”Ahhhhhh…..,” ucap Hafid setelah membatalkan puasa dengan seteguk teh panas di pinggir jalan di kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (25/2/2026). Sore itu, cuaca Jakarta cukup cerah, hembusan angin menemani para pekerja yang berbuka puasa di jalan.
Hafid adalah pedagang kopi keliling yang ketika jelang waktu berbuka terlihat sibuk melayani pembeli. Kebanyakan para pembeli adalah pengemudi ojek daring dan para pekerja pusat perbelanjaan yang berada di sekitar tempat ia berjualan. Sesekali pengemudi mobil yang kebetulan melintas turut berbelanja minuman.
Tak jauh dari gerobak kopi Hafid, deretan pengemudi ojek daring duduk ngemper di trotoar sambil berbagi gorengan saat jam buka puasa.
Di seberang jalan, dua orang pekerja, masih dengan pakaian kerjanya juga terlihat tengah menikmati takjil yang mereka beli untuk berbuka puasa. Es campur berwarna merah muda yang di bungkus plastik tergolek di depan mereka yang duduk sekenanya di atas trotoar.
Sepasang muda mudi pun tampak tengah berbuka puasa di atas sepeda motor yang menepi di pinggir jalan.
Langit biru senja perlahan mulai gelap, lampu-lampu dari iklan dan dekorasi pusat perbelanjaan berwana-warni menghiasi senja, seolah menjadi pengantar menuju malam.
Patung Selamat Datang masih kokoh berdiri di puncak air mancur Bundaran Hotel Indonesia yang berhiaskan lampu. Begitu juga pepohonan tepat di depan Hotel Kempinski yang tampak elok karena diselimuti oleh lampu-lampu kecil yang terlihat indah seperti labirin. Sesekali pejalan kaki melintas di antaranya.
Di depan Plaza Indonesia, pejalan kaki berlalu lalang melintasi dekorasi bernuansa Ramadhan berbentuk bulan sabit dan bintang. Kebanyakan adalah para pekerja kantoran dengan lanyard yang masih tergantung di leher.
Dekorasi lampu yang terang itu menciptakan siluet pejalan kaki. Di belakangnya, terlihat warga tengah duduk santai sambil menikmati bekal makanan yang dibawa. Walau di jalan, berbuka puasa terasa nikmat jika disyukuri.





