REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Perpanjangan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah di perbankan dinilai memberi napas lebih panjang bagi industri keuangan, terutama menjelang Ramadan dan Idul Fitri ketika kebutuhan uang tunai masyarakat meningkat. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menyambut positif keputusan pemerintah memperpanjang tenor penempatan dana tersebut yang sedianya berakhir pada 13 Maret 2026. Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menilai langkah itu berdampak langsung pada kondisi likuiditas perbankan.
“Saya menilai perpanjangan likuiditas dari Pak Menkeu kemarin ini dampaknya positif,” ujar Andry kepada wartawan, Rabu (25/2/2026) malam.
- Laba Bersih BRI 2025 Capai Rp 57,13 Triliun, Kredit Tumbuh 12,31 Persen
- Perpanjangan Dana SAL di Himbara Diharapkan Turunkan Bunga Kredit
- Dana Rp200 T Diperpanjang, Menkeu Purbaya Minta Bank Lebih Agresif Salurkan Kredit
Ia menjelaskan, penempatan dana SAL membantu menambah likuiditas sehingga meredakan persaingan perebutan dana antarbank, terutama di kelompok bank besar. Jika dana tersebut ditarik saat jatuh tempo, tekanan likuiditas dinilai berpotensi meningkat.
“Karena bisa dibayangkan kalau misalnya pas jatuh tempo kemarin, kemudian ditarik, tentu akan kurang pas waktunya,” kata dia.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Momentum perpanjangan ini dinilai krusial. Pada periode Ramadan dan Idul Fitri, perputaran uang tunai di masyarakat melonjak tajam. Bank harus memastikan dana tersedia untuk memenuhi kebutuhan penarikan tunai, pembayaran gaji, hingga transaksi usaha kecil.
Dengan likuiditas yang lebih longgar, perbankan memiliki ruang lebih besar untuk menyalurkan kredit. Bank Mandiri memperkirakan pertumbuhan kredit industri tahun ini bisa mencapai 9–10 persen secara tahunan.
“Apakah bisa mendorong pertumbuhan kredit? Ya, kalau kita lihat memang kemudian ada potensi perbaikan permintaan kredit terutama dari adanya dana SAL yang ditaruh,” ujar Andry.
Ia menambahkan, meredanya tensi likuiditas juga diharapkan menekan suku bunga kredit. Selama ini, transmisi penurunan suku bunga acuan belum sepenuhnya terasa pada bunga kredit perbankan.
Data Bank Indonesia menunjukkan, sepanjang 2025 BI rate telah dipangkas 125 basis poin. Namun, suku bunga kredit baru turun 40 basis poin, dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi 8,80 persen pada Januari 2026. Sementara bunga deposito tenor satu bulan turun 68 basis poin, dari 4,81 persen menjadi 4,13 persen pada periode yang sama.
“Penurunan dana pihak ketiga ratenya kan juga masih relatif terbatas. Sudah agresif, tapi masih di bawah penurunan BI rate sendiri. Nah, ini yang kemudian harusnya bisa berdampak positif,” ujarnya.




