Grid.ID - Bulan Ramadan dimanfaatkan oleh Fairuz A Rafiq dan Sony Septian sebagai momentum untuk menanamkan nilai-nilai agama dan karakter kepada anak-anak sejak dini. Di tengah kesibukan keduanya sebagai orang tua dan figur publik, Fairuz dan Sony memilih cara yang sederhana namun konsisten yaitu membuat rapor Ramadan.
Rapor Ramadan ini bukan sekadar alat evaluasi, melainkan media pembelajaran yang dikemas menyenangkan agar anak-anak termotivasi menjalani ibadah dengan penuh kesadaran. Fairuz menjelaskan bahwa rapor tersebut mencakup berbagai aspek, tidak hanya soal hafalan Al-Qur’an.
Rapornya itu ada tentang tingkah laku, adab, akhlak, ada stikernya dikasih poin-poin,” jelas Fairuz di kawasan Jakarta Selatan pada Selasa (24/2/2026).
Setiap anak memiliki papan penilaian masing-masing yang ditempel dan dipantau setiap hari. Sistemnya dibuat sederhana agar mudah dipahami oleh anak-anak. Jika suatu tugas berhasil dilakukan, mereka akan mendapatkan stiker. Namun jika tidak, akan muncul tanda sedih sebagai pengingat.
"Kalau ada sedih ini berarti enggak dilakukan. Kalau ada stiker berarti dilakukan,” ujar Fairuz.
Menurut Fairuz, pendekatan visual seperti stiker dan simbol emosi sangat efektif untuk anak-anak. Mereka jadi lebih mudah memahami mana perilaku yang baik dan mana yang perlu diperbaiki, tanpa harus dimarahi atau ditekan.
Adapun tugas-tugas dalam rapor Ramadan ini mencakup aktivitas harian yang bertujuan membentuk karakter dan kebiasaan positif.
"Ngaji setiap hari, sholat 5 waktu tepat waktu, jangan marah-marah, hormat sama orang tua, enggak boleh berantem,” paparnya.
Fairuz menegaskan bahwa nilai akhlak dan adab menjadi perhatian utama dalam rapor tersebut. Baginya, kecerdasan dan hafalan saja tidak cukup jika tidak diiringi sikap yang baik. Karena itu, aspek perilaku sehari-hari mendapat porsi penilaian yang sama pentingnya.
Selain rapor adab dan perilaku, Fairuz juga membuat rapor khusus hafalan Al-Qur’an. Rapor ini ia tulis sendiri dan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak.
"Kalau hafalan Qur’an ini aku tulis sendiri. Kalau ada bintangnya berarti berhasil,” kata Fairuz.
Ia menekankan bahwa hafalan Al-Qur’an harus dijaga dengan muraja’ah atau pengulangan secara rutin.
"Tujuannya mengulang semua surat yang pernah dia hafal agar tidak lupa. Surat baru nambah, surat lama lupa itu enggak bisa,” tegasnya.
Bagi Fairuz, konsistensi jauh lebih penting daripada sekadar menambah jumlah hafalan. Ia ingin anak-anaknya benar-benar memahami bahwa menjadi penghafal Al-Qur’an membutuhkan proses panjang, kesabaran, dan disiplin.
Sony Septian pun menambahkan bahwa keterlibatan orang tua dalam proses ini memiliki nilai spiritual tersendiri.
"Kalau sebagai orang tua tidak andil, sayang pahalanya cuma ke guru. Kita juga pengen jadi bagian dari proses hafalan mereka,” ujarnya.
Menurut Sony, mendampingi anak menghafal Al-Qur’an bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga ladang pahala bagi orang tua. Karena itu, ia dan Fairuz berusaha hadir langsung dalam setiap proses, meski anak-anak juga dibimbing oleh guru.
Hasil dari metode ini pun terasa nyata. Anak-anak menjadi lebih bersemangat menjalani ibadah dan berlomba-lomba melakukan kebaikan selama Ramadan.
"Semenjak dikasih ini, anak-anak termotivasi melakukan hal-hal baik lebih baik lagi,” kata Fairuz. (*)
Artikel Asli




