Peta genetik terlengkap pertama terkait kanker pada kucing peliharaan menunjukkan kemiripan yang sangat besar dengan kanker yang diderita manusia. Kemiripan itu terjadi karena kucing dan manusia berbagi paparan lingkungan yang sama. Temuan ini bisa membantu manusia untuk menemukan cara terbaik mengobati kanker, baik untuk manusia maupun kucing.
Kanker adalah salah satu penyakit utama dan penyebab kematian terbesar pada kucing. Namun, sangat sedikit yang diketahui manusia tentang kanker pada kucing. Penelitian kanker pada kucing tidak seluas dan jauh lebih tertinggal dibanding anjing meski jumlah keduanya tidak berbeda jauh.
Data World Population Review menunjukkan jumlah anjing di seluruh dunia pada 2026 mencapai 263,1 juta ekor, sedangkan jumlah kucing sebanyak 270.8 juta ekor. Amerika Serikat, Cina, dan Rusia menjadi tiga negara teratas dengan populasi anjing dan kucing terbanyak di dunia. Sementara data Euromonitor International pada 2022 menyebut ada ada 4,8 juta kucing dan 737.400 anjing di Indonesia.
Untuk lebih memahami kanker pada kucing, sejumlah ilmuwan internasional yang dipimpin Bailey A Francis dari Institut Wellcome Sanger, Cambridge, Inggris menganalisis asam deoksiribonukleat (DNA) tumor dari 497 spesies kucing domestik di lima negara. Ilmuwan tersebut berasal dari lintas bidang keilmuan, baik bidang kedokteran hewan, kedokteran manusia, maupun genomika.
Hasil studi menunjukkan banyaknya kemiripan antara gen yang memicu kanker pada kucing dengan gen yang menimbulkan kanker pada manusia.
Hasilnya, diperoleh sekitar 1.000 gen dari 13 jenis kanker pada kucing yang disusun dalam peta genetik pertama yang paling lengkap tentang kanker pada kucing. Hasil studi itu dipublikasikan di jurnal Science, pada Kamis (19/2/2026) dan menunjukkan banyaknya kemiripan antara gen yang memicu kanker pada kucing dengan gen yang menimbulkan kanker pada manusia.
“Genetika kanker pada kucing hingga sekarang masih ibarat kotak hitam. Padahal, semakin banyak yang dapat kita pahami tentang kanker dari spesies apapun, pasti akan memberi manfaat besar bagi semuanya,” kata peneliti studi lainnya dari Institut Wellcome Sanger, Louise Van der Wayden seperti dikutip BBC, Jumat (20/2/2026).
Salah satu kesamaan yang mencolok itu adalah kanker di kelenjar susu kucing dengan beberapa subtipe kanker payudara pada manusia. Salah satu jenis atau subtipe dari kanker payudara adalah kanker payudara tripel negatif (TNBC) yang terkenal invasif dan agresif.
Disebut tripel negatif karena sel-sel kankernya tidak memiliki tiga reseptor, yaitu reseptor estrogen, progesteron, dan protein HER2. Ketiadaan tiga reseptor itu membuat pengobatannya TNBC hanya mengandalkan kemoterapi, pembedahan dan imunoterapi karena terapi hormonal dan terapi target HER2 tidak akan efektif.
Subtipe kanker payudara TNBC itu lebih banyak ditemukan pada kucing daripada manusia. Dari seluruh kanker payudara pada manusia, jumlah jenis kanker ini hanya mencapai 15 persen. Dengan demikian, ilmuwan bisa lebih mengakses sampel TNBC pada kucing untuk mengembangan obat-obatan terbaru untuk TNBC, baik untuk pengobatan pada bagi manusia maupun kucing.
“Temuan ini menunjukkan bahwa kucing domestik bukan hanya hewan peliharaan yang disayangi, tetapi juga mitra penting dalam melawan kanker,” kata salah satu peneliti yang merupakan ahli patologi anatomi hewan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Cornell, Ithaca, New York, Amerika Serikat Latasha Ludwig di situs Universitas Cornell cornell.edu.
