FAJAR, JAKARTA – Sebuah video skandal Luras Taslim viral dan mengguncang jagat maya. Rekaman tersebut memperlihatkan aksi histeris seorang wanita pemilik warung. Tempat usahanya ditertibkan oleh aparat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Namun, insiden ini bukan sekadar penertiban biasa. Di balik itu terungkap sebuah pengakuan mengejutkan. Pemilik warung mengaku rela dikeloni (ditiduri) Lurah Taslim agar tempat usahanya tidak digusur.
Dalam video yang kembali viral pada Senin(23/2/2026) tersebut, pemilik warung tampak sangat terpukul dan tidak kuasa menahan amarahnya.
Ia merasa telah menjadi korban harapan palsu dari oknum aparat desa. Sang Lurah sebelumnya menjanjikan perlindungan agar warungnya tidak ikut digusur.
Kenyataan pahit harus ia telan saat alat berat tetap merobohkan satu-satunya sumber penghasilannya tersebut tanpa sisa.
“Warunge nyong ambruk, jare arep dibantu (Warung saya roboh, katanya mau dibantu),” teriaknya di tengah isak tangis yang memilukan.
Hal yang paling memicu kegemparan publik adalah keberanian wanita tersebut membongkar dugaan syarat yang diminta oleh oknum kades.
Menggunakan logat bahasa Jawa Ngapak yang kental, ia melontarkan pernyataan frontal terkait dugaan penyalahgunaan jabatan demi pemuasan nafsu.
Wanita ini mengaku sempat diminta memberikan imbalan berupa hubungan badan agar warungnya mendapat jaminan keamanan dari penertiban.
“Ndi Lurahe dikon mene, Lurahe njaluk dikeloni nyong yo gelem (Mana Kadesnya suruh ke sini, dia minta tidur bersama saya ya saya mau),” tegasnya dengan nada tinggi yang penuh emosi.
Tak hanya sekadar melempar tuduhan anonim, wanita dalam video tersebut secara spesifik menyebutkan identitas pejabat yang ia maksud. Ia berkali-kali meneriakkan nama figur yang dianggapnya telah berkhianat.
“Aku tidak terima, katanya mau membantu. Di mana kamu Lurah Taslim, Lurah Taslim!” tantangnya di hadapan kamera.
Bayang-bayang Sanksi Berat
Hingga saat ini, lokasi pasti kejadian serta kebenaran dari pengakuan wanita tersebut masih dalam tahap penelusuran lebih lanjut.
Belum ada pernyataan resmi atau klarifikasi dari pihak-pihak terkait, termasuk oknum yang namanya terseret dalam rekaman tersebut.
Kendati demikian, tekanan publik di media sosial terus meningkat. Netizen mendesak pihak kepolisian dan pemerintah daerah untuk segera melakukan investigasi mendalam.
Jika dugaan skandal ini terbukti valid, oknum pejabat tersebut terancam sanksi administratif berupa pemecatan hingga potensi jeratan pidana terkait pelanggaran etika moral dan wewenang. (*)





