Tadarus Ramadan, Warisan Tradisi Islam yang Terus Menggema

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Malam di bulan Ramadan selalu punya denyut yang berbeda. Selepas tarawih, kala langit mulai lengang, suara lantunan ayat suci terdengar dari masjid, surau, hingga sudut gang-gang di perkampungan.

Ada yang membaca dengan suara pelan, ada pula yang mengalun mantap dengan irama tartil, atau bahkan seadanya. Itulah tadarus, tradisi yang tak sekadar membaca, tetapi merawat hubungan manusia dengan wahyu Tuhan.

Di tengah dunia yang bergerak serba cepat, tadarus Ramadan tetap menemukan ruangnya. Ia hadir bukan hanya di masjid kampung, tetapi juga di layar gawai, ruang-ruang virtual, bahkan siaran langsung di media sosial.

Tradisi ini membuktikan satu hal, bahwa warisan Islam yang berakar pada Al-Qur’an selalu mampu berdialog dengan zaman.

Ia tidak membeku sebagai ritus seremonial belaka, melainkan bergerak, beradaptasi, dan menemukan medium baru tanpa kehilangan substansinya.

Di desa, ia tetap hidup lewat lingkaran kecil selepas tarawih. Sedangkan di kota, ia menjelma menjadi majelis yang terjadwal, tertib dan sistematis.

Dengan demikian, tadarus bukan hanya jejak masa lampau, tetapi juga praktik keagamaan yang responsif terhadap perubahan sosial.

Makna Tadarus: Dari Akar Bahasa hingga Spirit Kebersamaan

Secara etimologis, kata tadarus berasal dari bahasa Arab darasayadrusu yang berarti “mempelajari” atau “menelaah”. Ini menunjukkan adanya makna timbal balik atau saling belajar sekaligus saling mengkaji.

Itu artinya, tadarus bukan sekadar membaca Al-Qur’an secara individual, melainkan aktivitas kolektif, satu membaca yang lain menyimak, lalu saling mengoreksi dan memahami.

Makna ini sejalan dengan hadis riwayat sahabat Abdullah bin Abbas yang menjelaskan bahwa setiap Ramadan, Nabi Muhammad saw. bertadarus bersama Malaikat Jibril.

Dalam riwayat sahih yang tercantum dalam Sahih Bukhari-Muslim, disebutkan bahwa Jibril mendatangi Nabi saw. untuk “mudarasah” Al-Qur’an, yakni sebuah aktivitas menyimak dan meneguhkan bacaan wahyu yang telah turun.

Pada tahun terakhir sebelum wafat, tadarus itu bahkan dilakukan dua kali. Tradisi ini menegaskan bahwa Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca, tapi juga dikaji, diulang, dan dipastikan ketepatan bacaannya.

Nabi Membaca, Menjelaskan, dan Menafsirkan

Dalam praktiknya, Rasulullah tidak hanya melantunkan ayat-ayat Al-Qur’an. Beliau juga menjelaskan makna, konteks turunnya ayat (asbabun nuzul), serta memberi teladan penerapan dalam kehidupan sehari-hari.

Penjelasan Nabi inilah yang kemudian menjadi fondasi ilmu tafsir.

Para sahabat seperti Abdullah bin Masud dan Ubayy bin Ka'ab dikenal sebagai penghafal sekaligus pengajar Al-Qur’an. Tradisi belajar secara berantai (sanad) inilah yang kemudian dapat menjaga otentisitas bacaan hingga kini.

Dalam perkembangan ilmu qira’at, konsep ini dikenal dengan Qira’ah Sab‘ah, yaitu tujuh ragam bacaan Al-Qur’an yang mutawatir, yang kemudian dihimpun oleh ulama seperti Ibn Mujahid pada abad ke-4 Hijriah.

Keberagaman qira’at ini kemudian menunjukkan kekayaan transmisi bacaan Al-Qur’an, sekaligus memperlihatkan betapa seriusnya umat Islam dalam menjaga kemurnian dan kepresisian teks suci.

