Sejumlah nama perusahaan menguat jelang pengumuman lelang Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia).
WtE merupakan program nasional yang dirancang untuk mengolah sampah kota menjadi energi listrik. Proyek ini nantinya sebagai solusi kedaruratan sampah sekaligus upaya mendukung ketahanan energi nasional. Pemenang tender tahap pertama dijadwalkan bakal digelar awal Februari.
Nilai investasi proyek ditaksir mencapai Rp 91 triliun, dengan investasi per proyek berkisar Rp 2,5 triliun sampai Rp 3,2 triliun. Proyek yang diklaim bakal atasi permasalahan timbunan sampah Indonesia ini ditargetkan dibangun di 33 lokasi, dengan per proyek mengelola 1.000 ton sampah per harinya.
Adapun pada tahap pertama, pengumuman tender nantinya ditujukan untuk empat wilayah yaitu Bogor, Denpasar, Yogyakarta, dan Bekasi. Di samping itu sejumlah nama emiten menguat jelang pengumuman itu.
Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Mentor Baik, Thomas William atau Thowilz membocorkan yang akan menang tender proyek itu justru kemungkinan nama yang belum didengar di kalangan emiten pembangkit sampah.
Ia menyebut perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan komoditas mineral yakni PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) justru masuk dalam radar pemenang proyek jumbo itu. Seiring dengan rumor itu, Thomas William juga menyebut akhir-akhir ini volume perdagangan DAAZ di pasar modal juga tinggi.
“Justru yang saya lagi dengar beredar di market rumor, belum keluar ya, nanti kita coba lihat aja bener atau gak tapi sounding-sounding di market udah mulai ke arah sana (DAAZ),” katanya dalam kanal Youtube Ajaib Investasi, dikutip Kamis (26/2).
Ia menilai sektor waste to energy (WTE) masih menjadi sentimen yang cukup menarik di pasar. Menurutnya, masih ada potensi kejutan apabila pada akhirnya proyek tersebut nantinya dimenangkan oleh PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) karena skenario itu dinilai belum banyak diperkirakan oleh pelaku pasar.
Menurut dia selama ini investor biasanya hanya mengaitkan proyek WtE dengan sejumlah emiten seperti TOBA, OASA, dan MHKI.
"Tapi yang saya denger sih kayaknya yang bakal dapet malah bukan emiten yang terkait itu yang malah belum didengar market,” ujarnya.
Sinyal lain datang dari PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA). Manajemen OASA disebut sudah melakukan beberapa kali pertemuan dengan Danantara mengenai proyek ini. Manajemen OASA bahkan disebut telah bersiap untuk langkah selanjutnya.
Apa saja emiten lain yang mungkin terdampak proyek WtE?
Daaz Bara Lestari (DAAZ)
Daaz Bara Lestari, didirikan pada 2009, awalnya berfokus pada perdagangan komoditas. Seiring perkembangan dan kebutuhan pasar, perusahaan ini tumbuh menjadi bisnis terdiversifikasi dengan tiga pilar utama: perdagangan komoditas (seperti bijih nikel, batubara, dan solar), jasa angkutan laut, serta layanan pertambangan.
Adapun DAAZ mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) dua tahun lalu, pada November 2024 dan menunjuk PT Henan Putihrai Sekuritas dan PT CGS Sekuritas Indonesia sebagai penjamin dan pelaksana emisi efek perseroan.
Dalam penawaran umum perdana saham atau initial public offering/IPO, perusahaan mematok harga IPO Rp 880 per saham dari rentang harga Rp 835–900 per lembar. Perusahaan yang bergerak di industri logam itu melepas maksimal 300 juta lembar saham atau 15,02% dari modal disetor dan ditempatkan pasca IPO. Dari aksi korporasi ini, perusahaan meraup dana segar maksimal Rp 264 miliar.
Di sisi lain, para pemain yang saat ini bergerak di bisnis pengolahan sampah antara lain PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA), PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA), PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC), PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), dan PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI).
