Di balai kelurahan, belasan ibu rumah tangga menakar sisa sayur dan kulit buah yang mereka bawa dari dapur rumah masing-masing. Dari ruang paling domestik itulah, upaya mengurai dominasi sampah rumah tangga yang membebani kota dimulai pelan.
Langkah itu mungkin terlihat sederhana, namun di kota besar yang saban hari dibayangi persoalan timbunan sampah, kesadaran mengelola limbah dari sumbernya menjadi kian mendesak. Di Kota Semarang, rumah tangga selama ini menjadi salah satu penyumbang sampah terbesar.
Pagi itu, Nadia Alfia Safitri, penyuluh dari Dinas Pertanian Kota Semarang, memberikan pelatihan kepada warga khususnya ibu rumah tangga di Balai Kelurahan Brumbungan, Kecamatan Semarang Tengah, Kamis (26/2/2026). Materi yang disampaikan terkait pembuatan pupuk organik dari limbah dapur sebagai bagian dari pengelolaan sampah berkelanjutan.
Menurut Nadia, gerakan tersebut tak hanya bertujuan mengurangi beban sampah, tetapi juga mendukung pengembangan pertanian perkotaan yang kini banyak memanfaatkan lahan terbatas. “Targetnya menuju zero waste di tingkat rumah tangga,” ujarnya.
Para peserta kemudian mempraktikkan pembuatan reaktor biokompos menggunakan peralatan bekas, seperti galon air atau drum plastik berukuran sedang. Siti, salah satu peserta, memotong galon menjadi dua bagian, sementara peserta lain menyiapkan tanah organik, sekam, dan larutan gula untuk proses fermentasi.
“Sejak tahun lalu saya mencoba membuat kompos dengan cara konvensional, mengumpulkan sampah hijau, tetapi butuh waktu lama,” kata Siti. Ia menilai, pengolahan sampah organik tak hanya mengurangi limbah, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Lurah Brumbungan, Ardhi Agung Pangarso, yang turut mendampingi kegiatan itu berharap pelatihan serupa dapat memberi dampak nyata bagi lingkungan sekaligus ekonomi warga. “Sampah plastik bisa kita jual kembali, dan sampah organik kita olah sendiri,” ujarnya.
Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang mencatat volume sampah harian di kota ini berkisar 800 hingga 1.200 ton. Sampah domestik masih menjadi penyumbang terbesar. Kondisi tersebut mendorong tumbuhnya berbagai inisiatif di tingkat kampung, mulai dari pembentukan bank sampah hingga pelatihan pembuatan pupuk organik, sebagai upaya mengelola persoalan dari hulunya.





