Bertahan Cari Rezeki: Kisah Abah Rohana, Pengepul Botol Bekas di Kota Bandung

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Dari botol-botol plastik bekas yang dibuang, Abah Rohana bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Di sebuah lapak pengepul botol bekas di Jalan Kembang Sepatu, Kosambi, Kota Bandung, Abah Rohana (77) menghabiskan hari-harinya di antara tumpukan plastik.

Di usia senja, ketika sebagian orang memilih beristirahat di rumah bersama keluarga, ia justru tetap bekerja demi menyambung hidup dan membantu pengobatan anak bungsunya.

Setiap pagi, Abah Rohana mulai memilah botol-botol yang disetor para pemulung. Botol-botol itu dibersihkan, dicabut label mereknya, lalu dimasukkan ke dalam karung besar untuk dikirim ke pabrik daur ulang di kawasan Buahbatu. Ia bekerja bersama buruh lainnya dan menegaskan dirinya bukan pemilik lapak, melainkan pekerja harian.

“Botol-botol ini dari pemulung, terus kita pilah, bersihkan, cabut mereknya, nanti dimasukkan lagi ke plastik besar untuk didaur ulang,” ujarnya, Kamis (26/2).

Tak jarang, setelah memilah sejak pagi, ia juga berkeliling mencari tambahan botol sebelum kembali ke lapak. Sekitar pukul 16.00 WIB, barulah ia pulang ke rumah dengan tubuh lelah.

Upah yang diterima Abah Rohana sebesar Rp 60 ribu per hari tanpa fasilitas makan. Dari jumlah itu, sebagian harus digunakan untuk membeli makan, kopi, dan rokok. Uang yang dapat dibawa pulang sering kali tersisa sekitar Rp 20 ribu.

“Kalau mau makan, beli kopi sama rokok dari uang itu. Bawa pulang paling dua puluh ribuan,” tuturnya.

Meski menyimpan keinginan untuk mencari pekerjaan lain yang lebih ringan, Abah Rohana menyadari usianya menjadi kendala besar. Ia merasa sulit mendapatkan pekerjaan baru di tengah persaingan tenaga kerja yang semakin ketat.

“Sebenarnya mah pengen pindah kerja, tapi sudah bagaimana lagi, sudah tua begini pasti susah cari kerja. Jadi dijalani saja,” katanya.

Penghasilannya saat ini difokuskan untuk membantu biaya pengobatan anak bungsunya yang mengalami keluhan nyeri kepala berkepanjangan. Ia telah membawa sang anak ke puskesmas dan rumah sakit, namun belum diketahui secara pasti penyakit yang diderita.

Di tengah keterbatasan dan ketidakpastian, Abah Rohana tetap bertahan. Di antara tumpukan plastik yang setiap hari ia pilah, tersimpan harapan sederhana agar kesehatan anaknya membaik dan ia masih diberi kekuatan untuk terus bekerja esok hari.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Korupsi Proyek Jalan Rp 1,62 Miliar, Pejabat Balai Jalan Sumut Dituntut 5 Tahun Penjara
• 40 menit lalukompas.id
thumb
Rekor Horor, Sumut Juara Vonis Mati Terdakwa Narkoba Terbanyak se-Indonesia
• 21 jam lalumediaindonesia.com
thumb
INACA Sebut Tak Ada Kreditur RI Mau Biayai Pembelian Pesawat Baru
• 30 menit lalubisnis.com
thumb
Cegah Jalan Longsor, Pemkot Bangun Tanggul di Jalan Alinda Bekasi
• 3 jam laludetik.com
thumb
Seskab Unggah Foto Lawas Prabowo dan Raja Yordania
• 6 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.