Kanker umumnya dipicu oleh perubahan pada gen, baik berupa mutasi, disregulasi, maupun ekspresi abnormal pada gen. Gen kucing yang paling sering bermutasi adalah gen TP53. Mutasi gen ini ditemukan pada 33 persen tumor yang diteliti pada kucing dan juga ditemukan hingga 34 persen dari semua tumor yang ditemukan pada manusia.
Kemiripan kanker pada kucing dan manusia itu menunjukkan bahwa kedua spesies tersebut memiliki proses biologi kunci yang sama yang memungkinkan tumor tumbuh dan menyebar. Kesamaan itu diyakini terjadi karena mutasi genetik pemicu kanker pada kucing dipicu oleh hal yang sama seperti kanker pada manusia. Manusia dan kucing berbagi ruang yang sama, terpapar faktor lingkungan yang sama, sehingga memiliki kanker yang mirip pula.
Sama seperti pada manusia, tubuh kucing juga terdiri atas jutaan sel kecil yang mengandung DNA, menyediakan energi, serta memiliki beragam fungsi. Dalam kondisi normal, sel-sel itu akan tumbuh, membelah diri, hingga akhirnya mati dan digantikan oleh sel-sel baru yang akan terus mengulang siklus tersebut. Namun, terkadang sel-sel itu rusak, tetapi masih terus tumbuh dan membelah. Pembelahan sel yang tidak normal itulah yang memunculkan tumor dan bisa bersifat kanker.
Kanker pada kucing merupakan masalah kesehatan hewan yang utama. Seperti ditulis Tatev Ghevondyan di Oncodaily, 31 Juli 2025, sekitar 20 persen atau 1 dari 5 kucing akan didiagnosis kanker selama hidupnya. Selain itu, sebanyak 53-83 persen tumor pada kucing bersifat kanker atau menjadi ganas.
Kelangsungan hidup kucing sangat bergantung pada jenis kanker yang di derita. Sebagian kucing hanya bertahan hidup beberapa hari sejak diagnosis kanker ditegakkan, tetapi ada pula yang mampu bertahan hingga bertahun-tahun. Meski demikian, risiko kematian akibat kanker pada kucing yang berumur lebih dari 10 tahun mencapai 32 persen.
Salah satu jenis kanker yang paling sering ditemukan pada kucing adalah kanker limfoma yang menyerang limfosit, yaitu salah satu jenis sel darah putih. Limfosit itu berkembang dan matang di jaringan limfoid, seperti kelenjar getah bening, saluran pencernaan, dan ginjal kucing. Organ dan jaringan itulah yang diserang kanker pada kanker limfoma.
Selain itu ada kanker karsinoma sel skuamosa (SCC), yakni tumor kulit atau mulut kucing yang tumbuh cepat dan agresif. SCC ini umumnya dialami oleh kucing berbulu putih atau terang dan dipicu oleh paparan sinar ultraviolet berlebih. Kanker SCC ini sering ditandai dengan luka berkerak atau sariawan yang tidak kunjung sembuh, air liur berlebih, hingga mulut bau.
Selain itu, ada kanker fibrosarkoma yang menyerang jaringan lunak pada kucing, seperti jaringan ikat dan otot. Ada juga osteosarkoma atau kanker tulang yang menyebabkan nyeri dan pembengkakakan tulang. Terdapat pula kanker payudara yang biasanya ditemukan pada kucing betina yang belum disteril atau sudah tua. Meski tumor payudara umumnya menyerang jaringan di sekitar puting susu kucing, namun dia bisa menyebar ke kelanjar getah bening dan paru-paru di dekatnya.