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA)
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) mengungkapkan total investasi untuk dua proyek Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy (WtE) senilai Rp 8 triliun. Kedua proyek yang tengah digarap terletak di Jakarta Barat dan Tangerang Selatan.
Direktur Utama Maharaksa Biru Energi, Bobby Gafur Umar menyebut realisasi proyek akan dilakukan secara bertahap, dengan pelaksanaan berskala besar direncanakan pada 2027. Sementara pada 2026, perusahaan masih fokus pada tahap persiapan, mulai dari pembebasan lahan, perizinan, hingga studi oleh konsultan.
“Memang total investasi dari dua proyek yang sudah kita miliki, nilainya termasuk financial cost juga, termasuk capex juga, mendekati di atas Rp 8 triliun,” ujar Bobby dalam paparan publik OASA secara virtual, dikutip Jumat (19/12).
Selain itu ia menjelaskan perseroan telah menyiapkan sejumlah skema pembiayaan dan pengembangan proyek. Salah satunya melalui kemitraan, termasuk dengan mitra asal Cina yang telah lolos dalam Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) Pemilihan Mitra Kerja Sama Badan Usaha Pengembang dan Pengelola Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik (BUPP PSEL) Danantara.
PLTSa Tangerang Selatan
Adapun Proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Tangerang Selatan akan dikembangkan oleh Badan Usaha Pelaksana PT Indoplas Tianying Energy, yang merupakan kerja sama antara PT Indoplas Energi Hijau dengan kepemilikan 76% dan China Tianying Inc sebesar 24%.
Proyek ini dialokasikan di atas lahan seluas 5,53 hektare. PSEL Tangerang Selatan memiliki kapasitas pengolahan sampah hingga 1.100 ton per hari, terdiri dari 1.000 ton sampah baru dan 100 ton sampah lama atau hasil penambangan. Dari pengolahan tersebut, fasilitas ini ditargetkan menghasilkan listrik dengan kapasitas terpasang 25 MW, gross output sebesar 23,14 MW, dan kapasitas bersih (nett) mencapai 19,62 MW.
Listrik yang dihasilkan akan dijual dengan tarif sebesar US$ 0,1335 per kWh untuk periode tahun pertama hingga tahun ke-30. Selain itu, proyek ini juga memperoleh pendapatan dari tarif pengolahan sampah atau tipping fee sebesar Rp 529.000 per ton. Kemudian total kebutuhan investasi proyek PSEL Tangerang Selatan mencapai Rp 2,30 triliun atau setara dengan US$ 139,9 juta, yang mencakup pembangunan fasilitas pengolahan, instalasi pembangkit, serta infrastruktur pendukung lainnya.
PLTSA Jakarta Barat
Di samping itu proyek PSEL di Jakarta Barat akan dikembangkan oleh PT Jakarta Propertindo (Jakpro) bersama konsorsium WIKA–Indoplas di atas lahan seluas sekitar 8 hektare, termasuk untuk akses jalan, yang berlokasi di Jalan Sultan Hamengkubuwono IX, Cakung, Jakarta Timur.
PSEL Jakarta Barat memiliki kapasitas pengolahan sampah baru hingga 2.000 ton per hari, dengan kebutuhan air sekitar 600 ton per hari. Dari pengolahan sampah tersebut, fasilitas ini ditargetkan menghasilkan listrik dengan kapasitas terpasang sebesar 43 MW, gross output mencapai 41,30 MW, dan kapasitas bersih (nett) sebesar 35,52 MW.
Listrik yang dihasilkan akan dijual dengan tarif US$ 0,1184 per kWh untuk periode kontrak tahun pertama hingga tahun ke-30. Selain itu, proyek ini juga memperoleh pendapatan dari tarif pengolahan sampah atau tipping fee sebesar Rp 595.000 per ton. Adapun total kebutuhan investasi proyek PSEL Jakarta Barat, termasuk pengadaan lahan, diperkirakan mencapai US$ 398 juta atau setara dengan Rp 6,57 triliun.
