Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyoroti mahalnya biaya pendidikan dokter spesialis di Indonesia yang dinilai menjadi salah satu penyebab minimnya jumlah tenaga spesialis.
Menurut Budi, biaya pendidikan spesialis bisa mencapai ratusan juta bahkan miliaran rupiah.
"Pendidikan spesialis itu super mahal, terutama di Indonesia. Ratusan juta bahkan miliaran yang harus dikeluarkan untuk mendidik dokter spesialis. Itu sebabnya kenapa dokter spesialis itu sedikit," kata Budi dalam sambutannya di orientasi pusat Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSPPU di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan, Rabu (25/2).
Ia membandingkan dengan praktik di sejumlah negara lain. Budi menyebut, tidak ada peserta pendidikan dokter spesialis yang membayar uang kuliah seperti mahasiswa biasa.
“Di seluruh dunia tidak ada pendidikan dokter spesialis yang harus bayar uang kuliah. Dokter spesialis itu dibayar gajinya,” ujarnya.
Akses Terbatas untuk Kalangan MampuBudi menilai struktur pembiayaan pendidikan spesialis di Indonesia tidak bisa terus dibiarkan mahal dan terus meningkat setiap tahun. Kondisi tersebut berpotensi membatasi akses pendidikan hanya bagi kelompok tertentu.
Menurut Budi, sistem seperti itu berisiko membuat profesi dokter spesialis menjadi eksklusif dan sulit diakses oleh dokter-dokter dari daerah atau latar belakang ekonomi menengah ke bawah.
“Ini akan mempersulit, akan membatasi bahwa sekolah dokter spesialis hanya untuk orang-orang kaya, hanya untuk orang-orang privilege tertentu, hanya untuk orang-orang yang datang dari keluarga-keluarga tertentu yang memang latar belakangnya sudah kaya. Atau memang juga bekas (dokter) spesialis agar mampu untuk membiayai anak-anaknya,” kata dia.
Peserta Diberi Gaji Sejak MasukMelalui program pendidikan spesialis berbasis rumah sakit (hospital-based), Kementerian Kesehatan mengubah skema tersebut. Peserta tidak lagi diposisikan sebagai murid yang membayar biaya pendidikan, tetapi sebagai profesional yang bekerja sambil menjalani pelatihan lanjutan.
“Anda semua nanti akan diberi gaji sejak masuk sampai lulus agar Anda bisa bekerja dengan tenang,” ujar Budi kepada para peserta.
Ia menyebut kebijakan ini sebagai transformasi awal untuk mengubah paradigma pendidikan spesialis.
“Mungkin belum sebesar yang Anda inginkan, tapi ini merupakan transformasi awal yang mengubah paradigma bahwa dokter spesialis itu bukan seorang murid, bukan orang yang harus bayar uang kuliah. Dia adalah seorang profesional yang dilatih agar lebih mahir di bidangnya, dan dia bekerja, bukan belajar. Sehingga dia harus mendapatkan penggantian biaya hidupnya dan kompensasi terhadap pekerjaan yang dia lakukan,” pungkas Budi.





