BEKASI, KOMPAS.com – Pembebasan lahan proyek flyover Bulak Kapal mulai dilakukan di Jalan HM Joyo Martono, Kota Bekasi.
Sejumlah bangunan dibongkar sebagai bagian dari persiapan pembangunan infrastruktur yang ditargetkan mengurai kemacetan di kawasan tersebut.
Salah satu warga terdampak, Yadi Oktaviyadi (48), mengaku tidak keberatan bangunan warung tegal (warteg) miliknya dibongkar demi kelancaran proyek tersebut.
“Mudah-mudahan dengan adanya pekerjaan flyover ini tingkat kemacetan di Kota Bekasi khususnya di Bulak Kapal ini bisa lebih berkurang. Jadi saya enggak keberatan,” ujar Yadi kepada awak media saat ditemui di lokasi, Kamis (26/2/2026).
Yadi, warga RT 01/RW 021, Kelurahan Margahayu, Kecamatan Bekasi Timur, menjelaskan rencana pembangunan flyover Bulak Kapal sebenarnya sudah muncul sejak 2017.
Baca juga: 9 Bangunan Dibongkar untuk Proyek Flyover Bulak Kapal, Satu Masih Tunggu Kompensasi
Namun, proyek itu baru dapat direalisasikan pada 2026.
"Mungkin karena keterbatasan masalah operasional atau anggarannya, jadi baru tahun ini bisa terealisasi,” katanya.
Ia mengungkapkan, warteg miliknya berdiri di atas lahan milik Jasa Marga dengan lebar sekitar 1,5 meter.
Menurut dia, orang tuanya dahulu mendapat izin untuk memanfaatkan lahan tersebut karena saat itu belum digunakan.
“Waktu itu orang tua saya dapat izin, karena waktu itu belum dipergunakan. Tapi pada waktunya tiba, kami bersedia untuk dibongkar,” ujarnya.
Baca juga: Tahapan Proyek Flyover Margonda Depok Mulai Terlihat, Groundbreaking Akhir 2026
Sembilan Bangunan Masuk Rencana PembongkaranSebagai bagian dari persiapan pembangunan flyover, Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Bekasi membongkar sejumlah bangunan di sekitar Jalan HM Joyo Martono.
Ketua Tim Fasilitasi Insentif Disinsentif dan Pembongkaran Bangunan Distaru Kota Bekasi, Tarmuji, mengatakan terdapat sembilan bangunan yang masuk dalam rencana pembongkaran.
“Pembongkaran ini untuk kegiatan pembangunan flyover. Untuk bangunan yang dibongkar kurang lebih ada 9 bangunan. Dan yang punya kepemilikan 4 orang,” ujar Tarmuji.
Dari total tersebut, tiga bangunan telah dibongkar oleh Distaru, sementara satu bangunan dibongkar secara mandiri oleh pemiliknya karena tidak memiliki sertifikat kepemilikan.
Baca juga: Pramono Minta Jalan Sekitar Proyek Flyover Latumeten Diperlebar Biar Tak Macet
Tarmuji menyebut total lahan yang dibebaskan memiliki panjang sekitar 150 meter.
Jenis bangunan yang terdampak bervariasi, mulai dari toko, showroom, hingga warteg, dengan mayoritas dimanfaatkan sebagai tempat usaha.
Proyek flyover Bulak Kapal diharapkan mampu mengurai kepadatan lalu lintas yang kerap terjadi di perlintasan sebidang Bulak Kapal dan sekitarnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



