Rapor Merah Himbara 2025: Laba Turun 4,55 Persen

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Kinerja himpunan bank milik negara alias Himbara sepanjang tahun 2025 menorehkan rapor merah. Secara keseluruhan, laba bersih Himbara turun 4,55 persen. Kondisi tersebut antara lain disebabkan oleh kenaikan biaya dana yang menggerus profitabilitas perbankan.

Kinerja tersebut merujuk kepada laporan kinerja 2025 bank-bank anggota Himbara, meliputi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI, serta PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN.

Merujuk laporan keuangan 2025, seluruh anggota Himbara membukukan laba bersih pada 2025 senilai Rp 136,4 triliun. Capaian tersebut turun 4,55 persen dibandingkan dengan total laba bersih pada 2024 yang mencapai Rp 142,9 triliun.

Bila dirinci, BRI membukukan nilai laba paling tinggi, yakni Rp 56,6 triliun, disusul Bank Mandiri sebesar Rp 56,3 triliun. Selanjutnya, BNI berada di posisi ketiga dengan perolehan laba sebesar Rp 20 triliun. Di urutan terakhir ada BTN dengan perolehan laba Rp 3,5 triliun.

Dari keempat bank tersebut, penurunan laba utamanya dialami oleh BRI sebesar 5,5 persen dan BNI sebesar 5,6 persen. Di sisi lain, laba Bank Mandiri kembali melanjutkan tren perlambatan, sedangkan laba BTN justru melesat hingga dua digit.

Padahal, dari­­ sisi intermediasinya, rerata pertumbuhan kredit Himbara mencapai level dua digit, jauh di atas realisasi industri yang hanya 9,69 persen per Desember 2025. Demikian pula dengan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) Himbara yang rata-ratanya mencapai 20 persen.

Advisor Banking and Finance Development Center (BFDC), Moch Amin Nurdin, pada Kamis (26/2/2026), mengatakan, ekspansi penyaluran kredit oleh Himbara tidak diikuti oleh perbaikan margin. Alhasil, perolehan laba bersih Himbara pun turun, meski kredit tumbuh dua digit.

“Tekanan utama berasal dari kenaikan biaya dana akibat persaingan likuiditas yang ketat, sehingga net interest margin (NIM) tergerus,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.

NIM alias marjin bunga bersih merupakan selisih antara pendapatan bunga dari kredit dan beban bunga simpanan. Penurunan rasio NIM pada perbankan menunjukkan tingkat profitabilitas atau kemampuan bank dalam menghasilkan keuntungan berkurang.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rasio net interest margin (NIM) industri perbankan pada Desember 2025 mencapai 4,56 persen. Angka tersebut turun dibandingkan Desember 2024 yang sebesar 4,62 persen dan Desember 2023 yang sebesar 4,81 persen.

Biaya dana

Penurunan rasio profitabilitas juga dialami oleh dua bank dengan aset terbesar di kelompok Himbara, yakni Bank Mandiri dan BRI. Secara bank only (kinerja keuangan induk bank secara mandiri), rasio NIM kedua bank ini turun masing-masing sebesar 36 basis poin (bps) menjadi 4,56 persen dan 30 bps menjadi 6,5 persen.

Kondisi tersebut tidak lepas dari membengkaknya biaya dana yang ditanggung oleh perbankan hingga dua kali lipat dalam tiga tahun terakhir selama 2022-2025. Biaya dana BRI, misalnya, meningkat dari 1,4 persen menjadi 2,9 persen, sedangkan bank Mandiri, meningkat dari 1,26 persen menjadi 2,33 persen.

Amin menambahkan, penurunan profitabilitas Himbara juga dipengaruhi oleh kenaikan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebagai antisipasi risiko kredit. Selain itu, tekanan terhadap NIM juga datang dari meningkatnya beban operasional perbankan.

Penurunan laba bersih Himbara akan memengaruhi pembagian dividen kepada para investor.

Di sisi lain, masih kuatnya pertumbuhan kredit Himbara menunjukkan fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan. Namun, jika ekspansi lebih banyak terjadi pada kredit program, kontribusinya terhadap laba menjadi terbatas.

“Artinya, pertumbuhan volume belum tentu sejalan dengan pertumbuhan bottom line (keuntungan),” ujarnya.

Ia memperkirakan, Himbara masih menghadapi risiko kenaikan kualitas aset alias non-performing loan (NPL), serta berlanjutnya tekanan margin. Maka dari itu, keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan kualitas aset akan menjadi kunci utama ketahanan Himbara ke depan.

