New York: Sebanyak 129 jurnalis dan pekerja media tewas di seluruh dunia pada 2025, Israel pun menjadi pihak bertanggungjawab atas dua pertiga kematian itu.
Angka tersebut adalah tertinggi yang pernah tercatat dengan dua pertiga dari total kematian tersebut dikaitkan dengan Israel, menurut laporan terbaru Committee to Protect Journalists (CPJ) yang dirilis Rabu, 25 Februari 2026.
Organisasi yang berbasis di New York itu menyatakan 2025 menjadi tahun paling mematikan bagi pers, dengan mayoritas korban adalah jurnalis dan pekerja media Palestina yang tewas akibat serangan Israel di Jalur Gaza.
“Jurnalis dibunuh dalam jumlah rekor pada saat akses terhadap informasi lebih penting daripada sebelumnya,” kata Direktur Eksekutif CPJ, Jodie Ginsberg, dalam pernyataan resmi, dikutip dari Anadolu, Kamis, 26 Februari 2026.
Ia menambahkan bahwa serangan terhadap media sering kali menjadi indikator awal serangan terhadap kebebasan lainnya.
“Kita semua dalam bahaya ketika jurnalis dibunuh karena melaporkan berita,” ujar Ginsberg.
CPJ mencatat lebih dari tiga perempat kematian jurnalis pada 2025 terjadi di zona konflik. Organisasi itu juga menyoroti peningkatan penggunaan drone untuk menargetkan jurnalis, dengan 39 jurnalis dilaporkan tewas akibat serangan drone, termasuk 28 reporter di Gaza yang disebut dilakukan oleh militer Israel.
Selain di Gaza, sembilan jurnalis dilaporkan tewas di Sudan dan empat di Ukraina tahun lalu. Namun CPJ menyebut angka tersebut masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan Israel, yang disebut sebagai “pengecualian signifikan.”
CPJ menyatakan lonjakan kematian jurnalis didorong oleh budaya impunitas yang terus berlanjut. Dari 47 kasus pembunuhan jurnalis yang ditargetkan pada 2025, sangat sedikit yang diselidiki secara transparan.
“Tidak seorang pun dimintai pertanggungjawaban dalam kasus-kasus tersebut,” kata CPJ, seraya memperingatkan bahwa kegagalan pemerintah melindungi pers atau menindak pelaku membuka jalan bagi lebih banyak pembunuhan, termasuk di negara-negara yang tidak sedang berperang.
Organisasi itu menyerukan reformasi radikal dalam cara pemerintah menyelidiki pembunuhan jurnalis, termasuk pembentukan gugus tugas investigasi internasional dan penerapan sanksi yang ditargetkan terhadap pelaku.
Serangan militer Israel di Gaza sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 72.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta melukai lebih dari 171.000 lainnya. Ofensif tersebut dihentikan melalui gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat dan mulai berlaku pada 10 Oktober.
Namun, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, meski gencatan senjata berlaku, pasukan Israel masih melakukan ratusan pelanggaran melalui penembakan dan serangan, yang menewaskan sedikitnya 615 orang dan melukai lebih dari 1.600 lainnya.
Israel juga meningkatkan operasi militernya di Tepi Barat yang diduduki sejak perang Gaza dimulai, dengan sedikitnya 1.112 warga Palestina tewas dan sekitar 11.500 lainnya terluka dalam periode yang sama.