PT Solusi Environment Asia Tbk (SOFA)
SOFA merupakan perusahaan produsen furnitur dengan nama perusahaan Boston Furniture Industries. Lalu pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang berlangsung Desember 2025 lalu, perusahaan mengganti lini bisnis hingga nama perusahaan menjadi Solusi Environment Asia.
Seiring dengan perubahan nama, SOFA mengumumkan akan fokus mengembangkan usaha di bidang energi terbarukan hingga mengincar proyek pembangkit sampah Waste to Energy (WtE) Danantara.
Direktur SOFA, Ezra Mohammed Dhanaguna, mengatakan perseroan juga telah mengubah nama anak usaha PT Pratama Satya Prima (PSP) menjadi PT Parivarta Energi Nusantara (PEN), seiring rencana pengembangan usaha di bidang energi terbarukan pasca akuisisi.
Dalam aksi itu, pemegang saham menyetujui peningkatan modal ditempatkan dan disetor PEN. Seluruh tambahan modal akan diambil oleh PT Sebelas Bersaudara Sinergi yang menjadi pemegang saham baru PEN.
Nantinya PEN membentuk konsorsium bersama Hunan Construction Engineering Group Co. dan Kintan Usahasama Sdn. Bhd. untuk mengikuti tender proyek waste-to-energy yang diselenggarakan oleh PT Danantara Investment Management.
Ezra mengatakan Saat ini Perseroan masih menunggu hasil proses tender yang sedang berjalan. Apabila berdasarkan hasil tender tersebut konsorsium, di mana Perseroan merupakan salah satu anggotanya, dinyatakan sebagai pemenang, maka sesuai dengan ketentuan tender yang berlaku.
Ia mengatakan saat ini SOFA akan nantinya akan membentuk perusahaan baru bersama dengan anggota konsorsium lainnya. Selanjutnya SOFA akan melaksanakan proyek WTE dengan PT Danantara Investment Management (Persero) dengan syarat yang ditentukan PT Danantara Investment Management (Persero).
“Hingga saat ini belum terdapat keputusan final terkait hasil tender dimaksud maupun kepastian realisasi tindakan korporasi tersebut,” ucap Ezra dalam keterbukaan informasi BEI, dikutip Senin (26/1).
Namun perusahaan belum menjelaskan lebih lanjut soal lokasi proyek pembangkit sampahnya. Kanal resmi perusahaan kini juga tak memberikan informasi apapun.
PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC)
IMPC merupakan perusahaan produsen dan distributor bahan bangunan dan barang plastik. Lalu pada November 2025 lalu perusahaan mengumumkan bahwa melalui anak usahanya, PT Sirkular Karya Indonesia (SKI), IMPC menggandeng PT CCEPC Indonesia (CCEPC) mengembangkan proyek pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) atau waste-to-energy (WTE) di Bali.
CCEPC Indonesia merupakan perusahaan yang memberikan solusi inovatif dan berkelanjutan di sektor energi bersih, pengolahan air limbah dan pengolahan gas buang. Selain itu juga ada pengolahan lumpur, serta perlindungan dan remediasi lingkungan. Lewat kerja sama ini, SKI akan menyediakan dukungan investasi.
Sementara itu CCEPC memberikan dukungan teknis sebagai kontraktor EPC (Engineering, Procurement, Construction) dan O&M (Operation & Maintenance). Kemudian CCEPC menyusun studi kelayakan untuk SKI, melakukan kunjungan lokasi, menilai seluruh jenis limbah yang tersedia di pabrik SKI.
Perusahaan juga memberikan dukungan penuh secara eksklusif agar SKI memenangkan setiap tender yang diikuti SKI. Direktur Utama Sirkular Karya Indonesia, Sugiarto Romeli, mengatakan kolaborasi ini menjadi langkah penting bagi SKI untuk memperkuat komitmen di bidang keberlanjutan.
Direktur Utama Sirkular Karya Indonesia, Sugiarto Romeli, mengatakan kolaborasi ini menjadi langkah penting bagi SKI untuk memperkuat komitmen di bidang keberlanjutan.
