Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) melaporkan realisasi penyaluran dana saldo anggaran lebih (SAL) yang ditempatkan pemerintah di perseroan.
Direktur Treasury and International Banking BRI Farida Thamrin menyampaikan total dana SAL yang diterima BRI mencapai Rp80 triliun. Perinciannya, tahap pertama sebesar Rp55 triliun dan tahap kedua Rp25 triliun.
“Rp55 triliun itu menjadi bagian dari yang Rp200 triliun secara keseluruhan Himbara. Tapi kita pernah dapat juga yang fase kedua yang Rp25 triliun tetapi itu lebih ke short term dan itu memang karena hanya short term jadi tidak diperpanjang,” kata Farida dalam Konferensi Pers Laporan Kinerja Keuangan BRI Kuartal IV?2025 yang digelar secara virtual pada Kamis (26/2/2026).
Dari keseluruhan dana SAL tersebut, Farida mengungkapkan bahwa perseroan telah membentuk pinjaman kepada debitur di berbagai segmen, mulai dari mikro, SME, konsumer, dan sedikit korporasi. Segmen mikro menjadi penerima kredit terbesar yakni hampir 50% dari total penyaluran SAL yang dilakukan oleh BRI.
Kemudian dari sisi sektor keekonomian, Farida menyebut bahwa penyaluran SAL dilakukan hampir di semua sektor, utamanya sektor riil, baik besar maupun eceran, di antaranya, pertanian, kehutanan, perikanan, serta beberapa sektor lain yang sangat mendukung pertumbuhan perekonomian nasional.
Sambut Baik Perpanjangan TenorDi sisi lain, BRI menyambut baik langkah Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memperpanjang penempatan dana pemerintah di perbankan hingga September 2026. Batas waktu yang diberikan lebih lama dari tenggat waktu yang diberikan sebelumnya yakni 13 Maret 2026.
Baca Juga
- Lebih Selektif, BRI (BBRI) Proyeksi Kinerja Kredit 2026 Bergerak Konservatif
- Laba BRI (BBRI) Rp57,13 Triliun pada 2025, Ini Pendorongnya
- Menimbang Dampak Wacana Purbaya Ambil Alih PNM dari BBRI
Farida mengatakan, perpanjangan stimulus ini memberikan keyakinan bagi perbankan bahwa stabilitas likuiditas akan sangat terjaga. Jika stabilitas likuiditas bank terjaga, transmisi kebijakan fiskal ke sektor riil juga akan semakin terjaga. "Jadi, itu kondisi baiknya,” ujarnya.
Dia optimistis, pertumbuhan kredit perbankan ke depan akan semakin membaik, seiring diperpanjangnya kebijakan tersebut. Kendati begitu, Farida juga mengingatkan bahwa kredit perbankan sangat ditentukan oleh kualitas dari sisi permintaan dan kesiapan dari sektor riil.
“Jadi ada dua pihak. Dan stimulus ini adalah yang terkait dengan sisi suplainya. Faktor demand-nya ini juga menjadi kunci supaya ke depannya kredit yang ada di perbankan juga semakin meningkat,” tuturnya.





