Tak ada yang lebih sunyi dari kabar tentang ajal yang terasa dekat.
Seorang murid Nabi Ibrahim pernah berada pada titik itu. Ia mendengar bahwa umurnya tak akan sampai pada esok pagi. Dunia yang hendak ia bangun terasa runtuh sebelum berdiri. Namun, alih-alih tenggelam dalam ketakutan, ia memilih satu jalan yang hening: puasa.
Bukan untuk menawar kematian, melainkan untuk memperbaiki diri sebelum kematian datang.
Ketika Ajal Adalah KetetapanAl-Qur’an dengan tegas menyatakan,
Dalam ayat lain ditegaskan,
Secara dzahir, ayat ini menegaskan kepastian dan ketetapan ajal. Dalam tafsir klasik, seperti Tafsir Ibnu Katsir, dijelaskan bahwa ajal adalah batas waktu yang telah Allah tetapkan sejak azali. Tidak ada satu makhluk pun yang dapat mengubahnya dengan kekuatan sendiri.
Namun, para ulama juga menjelaskan adanya konsep ajal mu’allaq (ketetapan yang bergantung pada sebab) dan ajal mubram (ketetapan final). Di sinilah rahasia doa, sedekah, dan amal saleh bekerja sebagai sebab turunnya rahmat Allah.
Puasa sebagai Perisai dan Jalan TaqwaKetika sang pemuda memilih puasa, ia sedang memilih jalan takwa. Allah berfirman,
Menurut Tafsir Al-Qurthubi, tujuan utama puasa tidak sekadar menahan lapar, tetapi juga membentuk jiwa yang tunduk dan sadar akan pengawasan Allah. Takwa inilah yang menjadi sebab turunnya perlindungan Ilahi.
Rasulullah SAW bersabda,
Perisai dari apa?
Bukan hanya dari api neraka, melainkan juga dari dorongan nafsu yang menjerumuskan manusia pada kehancuran spiritual. Dalam konteks ini, puasa menjadi benteng dari bala yang mungkin turun akibat kelalaian manusia.
Amal sebagai Sebab Turunnya RahmatDalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda,
Dan dalam riwayat lain,
Para ulama menjelaskan bahwa yang berubah bukan ilmu Allah, melainkan apa yang tampak bagi manusia. Dalam Lauhul Mahfuz, semua telah tertulis. Namun, Allah menetapkan sebab-akibat dalam kehidupan dunia. Doa, puasa, dan sedekah menjadi bagian dari sunnatullah itu.
Murid Nabi Ibrahim itu memahami satu hal: ia tidak bisa mengatur ajalnya, tetapi ia bisa memperbaiki hubungannya dengan Allah.
Ia berpuasa dengan penuh kesadaran. Ia bersedekah tanpa riya. Ia beristighfar dalam kesunyian malam.
Hak Prerogatif AllahAl-Qur’an menyatakan,
Ayat ini sering dijadikan dasar oleh para mufasir bahwa ada ketetapan yang dapat berubah berdasarkan kehendak Allah melalui sebab-sebab yang Dia tetapkan sendiri.
Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan bahwa perubahan itu bukan berarti Allah tidak mengetahui sebelumnya, melainkan menunjukkan keluasan rahmat dan kekuasaan-Nya.
Ketika waktu yang dikhawatirkan tiba, Allah menahan tangan Malaikat Maut. Umurnya diperpanjang hingga mencapai usia yang lebih matang. Bukan karena ia menawar takdir, melainkan karena ia menjemput rahmat dengan kesungguhan.
Lapar yang MenghidupkanPuasa kedua belas itu menjadi simbol satu hal penting: kesadaran sebelum terlambat.
Kita mungkin tidak pernah mendapat kabar kapan ajal tiba. Namun, Al-Qur’an mengingatkan,
Ayat ini menggambarkan penyesalan orang yang lalai ketika ajal datang. Mereka ingin kembali hanya untuk bersedekah dan beramal saleh.
Murid Nabi Ibrahim itu tidak menunggu penyesalan. Ia berpuasa sebelum ajal mengetuk.
Dan mungkin di situlah rahasianya.
Bukan soal panjangnya umur, melainkan soal bagaimana umur itu dipenuhi takwa.
Puasa mengajarkan bahwa lapar bisa menjadi jalan kesadaran. Kesadaran melahirkan taubat. Taubat membuka pintu rahmat.
Karena pada akhirnya, kematian adalah kepastian. Namun, rahmat Allah selalu lebih luas dari ketakutan kita.





