Moskow: Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, memperingatkan bahwa Moskow dapat terpaksa menggunakan senjata nuklir non-strategis apabila Inggris dan Prancis memberikan senjata nuklir kepada Ukraina.
Melalui aplikasi pesan Max, Medvedev menyatakan informasi dari Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia mengenai dugaan niat London dan Paris untuk mentransfer teknologi nuklir ke Kyiv “secara radikal dapat mengubah situasi.”
Medvedev, yang pernah menjabat sebagai presiden Rusia pada 2008–2012 saat Vladimir Putin menjadi perdana menteri, menegaskan langkah pengiriman senjata akan dianggap sebagai “transfer langsung senjata nuklir kepada negara yang sedang berperang.”
“Tidak ada sedikit pun keraguan bahwa dalam skenario seperti itu, Rusia harus menggunakan segala jenis senjata, termasuk senjata nuklir non-strategis, terhadap target di Ukraina yang menimbulkan ancaman bagi negara kami,” tegasnya, dikutip dari Anadolu Agency, Rabu, 25 Februari 2026.
Dan, jika diperlukan, juga terhadap negara pemasok yang menjadi pihak dalam konflik nuklir dengan Rusia. Ini adalah respons simetris yang menjadi hak Federasi Rusia,” lanjut Medvedev.
Dalam pernyataan terpisah, juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan bahwa rencana yang dilaporkan tersebut penting diperhatikan “dari sudut pandang ancaman yang ditimbulkannya terhadap seluruh rezim non-proliferasi, termasuk dalam konteks konflik panas yang sedang berlangsung di Eropa, di benua Eropa.”
“Ini merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap semua norma, prinsip, dan perangkat hukum internasional yang relevan,” tuturnya.
Di hari yang sama, Dinas Intelijen Luar Negeri Rusia menuduh Inggris dan Prancis berencana memberikan senjata nuklir kepada Ukraina, dengan menyatakan langkah itu berpotensi memperkuat posisi Kyiv dalam perundingan damai.
Baca juga: Rusia Tuduh Inggris dan Prancis Berencana Kirim Senjata Nuklir ke Ukraina