Masalahnya, gejala kanker pada kuncing sering kali tumpang tindih dengan kondisi kesehatan lain. Gejala itu juga sangat bergantung pada jenis kankernya. Namun seperti ditulis Charlotte Hacker di PetMD, 16 Desember 2024, beberapa gejala umum yang patut dicurigai bisa berkembang menjadi kanker di kucing antara lain munculnya benjolan atau masa abnormal di bawha kulit atau di mulut kucing.
Perubahan sikap kucing juga bisa dijadikan indikasi, seperti lesu, penambahan atau penurunan berat badan, muntah, air liur menetes terus menerus, kesulitan makan, sulit bernapas, diare, hingga sulit buang air kecil atau air besar. Munculnya luka yang tidak kunjung sembuh dan bau mulut juga perlu diwaspadai. Gejala lainnya adalah kembung, pembesaran kelenjar getah bening, hingg munculnya darah pada urin atau tinja kucing.
Kucing dan manusia berbagi lingkungan yang sama. Karena itu, beberpaa pemicu kankernya pun sama, seperti racun dari asap rokok dan asbes, sinar ultraviolet, virus leukimia kucing (FeLV), virus imunodofisiensi kucing (FIV), hingga suntikan dan vaksinasi untuk kucing. Usia kucing, umur saat kucing disterilisasi, ras kucing, hingga bekas fraktur yang telah sembuh, implantasi alat, hingga penyakit tulang dan riwayat radiasi sebelumnya, semua bisa memicu kanker.
Diagnosis kanker pada kucing ditegakkan melalui sejumlah pemeriksaan fisik dan riwayat penyakit kucing. Sejumlah pencitraan bagian tubuh tertentu juga bisa dilakukan untuk mendukung diagnosis, mulai dari rontgen, ultrasonografi (USG), endoskopi dengan memasukkan kamera kecil ke dalam mulut atau anus kucing, pemindaian tomografi terkomputasi (CT scan), serta pencitraan resonansi magnetik (MRI). Pemeriksaan laboratorium terkadang juga diperlukan untuk memeriksa darah atau urin kucing.
Sementara untuk pengobatan kanker pada kucing, memiliki banyak metode, mulai dari pembedahan tumor yang terlokalisasi dan dapat diangkat, kemoterapi yang dilakukan sesuai kondisi kucing, terapi radiasi sebagai pelengkap pembedahan untuk tumor yang tidak sepenuhnya dapat diangkat atau tidak dapat dioperasi, hingga perawatan paliatif untuk mengoptimalkan kualitas hidup kucing saat pengobatan sudah tidak ada pilihan lagi.
Meski demikian, kanker pada kucing juga dapat dicegah. Salah satunya adalah dengan sterilisasi dini sebelum kucing berumur enam bulan. Cara ini dianggap efektif mengurangi risiko tumor kelenjar susu kucing yang seringkali bersifat ganas. Untuk menurunkan risiko sarkoma, kucing sebaiknya divaksinasi sesuai pedoman kedokteran hewan yang ada hingga tidak kekurangan atau justru kelebihan.
Penting juga untuk menimalkan paparan karsinogenik lingkungan di sekitar kucing, mulai dari asap rokok, sinar ultraviolet yang berlebihan khususnya untuk kucing berwarna terang yang berisko terkenal karsinoma sel skuamosa, seperti di telinga dan hidung. Pastikan pula kucing terpenuhi haknya untuk mendapat pemeriksaan kesehatan rutin serta pastikan kucing sering berada di dalam rumah guna mengurangi kemungkinan tertular FeLV.
Jika kanker pada manusia merupakan hal yang menyakitkan, maka kondisi sama juga dialami kucing. Kucing mungkin kurang mampu mengekspresikan atau menunjukkan rasa sakitnya, namun dia sama menderita seperti yang dirasakan manusia. Karena itu, kepedulian dan kepekaan dari manusia penting guna memastikan semua kucing, dan binatang-binatang lainnya, bisa hidup sehat dan sejahtera.