Dalam konteks tadarus, pemahaman tentang tajwid dan qira’at menjadi bagian dari upaya menjaga kemurnian bacaan.

Dari Jazirah Arab ke Nusantara

Pada abad ke-13, tradisi tadarus ini akhirnya sampai ke Nusantara, disebarluaskan melalui jalur dakwah dan perdagangan lintas negara bahkan benua.

Para ulama dan saudagar Muslim kala itu bukan hanya membawa ajaran fikih dan akhlak, tetapi juga tradisi membaca Al-Qur’an secara kolektif.

Di surau-surau Minangkabau, langgar di Jawa, hingga pesantren-pesantren klasik di berbagai daerah, tadarus telah menjadi denyut spiritual Ramadan yang mengakar dan berkelanjutan.

Di banyak daerah di Indonesia, tadarus dilakukan selepas tarawih hingga menjelang sahur. Anak-anak belajar mengeja, para remaja memperbaiki tajwid, dan orang tua menyimak dengan khidmat.

Hal ini menandakan bahwa tradisi ini bukan sekadar ibadah personal, tetapi ruang sosial yang mempertemukan generasi lintas zaman.

Tradisi di Negeri-Negeri Melayu

Di Malaysia dan Brunei Darussalam, tadarus dikenal luas sebagai “Majlis Tadarus Al-Quran” yang digelar di masjid, kantor pemerintahan, hingga lembaga pendidikan sepanjang Ramadan.

Bahkan di Singapura, komunitas Muslim mengadakan tadarus terjadwal di masjid-masjid besar yang mempertemukan jamaah lintas usia dan latar belakang.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tadarus bukan tradisi lokal semata, melainkan praktik kolektif umat Islam di kawasan Melayu yang memperkuat identitas religius sekaligus kebersamaan sosial.

Makna dan Keutamaan Tadarus Al-Qur’an

Al-Qur’an sendiri menyebut dirinya sebagai hudā (petunjuk) dan syifā’ (penawar). Membacanya di bulan Ramadan memiliki nilai spiritual yang istimewa, sebab Ramadan adalah bulan turunnya Al-Qur’an.

Dalam hadis riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa setiap huruf yang dibaca bernilai kebaikan berlipat ganda.

Namun lebih dari pahala, tadarus menghadirkan ketenangan batin. Ia melatih kesabaran, ketelitian, dan kepekaan spiritual. Dalam konteks modern, tadarus bahkan menjadi terapi sosial yang dapat mengurangi jarak antargenerasi dan memperkuat solidaritas komunitas.

Kiwari, tadarus juga hadir dalam bentuk digital seperti aplikasi Al-Qur’an, kelas daring, program One Day One Juz (ODOJ), hingga siaran langsung khataman.

Ini menandakan bahwa teknologi tidak serta-merta dapat menggantikan tradisi, melainkan memperluas jangkauannya hingga ke pelosok negeri.

Malam Ramadan mungkin tak lagi sama seperti beberapa dekade lalu. Kota-kota semakin terang, suara kendaraan kian riuh.

Namun di antara semua perubahan itu, lantunan Al-Qur’an tetap menggema. Tadarus menjadi pengingat bahwa ada nilai yang tak tergeser oleh waktu.

Tapi justru di situlah kekuatannya, ia sederhana, tetapi mendalam. Ia sunyi, tetapi menggetarkan.

Selama Ramadan masih hadir dan umat Islam masih merindukan cahaya petunjuk, tadarus akan terus hidup, mengalun, mengakar, dan terus menjaga ruh peradaban.[*]


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Warga Bantul Lestarikan Tradisi Buka Bersama dengan Bubur Sayur Lodeh Tempe
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Natuna Siaga Darurat Bencana Hingga Maret 2026
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Disambut Putra Mahkota dan Dikawal Jet Tempur, Kunjungan Prabowo ke Yordania Dibuka dengan Kehormatan Militer Tinggi
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Menteri LH: Tahun Ini Harus Berani Jalankan Penegakan Hukum Pengelolaan Sampah
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Arief Hidayat: Pilkada Lewat DPRD Bertentangan dengan Putusan MK
• 17 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.