Sementara itu, pengamat perbankan dan Assistant Vice President BNI (2005-2009), Paul Sutaryono, menambahkan, penurunan laba bersih Himbara akan memengaruhi pembagian dividen kepada para investor. Dividen yang akan dibagikan cenderung sedikit menurun dibanding tahun lalu.

“Dividen yang diberikan kepada investor sebagai pemegang saham bank Himbara ditentukan oleh putusan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Tentu saja, hal itu juga mempertimbangkan besaran laba yang dapat diperoleh,” katanya.

Berkaca dari sebelumnya, Himbara menyumbang dividen sebesar Rp 49,52 triliun atau 57,39 persen dari total Kekayaan Negara yang Dipisahkan (KND) alias dividen BUMN sepanjang 2024 yang senilai Rp 86,4 triliun. Setoran dividen Himbara untuk kas negara tersebut meningkat dari periode 2023 yang senilai Rp 40,84 triliun.

Serial Artikel

Perbankan Pelat Merah Masih Dominasi Setoran Dividen 2024 ke Kas Negara

Sumbangan dividen BUMN senilai Rp 86,4 triliun berkontribusi sebesar 14,94 persen dari total PNBP sepanjang 2024.

Baca Artikel

Paul memperkirakan, kinerja Himbara pada 2026 masih menghadapi risiko ketidakpastian global akibat implementasi kebijakan tarif AS. Dalam hal ini, Himbara merupakan salah satu kelompok perbankan yang memiliki kontribusi kredit terhadap sektor perdagangan internasional, baik melalui transaksi ekspor, impor dan garansi, serta produk derivatif lainnya.

“Ketika perdagangan internasional kurang lancar, pendapatan dari komisi (fee-based income) trade finance menjadi kurang optimal. Padahal, fee-based income plus transaksi treasury (placement, money market dan forex) itu telah memberikan kontribusi tinggi pada laba bank,” katanya.

Kredit program

Di sisi lain, Direktur Utama BRI Hery Gunardi menyampaikan, perseoran akan terus memperkuat perannya sebagai bank yang berpihak pada ekonomi kerakyatan. Salah satunya dengan berfokus pada pemberdayaan UMKM, penguatan ekosistem ultramikro, serta perluasan akses pembiayaan produktif.

Per Desember 2025, BRI telah menyalurkan kredit usaha rakyat (KUR) sebesar Rp 170 triliun kepada lebih dari 3,8 juta debitor. Adapun sektor pertanian menjadi kontributor terbesar mencapai Rp 80,09 triliun atau 44,97 persen dari total penyaluran KUR.

“Untuk mendorong dan mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia, BRI juga mengambil peran strategis untuk mendukung pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah,” katanya dalam konferensi pers Kinerja Keuangan BRI Triwulan IV 2025, secara daring.

BRI akan terus meningkatkan kinerja dimulai dari memperbaiki struktur pendanaan. Perseroan juga akan memperkuat penyaluran kredit dengan target 7-9 persen sembari tetap memperhatikan kualitas kredit.

Dalam hal ini, BRI memperluas akses pembiayaan perumahan melalui partisipasi dalam Program 3 Juta Rumah. Hingga akhir Desember 2025, BRI telah menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi sebesar Rp 16,16 triliun kepada lebih dari 118.000 debitor di seluruh Indonesia.

Selain itu, dukungan dari perseroan turut diarahkan untuk program prioritas pemerintah lainnya, meliputi Makan Bergizi Gratis, dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pertumbuhan ekonomi, ketahanan pangan, serta pemerataan kesejahteraan nasional.

Hery menambahkan, BRI akan terus meningkatkan kinerja dimulai dari memperbaiki struktur pendanaan. Di sisi lain, perseroan juga akan memperkuat penyaluran kredit dengan target 7-9 persen sembari tetap memperhatikan kualitas kredit.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
129 Jurnalis Gugur pada 2025, Mayoritas Dibunuh Pasukan Israel
• 12 jam lalurepublika.co.id
thumb
Anggota DPR Minta Kenaikan Iuran BPJS Dilakukan Transparan: Solusi Harus Berpihak pada Rakyat
• 4 jam lalukompas.tv
thumb
Alex Noerdin Tutup Usia, Kejagung Pastikan Kasus Pidana Korupsi Disetop!
• 12 jam laludisway.id
thumb
OJK Setujui Penggabungan 4 Bank ke BPR Nusamba Tanjungsari Tasikmalaya
• 8 jam lalubisnis.com
thumb
Viral Paspor Inggris Anak Alumni LPDP, Ditjen AHU: Status WNI Melekat
• 5 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.