SLEMAN, KOMPAS — Polisi sempat mengamankan tiga mahasiswa dalam demonstrasi yang berujung ricuh di depan Markas Kepolisian Daerah DI Yogyakarta, Selasa (24/2/2026) malam. Namun, ketiga mahasiswa itu disebut telah dikembalikan ke pihak rektorat kampus tempat mereka kuliah.
Aksi unjuk rasa oleh sekelompok orang itu berlangsung pada Selasa sore sejak pukul 18.00 WIB. Dalam aksi tersebut, sejumlah orang merobohkan pagar di sisi timur depan markas Polda DIY yang berlokasi di Jalan Ring Road Utara, Kabupaten Sleman, DIY. Tembok di depan markas itu juga dicorat-coret dengan tulisan yang berisi kecaman pada institusi kepolisian.
Menurut perwakilan massa, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kemarahan terhadap institusi kepolisian. Hal itu, antara lain, terkait dengan aksi kekerasan yang dilakukan oleh anggota kepolisian kepada masyarakat.
Kasus kekerasan terbaru terjadi di Kota Tual, Maluku. Dalam kasus itu, Bripda Masias Siahaya, anggota Brigade Mobil Polda Maluku, memukul seorang anak berinisial AT (14) dengan helm baja hingga akhirnya korban meninggal dunia.
Kepala Bidang Humas Polda DIY Komisaris Besar Ihsan menyayangkan aksi yang awalnya bertujuan menyampaikan aspirasi itu berujung kericuhan dan perusakan fasilitas.
”Kami menyayangkan aksi tersebut berakhir ricuh dan terjadi perusakan pada pagar sisi timur Mapolda. Namun, secara umum, situasi dapat dikendalikan oleh petugas di lapangan,” katanya dalam keterangan yang dikirimkan kepada media.
Ihsan memaparkan, dalam aksi tersebut, polisi sempat mengamankan tiga mahasiswa. Namun, ketiganya sudah diserahkan kepada pihak rektorat kampus pada Selasa pukul 22.30 WIB. Penyerahan tersebut dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan pihak kampus.
”Kami telah menyerahkan kepada pihak rektorat yang sebelumnya kami hubungi, kami koordinasikan, untuk menjemput mahasiswanya, kemudian saat ini sudah pulang atau meninggalkan mapolda,” ujarnya.
Di sisi lain, Ihsan membantah informasi yang menyebut adanya tembakan gas air mata dan tembakan peringatan dalam aksi itu. Dia menyatakan, suara letusan yang terdengar dalam aksi tersebut berasal dari petasan yang dibawa oleh massa aksi.
”Kami tegaskan bahwa selama kegiatan pengamanan, petugas tidak dilengkapi senjata. Suara yang terdengar di lokasi berasal dari petasan yang dibawa oleh massa aksi,” ungkapnya.
Ihsan juga menyebut, pengamanan aksi itu mengedepankan kearifan lokal dan kultur budaya Jawa. Dia menuturkan, petugas bersikap sabar dan persuasif saat menghadapi massa yang sempat bertindak anarkistis.
Ihsan pun menyampaikan apresiasi kepada sejumlah elemen masyarakat DIY, termasuk dari unsur Jaga Warga, yang telah bersinergi dengan aparat untuk menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban.
Di sisi lain, Ihsan mengatakan, Polda DIY turut berbelasungkawa atas peristiwa yang terjadi di Kota Tual, Maluku, yang menjadi latar belakang aksi tersebut.
”Kami dari Polda DIY turut berbelasungkawa yang mendalam untuk keluarga korban terkait peristiwa yang terjadi di Tual, Maluku. Semoga almarhum diterima amal ibadahnya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan,” ujarnya.
Sebelumnya diberitakan, aksi di depan Markas Polda DIY pada Selasa malam sempat diwarnai kericuhan. Selain perusakan pagar dan corat-coret tembok, kericuhan terjadi setelah muncul kelompok orang lain yang mengejar massa peserta aksi.
Berdasarkan pantauan Kompas, pada Selasa sekitar pukul 19.45 WIB, awalnya sebagian massa yang berunjuk rasa di depan Markas Polda DIY melakukan shalat Gaib di Jalan Ring Road Utara, depan markas tersebut. Shalat Gaib itu kemudian dilanjutkan dengan shalat Isya.
Saat sebagian peserta aksi menjalankan shalat Gaib dan shalat Isya, sebagian massa aksi lain masih berkumpul di depan Markas Polda DIY. Setelah shalat Isya selesai, salah seorang perwakilan massa yang mengikuti shalat Gaib memberikan keterangan kepada wartawan.
Namun, saat proses wawancara itu belum sepenuhnya selesai, terjadi kericuhan. Muncul sekelompok orang lain yang mengejar massa yang melakukan aksi unjuk rasa. Massa peserta aksi pun kemudian menjauh dari Markas Polda DIY.
Tidak boleh lagi ada korban yang timbul dari rakyat. Kita berharap, dengan aksi ini, polisi akan sadar dan melakukan reformasi.
Para peserta aksi tersebut kemudian bergeser ke arah barat dan berkumpul di dekat salah satu pusat perbelanjaan di Jalan Ring Road Utara. Namun, tak lama kemudian muncul sejumlah orang yang berteriak-teriak dan meminta massa aksi tersebut bubar.
Berdasarkan pantauan Kompas, sekitar pukul 20.30 WIB, peserta aksi telah membubarkan diri. Arus lalu lintas di Jalan Ring Road Utara di sekitar Markas Polda DIY pun kembali lancar.
Perwakilan massa peserta aksi, Yazi, mengatakan, aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk keresahan atas kekerasan oleh polisi di sejumlah tempat. "Kami mengutuk kekerasan oleh polisi. Kami adalah masyarakat yang resah dengan kelakuan para polisi," ujarnya.
Yazi menambahkan, dalam aksi itu, digelar shalat Gaib untuk mendoakan para korban kekerasan yang dilakukan oleh kepolisian. Selain itu, massa juga memanjatkan doa untuk para korban penangkapan polisi dalam berbagai aksi demonstrasi.
"Semoga mereka (para korban yang meninggal dunia) tenang di alam sana dan semoga para polisi bisa sadar bahwa yang mereka lakukan itu salah," kata Yazi.
Menurut Yazi, massa juga berharap kepolisian melakukan reformasi agar tidak ada lagi kekerasan semena-mena kepada masyarakat. Polisi seharusnya hadir sebagai pelindung masyarakat, bukan pelaku kekerasan.
"Tidak boleh lagi ada korban yang timbul dari rakyat. Kita berharap, dengan aksi ini, polisi akan sadar dan melakukan reformasi," tuturnya.




