Lukisan Kecil, Harapan Besar: Perjalanan Agista, Anak Pemulung yang Ingin Sekolah

kompas.com
9 jam lalu
Cover Berita

TANGERANG, KOMPAS.com - Agista Saputri (10), anak pasangan pemulung di Ciledug, Kota Tangerang, mendadak menjadi perhatian publik setelah bakat menggambarnya viral di media sosial.

Di balik coretan gunung dan rumah yang ia jual seharga Rp 5.000 hingga Rp 10.000, tersimpan cerita keterbatasan ekonomi dan harapan besar untuk bisa mengenyam pendidikan formal.

Selama ini, Agista belum pernah bersekolah karena orangtuanya tidak memiliki dokumen identitas yang menjadi syarat pendaftaran sekolah.

KOMPAS.com/INTAN AFRIDA RAFNI Agista Saputri (10), saat menunjukan hasil karya gambarnya kepada Kompas.com.

Kini, setelah kisahnya ramai diperbincangkan, proses pengurusan administrasi mulai dilakukan agar ia dapat masuk sekolah.

Jual Gambar untuk Beli Beras

Agista mulai menjual hasil gambarnya sejak dua tahun terakhir. Setiap pagi atau sore, ia memajang kertas-kertas bergambar di kawasan Puri Kartika, Ciledug, Kota Tangerang.

Untuk kertas ukuran HVS A4, ia mematok harga Rp 5.000, sedangkan ukuran A3 dijual Rp 10.000.

“Ada yang Rp 5.000, ada yang Rp 10.000,” ujar Agista saat ditemui di kediamannya di Jalan Raden Fatah, Ciledug, Kota Tangerang, Rabu (25/2/2026).

Baca juga: Kisah Agista, Anak Pemulung di Tangerang Melukis untuk Bantu Orangtua Beli Beras

Dalam sehari, ia bisa menjual tiga hingga empat gambar. Uang hasil penjualan itu sebagian besar diserahkan kepada ibunya untuk membantu kebutuhan sehari-hari.

“Uangnya buat beli beras,” kata Agista.

Ibu Agista, Wagiyem (38), membenarkan bahwa uang pertama yang diperoleh Agista sebesar Rp 20.000 langsung diberikan kepadanya.

“Langsung kasih ke saya. Katanya buat beli beras,” tutur Wagiyem.

Tumbuh Tanpa Sekolah

Di balik bakatnya, Agista menyimpan kenyataan pahit. Hingga usia 10 tahun, ia belum pernah mengenyam pendidikan formal.

Ayah Agista, Roni Hidayatna (45), mengatakan hal itu terjadi karena keluarga mereka belum memiliki dokumen kependudukan seperti KTP, Kartu Keluarga (KK), dan akta kelahiran.

“Iya itu karena enggak punya identitas aja. Enggak ada identitas,” ujar Roni.

Baca juga: Lima Menit Satu Gambar, Anak Pemulung Agista Jual Lukisan Rp 5.000 untuk Beli Beras

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia menyebutkan, pengurusan dokumen tersebut harus dilakukan di kampung halaman mereka di Lampung. Namun, keterbatasan biaya membuat proses itu tertunda.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Dalam Tekanan, Saham Ini Jadi Jagoan Buat Cari Cuan
• 7 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Cerita Darmawan Prasodjo soal Pelajaran Sangat Berharga untuk PLN dari Bencana Sumatra
• 12 jam lalujpnn.com
thumb
Bank Muamalat Kuasai 59 Persen Pasar Haji Khusus
• 53 menit lalurepublika.co.id
thumb
BI Jatim dan Pemprov Jatim Perkuat Sinergi Jaga Stabilitas Harga dan Digitalisasi Transaksi Menjelang Idulfitri 2026
• 18 menit laluerabaru.net
thumb
Wamendagri Sentil Mobil Dinas Rp8,5 Miliar Gubernur Kaltim: Efisiensi Jangan Sekadar Slogan
• 9 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.