Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan rekrutmen peserta pendidikan dokter spesialis berbasis rumah sakit (hospital-based) tidak lagi ditentukan oleh kemampuan finansial atau latar belakang keluarga, tetapi kebutuhan layanan di daerah.
Menurut Budi, Indonesia masih kekurangan puluhan ribu dokter spesialis, terutama di wilayah yang jauh dari kota besar. Di sisi lain, pemerintah tengah memasang alat kesehatan modern secara masif hingga tingkat kabupaten/kota, bahkan hingga daerah yang jauh dari kota besar. Tapi, persoalan utama tetap pada jumlah dan distribusi dokter.
“Mulai tahun ini, Kementerian Kesehatan akan secara agresif memasang alat-alat modern di seluruh kabupaten/kota. Kekurangannya cuma satu, adalah jumlah dokter dan terutama distribusi,” ujar Budi dalam sambutannya di kegiatan orientasi pusat Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSPPU di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (25/2) pagi.
Karena itu, skema hospital-based didesain sebagai instrumen distribusi tenaga spesialis berbasis kebutuhan riil rumah sakit daerah. Sebab, selama ini dokter spesialis dicetak hanya dari kampus atau university-based.
Ia menegaskan, peserta yang direkrut adalah dokter yang bekerja di rumah sakit dengan kebutuhan layanan spesialistik tinggi.
“Yang kita rekrut adalah dokter-dokter yang berasal dari rumah sakit yang memang banyak pasiennya membutuhkan layanan spesialistik tersebut. Cara kita merekrut berdasarkan kebutuhan masing-masing daerah,” ujarnya.
Budi juga menyebut prioritas diberikan kepada putra-putri asli daerah agar setelah lulus mereka kembali dan memperkuat layanan kesehatan setempat.
“Siapa pun asal orang tuanya, apa pun sukunya dia, apa pun agamanya dia, selama dia memang putra-putri daerah yang bekerja di rumah sakit yang membutuhkan layanan spesialistik, dia yang akan kita rekrut duluan,” imbuh dia.





