Jakarta, VIVA – Goldman Sachs merevisi proyeksi harga minyak dunia untuk akhir 2026. Bank investasi global ini menaikkan proyeksi harga minyak mentah seiring persediaan minyak di negara-negara maju lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.
Dalam laporan terbaru, Goldman Sachs memprediksi harga minyak Brent melonjak sepuluh kali lipat, dari US$6 per barel menjadi US$60 per barel pada kuartal IV-2026.
Proyeksi harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga direvisi naik. Lembaga keuangan dunia ini menetapkan target harga di level US$56 per barel pada akhir tahun 2026.
Dikutip dari Oil Price pada Rabu, 25 Februari 2026, perubahan target harga minyak mentah dunia oleh Goldman Sachs didasari rendahnya tingkat persediaan minyak di negara-negara anggota OECD. Kondisi ini menunjukkan pasokan lebih ketat dari perkiraan sebelumnya meskipun pasar global masih diproyeksikan mengalami surplus.
- ANTARA/REUTERS/Richard Carson/am
Goldman Sachs menaksir surplus pasokan di pasar minyak global pasokan sekitar 2,3 juta barel per hari pada tahun 2026. Proyeksi ini diperkuat adanya asumsi tidak adanya gangguan pasokan besar, termasuk dari kawasan Timur Tengah maupun konflik geopolitik lainnya.
Faktor lain yang mendorong revisi adalah aliansi OPEC+ berpotensi kembali meningkatkan produksi minyak pada tahun 2026. Langkah ini dipertimbangkan seiring dinamika pasar dan terbatasnya peningkatan persediaan global sepanjang tahun ini.
Pada sesi perdagangan Senin pagi, 23 Februari 2026, harga minyak global melemah akibat ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) setelah putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan tarif resiprokal Presiden Donald Trump.Minyak WTI tercatat turun sekitar 1 persen ke level US$65 per barel, sementara Brent melemah 1 persen ke posisi US$71 per barel.
Namun dalam beberapa pekan terakhir, harga minyak sempat menguat tajam karena meningkatnya ketegangan geopolitik. Salah satunya potensi konflik militer antara AS dan Iran.
Meski masih memperkirakan surplus pasokan, Goldman Sachs melihat peluang harga minyak tetap bertahan di level yang relatif stabil hingga akhir tahun. Khususnya jika tidak terjadi gangguan pasokan besar secara global.