Sugiarto juga menyebut SKI optimistis proyek WtE di Bali dapat menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang lebih efektif dan ramah lingkungan. Ia juga mengatakan SKI terus berupaya mengambil peran dalam mendorong inisiatif hijau, termasuk pengembangan solusi daur ulang dan penerapan ekonomi sirkular.
“Kami berharap langkah ini dapat semakin memperkuat kontribusi SKI dalam mendorong praktik berkelanjutan di Indonesia," kata Sugiarto dalam keterangannya, Selasa (25/11).
PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI)
Astrindo Nusantara Infrastruktur merupakan perusahaan yang bergerak di bidang migas dan infrastruktur batu bara tengah mengincar proyek PSEL Danantara.
Direktur Utama Astrindo Nusantara Infrastruktur, Raymond Anthony Gerungan, mengatakan BIPI telah menggarap proyek sejenis pembangkit sampah sejak lebih dari tiga tahun lalu. Namun karena ada pergantian kebijakan dari pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah, proyek perusahaan harus mengalami sejumlah penyesuaian.
“Sebetulnya kami sudah menjalani proyek-proyek begini lebih dari tiga tahun,” ujar Raymond dalam paparan publik September 2025 lalu.
Menurutnya, BIPI saat ini akan fokus mencari pendanaan setelah studi kelayakan proyek waste-to-energy tersebut rampung. Tak hanya itu ia juga memperkirakan, proyek ini akan membutuhkan investasi sekitar US$ 300 juta hingga US$ 350 juta.
Di samping itu, berdasarkan materi paparan publik perusahaan, BIPI menyebut tengah mengembangikan pabrik limbah menjadi energi di Pulau Jawa. Namun, perusahaan belum mengungkapkan lokasi spesifik proyek maupun skema bisnisnya.
Tak hanya itu, BIPI juga belum membeberkan konsorsium atau mitra strategis yang akan digandeng dalam proyek jumbo tersebut.
Namun dalam inisiatif hijau, Astrindo Nusantara Infrastruktur mengembangkan sejumlah proyek energi terbarukan. Di antaranya pemasangan PLTS atap dan terapung berkapasitas 5 MW, turbin angin lepas pantai berkapasitas 5 MW di fasilitas pemuatan tongkang.
Kemudian perusahaan juga menjalankan pembangkit mini hidro di sungai Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur dengan total kapasitas 2 x 7,5 MW. Lalu pembangkit biomassa berbahan baku limbah sawit (PKS) dan woodchip kapasitas 2 x 7,5 MW.
Menariknya BIPI kedatangan investor baru. Pada 25 Februari 2025 kemarin, Perusahaan holding investasi Grup Bakrie, PT Bakrie Capital Indonesia (BCI), memborong saham BIPI hingga 3,82 miliar saham.
Berdasarkan laporan kepemilikan saham, Bakrie Capital Indonesia membeli di harga Rp 248 pada 24 Februari 2026 dengan tujuan investasi. Kini Bakrie Capital Indonesia menguasai saham BIPI hingga 6%.
Adapun emiten yang dikendalikan langsung oleh Bakrie Capital Indonesia adalah PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Bakrieland Development Tbk (ELTY),PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP).
Seiring dengan masuknya Bakrie di BIPI, harga saham BIPI pada akhir perdagangan hari ini, Rabu (25/2), terpantau melesat 17,78% dan parkir di level Rp 322 per unit. Kapitalisasi pasarnya tembus Rp 20,51 triliun. Sementara itu, dalam tiga bulan terakhir saham BIPI sudah melonjak 245,65% dan dalam sebulan terakhir melesat 38,26%.
PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI)
Multi Hanna Kreasindo didirikan pada 23 September 2004 dan bergerak di bidang pengelolaan limbah industri. Perseroan telah memperoleh perizinan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk kegiatan pengangkutan, pengumpulan, serta pemanfaatan limbah B3 dan non-B3.
Berdasarkan kanal resmi perusahaan, kegiatan usaha MHKI meliputi pengangkutan dan pengumpulan limbah, pengolahan limbah cair, limbah media, limbah padat, serta pemanfaatan limbah.
