleksitas ciptaan.

Tafsir kontemporer sering menyebut bahwa ayat-ayat kosmologis dalam Al-Quran bukan untuk menggantikan buku geologi, tetapi untuk menggerakkan tafakur. Alam adalah kitab terbuka.

Misteri sebagai Cermin Kerendahan Hati

Puasa ketujuh mengajarkan bahwa tidak semua misteri harus dijawab dengan sensasi. Sebagian cukup dijawab dengan kerendahan hati.

Bumi mungkin tidak berongga seperti legenda. Tetapi ia menyimpan kedalaman yang belum kita pahami sepenuhnya.

Dan mungkin, misteri terbesar bukanlah apa yang tersembunyi di bawah kerak bumi, melainkan kesadaran bahwa manusia betapapun majunya teknologi tetap makhluk yang terbatas.

Ramadan mengajarkan keseimbangan: iman yang berpikir, akal yang bersujud.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemkot Jaktim Cabut Banding Putusan PTUN Kasus Lapangan Padel di Pulomas
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
Eks Menag Yaqut Hadiri Sidang Praperadilan Lawan KPK: Siap, Berdoa Setiap Saat
• 21 jam laludetik.com
thumb
Tersertifikasi Halal, Resto Ramen Jepang Ini Tambah Deretan Tempat Ramah Muslim
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
IHSG Anjlok 1,37% ke 8.280, Analis: Sentimen Tarif Trump dan Aksi Profit Taking
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Warga Lapor Polisi soal Pembangunan Lapangan Padel di Kebayoran Lama
• 16 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.