Goldman Sachs Ungkap Arah Harga Minyak Dunia, Brent dan WTI Diproyeksi Naik di Akhir Tahun

viva.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Goldman Sachs merevisi proyeksi harga minyak dunia untuk akhir 2026. Bank investasi global ini menaikkan proyeksi harga minyak mentah seiring persediaan minyak di negara-negara maju lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.

Dalam laporan terbaru, Goldman Sachs memprediksi harga minyak Brent melonjak sepuluh kali lipat, dari US$6 per barel menjadi US$60 per barel pada kuartal IV-2026. 

Baca Juga :
Gawat! Bitcoin Ambruk ke US$62.000, Sentimen Global Picu Tekanan Besar
150 Pesawat Tempur AS Siaga di Eropa dan Timur Tengah, Siap Serang Iran?

Proyeksi harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga direvisi naik. Lembaga keuangan dunia ini menetapkan target harga di level US$56 per barel pada akhir tahun 2026. 

Dikutip dari Oil Price pada Rabu, 25 Februari 2026, perubahan target harga minyak mentah dunia oleh Goldman Sachs didasari rendahnya tingkat persediaan minyak di negara-negara anggota OECD. Kondisi ini menunjukkan pasokan lebih ketat dari perkiraan sebelumnya meskipun pasar global masih diproyeksikan mengalami surplus.

Labirin dan katup minyak mentah Departemen Energi AS
Photo :
  • ANTARA/REUTERS/Richard Carson/am

Goldman Sachs menaksir surplus pasokan di pasar minyak global pasokan sekitar 2,3 juta barel per hari pada tahun 2026. Proyeksi ini diperkuat adanya asumsi tidak adanya gangguan pasokan besar, termasuk dari kawasan Timur Tengah maupun konflik geopolitik lainnya.

Faktor lain yang mendorong revisi adalah aliansi OPEC+ berpotensi kembali meningkatkan produksi minyak pada tahun 2026. Langkah ini dipertimbangkan seiring dinamika pasar dan terbatasnya peningkatan persediaan global sepanjang tahun ini.
 
Pada sesi perdagangan Senin pagi, 23 Februari 2026, harga minyak global melemah akibat ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) setelah putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarif resiprokal Presiden Donald Trump.Minyak WTI tercatat turun sekitar 1 persen ke level US$65 per barel, sementara Brent melemah 1 persen ke posisi US$71 per barel. 

Namun dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak sempat menguat tajam karena meningkatnya ketegangan geopolitik. Salah satunya potensi konflik militer antara AS dan Iran.

Meski masih memperkirakan surplus pasokan, Goldman Sachs melihat peluang harga minyak tetap bertahan di level yang relatif stabil hingga akhir tahun. Khususnya jika tidak terjadi gangguan pasokan besar secara global.

Baca Juga :
Lagi Siaga Serang Iran, Ratusan Toilet di Kapal Induk Tercanggih AS Mampet
Helikopter Militer Iran Jatuh di Pasar, Empat Orang Tewas Termasuk Pilot dan Pedagang
Kapal Induk Terbesar AS Tiba di Yunani, Sehari Lagi Merapat ke Israel

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Guess Bella Vita Rilis Koleksi Parfum La Mia dengan Aroma Leci dan Mawar
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Ketua BEM UGM Ungkap Motivasinya Surati UNICEF Hingga Beri Tamparan Keras Untuk Pemerintah Soal MBG
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
AS Mulai Setop Pungut Tarif Impor Pascaputusan Mahkamah Agung
• 8 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Menaker Buka Suara soal Dugaan Pekerja Mie Sedaap Dirumahkan Jelang Lebaran 2026
• 2 jam laluidxchannel.com
thumb
Retno Marsudi: Dunia Kekurangan Dana hingga USD 140 Miliar untuk Kebutuhan Air
• 13 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.