Setelah memperoleh persetujuan AMDAL pada 21 Februari 2007 dan terbitnya Surat Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup terkait kelayakan lingkungan kegiatan pemanfaatan limbah logam (B3 dan non-B3), pengumpulan minyak pelumas bekas, serta limbah non-B3, MHKI mengembangkan usahanya menjadi penyedia layanan terpadu yang mencakup pengangkutan, pengumpulan, pengolahan, dan pemanfaatan limbah.
Seluruh kegiatan tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Lingkungan Hidup, serta Pemerintah Kota Bekasi dalam mengurangi dampak negatif limbah B3 terhadap lingkungan melalui penerapan prinsip 3R (Reuse, Recycling, Recovery).
Dalam mendukung operasionalnya, MHKI dilengkapi dengan berbagai fasilitas, antara lain Waste Water Treatment Plant (WWTP) untuk memastikan air limbah memenuhi baku mutu lingkungan.
Lalu MHKI juga memiliki gedung peleburan yang dilengkapi dust collector dan scrubber untuk mengendalikan pencemaran udara, serta incinerator untuk pengelolaan limbah medis infeksius dari rumah sakit, klinik, dan fasilitas layanan kesehatan.
MHKI juga telah menjalin kerja sama dengan sejumlah perusahaan energi dan industri besar, seperti Pertamina, PLN, dan PLTU, serta bermitra dengan pihak ketiga berizin melalui skema co-processing sebagai bagian dari konsep total solution–zero pollutant.
Namun hingga kini perusahaan belum memberikan pernyataan terkait mengikuti proyek pembangkit sampah menjadi energi listrik Danantara.
Daftar 24 Perusahaan Lolos DPT Mitra PSEL Danantara
Danantara Investment Management (Persero) mengumumkan daftar peserta yang lolos seleksi masuk Daftar Penyedia Terseleksi (DPT) Pemilihan Mitra Kerja Sama Badan Usaha Pengembang dan Pengelola Pengolah Sampah Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan Menjadi Energi Listrik (BUPP PSEL).
“Banyak orang yang melihat ini sebagai peluang yang bagus, dan juga impact social-nya kan besar, jadi ketertarikannya besar,” ujar Managing Director Investment Danantara Indonesia Stefanus Ade kepada wartawan di Jakarta, Senin (3/11).
Berikut 24 daftar perusahaan yang lolos:
- Mitsubishi Heavy Industries Environmental & Chemical Engineering
- ITOCHU Corporation
- China Everbright Environment Group Limited
- Kanadevia Corporation
- PT MCC Technology Indonesia (MCC)
- China National Environmental Protection Group Co., Ltd (CECEP)
- GCL Intelligent Energy (Suzhou) Co., Ltd.
- Chongqing Sanfeng Environment Group Corp., Ltd
- Dynagreen Environmental Protection Group Co., Ltd
- SUS Indonesia Holding Limited
- Veolia Environmental Services Asia Pte. Ltd
- Hunan Construction Engineering Group Co., Ltd
- CEVIA Enviro Inc.
- China Conch Venture Holding Limited
- China TianYing Inc
- PT Jinjiang Environment Indonesia
- Wangneng Environment Co., Ltd
- Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd
- Beijing China Sciences Runyu Environmental Technology Co.,Ltd. (CSET)
- Tianjin TEDA Environmental Protection Co., Ltd
- Grandblue Environment Co., Ltd
- Beijing GeoEnviron Engineering & Technology, Inc
- Wuhan Tianyuan Group Co., Ltd
- QiaoYin City Management Co., Ltd
Berikut rencana eksekusi bertahap proyek WteE untuk tahun 2025-2026:
- Oktober–Desember 2025: Seleksi DPT & RFP
- Januari 2026: Penyampaian Proposal
- Januari–Februari 2026: Evaluasi Proposal
- Februari 2026: Negosiasi & Penetapan Mitra
- Maret–Mei 2026: Penutupan Hukum & Persiapan EPC
Maret–Juni 2026: Groundbreaking proyek secara bertahap.




