Baca juga: Sejumlah Wilayah Tergenang Banjir, Gubernur Jakarta Langsung Ratas! Ini Hasilnya?
Peristiwa banjir yang berulang di Perumahan Muktisari Tahap 3, Lingkungan Keranjingan, Kecamatan Sumbersari kembali memicu keresahan warga. Tercatat, sedikitnya 27 kepala keluarga terdampak dalam kejadian terakhir pada Desember 2024.
Tedy Agil, warga Perumahan Muktisari Tahap 3 menyebut banjir bukanlah kejadian baru. Genangan pertama terjadi sekitar tahun 2014 hingga 2015, kemudian kembali muncul pada 2017 meski tidak sebesar sebelumnya. Banjir kembali terjadi pada akhir 2024 dengan kondisi air mencapai ketinggian mata kaki di sejumlah rumah akibat saluran drainase yang tidak mampu mengalirkan air.
“Banjir pertama tahun 2014–2015, lalu 2017 meski tidak sebesar sebelumnya, dan terakhir Desember 2024. Air kemarin sampai setinggi mata kaki karena selokan sudah tidak bisa mengalir,” ujarnya, pada Rabu malam, (25/02/2026).
Situasi tersebut mendorong warga melaporkan persoalan ini karena upaya koordinasi dengan pihak pengembang, PT Akar Bumi Pertiwi selaku pengembang perumahan, dinilai tidak membuahkan hasil.
Warga mengaku keresahan terus muncul setiap kali hujan deras turun, bahkan memicu kekhawatiran saat harus meninggalkan rumah untuk bekerja di luar kota.
Tedy menyampaikan kondisi psikologis warga yang terus dihantui kekhawatiran saat hujan turun.
“Kami sudah beberapa kali mencoba koordinasi dengan developer, tapi tidak menemukan titik temu. Setiap hujan deras kami selalu khawatir, bahkan sampai harus berjaga malam karena takut rumah kembali kebanjiran,” pungkasnya.
Menanggapi laporan tersebut, anggota Satgas Infrastruktur dan Tata Ruang, Widodo Julianto, menyatakan pihaknya menerima aduan warga terkait banjir yang hampir terjadi setiap tahun di kawasan tersebut.
Ia menjelaskan, hasil identifikasi lapangan menunjukkan sejumlah faktor penyebab banjir, termasuk dugaan pelanggaran sempadan badan sungai. Bahkan, temuan tanggul yang roboh sebelumnya telah menjadi perhatian dan sempat ditinjau langsung oleh Bupati bersama tim Satgas.
Widodo Julianto menegaskan Satgas telah melakukan pemantauan lapangan sejak beberapa waktu lalu.
“Kami menerima aduan warga Muktisari Tahap 3 terkait banjir yang hampir terjadi setiap tahun. Bahkan beberapa waktu lalu ditemukan tanggul roboh yang sudah disidak bersama tim,” jelasnya.
Widodo juga menyebut banjir di Muktisari telah menjadi langganan sejak kawasan tahap 3 mulai dihuni sekitar 2013.
Selama ini, penanganan lebih banyak bersifat darurat untuk korban, namun pendekatan Satgas kini difokuskan pada sumber masalah.
Ia menambahkan,
“Selama ini penanganan hanya normatif membantu korban. Sekarang fokus Satgas adalah mencari sumber banjir dan mitigasinya agar tidak terus berulang,” tegasnya.
Satgas menemukan indikasi pemanfaatan area sempadan sungai untuk permukiman serta sejumlah persoalan administratif seperti status lahan dan fasilitas umum yang belum tuntas.
Hal ini dinilai berpotensi memperparah kondisi banjir dan menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Widodo menyatakan temuan tersebut akan ditindaklanjuti melalui koordinasi lintas lembaga.
“Ada indikasi pemanfaatan badan sungai untuk permukiman. Ini akan kami laporkan dan koordinasikan dengan pihak terkait termasuk BPN karena menyangkut sertifikasi lahan,” pungkasnya. (R-dy).
Baca juga: Banjir Terjang Cilegon, Tiga Kecamatan Tenggelam
Editor : Redaksi





