Profil dan Pemilik Daaz Bara (DAAZ), Emiten Tambang Disebut Terlibat Proyek WtE

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Nama PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) tengah menjadi perhatian di kalangan pasar modal. Emiten yang bergerak di bidang perdagangan komoditas mineral, itu disebut sebagai salah satu calon kuat mitra lokal yang bakal digandeng dalam proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau Waste to Energy (WtE) yang kini tengah digarap Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara,

Kabar keterlibatan DAAZ menguat setelah pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder Mentor Baik, Thomas William melontarkan pernyataan ihwal emiten yang potensial menang tender proyek. Menurut Thomas, pemenang proyek WTE kemungkinan berasal dari kalangan yang belum pernah didengar dalam pembahasan soal pembangkit sampah. 

Ia menyebut perusahaan yang bergerak di bidang perdagangan komoditas mineral yakni DAAZ justru masuk dalam radar pemenang proyek jumbo itu. Seiring dengan rumor itu, Thomas William juga menyebut akhir-akhir ini volume perdagangan DAAZ di pasar modal juga tinggi.  

“Justru yang saya lagi dengar beredar di market rumor, belum keluar ya, nanti kita coba lihat aja bener atau gak tapi sounding-sounding di market udah mulai ke arah sana (DAAZ),” katanya dalam kanal Youtube Ajaib Investasi, dikutip Jumat (28/2). 

Sebelumnya Direktur Investasi Danantara Fadli Rahman mengatakan saat ini komite seleksi yang berisikan 60 tokoh tengah memastikan pemenang yang terpilih memenuhi kriteria yang ditetapkan. Nama pemenang rencananya akan diumunkan pada pekan kedua Maret, sedikit mundur dari rencana awal lantaran terdapat beberapa hal teknis yang perlu dirampungkan. 

Menurut Fadli terdapat sejumlah syarat yang harus dipenuhi oleh perusahaan pemenang tender. Di antara syarat yang dibutuhkan adalah pemenuhan administrasi, kemampuan dalam hal latar belakang dan memastikan kualitas rancangan dan penanganan sisi lingkungan. Danantara juga menyebut perusahaan pemenang juga harus memperlihatkan kemampuan lokal partner yang dilibatkan. 

Tak hanya kesanggupan peserta, Danantara menurut Fadli juga melihat apakah perusahaan peserta melibatkan mitra lokal dalam proposal. Namun menurut dia mitra lokal yang diajak tidak perlu memiliki pengalaman dalam pengelolaan sampah. 

Fadli menjelaskan aspek yang diperlukan dari mitra lokal berkaitan dengan perizinan dan kemampuan dalam melakukan sosialisasi. Mitra lokal juga dibutuhkan dalam memahami budaya masyarakat setempat. 

Meski begitu dia menyatakan perusahaan lokal tidak perlu memiliki pengalaman di bidang sampah. Ia mencontohkan perusahaan yang bergerak di bidang batu bara bisa saja ikut menjadi mitra karena juga mengalami pengalaman dalam instalasi termal. 

“Tidak harus perusahaan yang bergerak di WTE karena sama saja,” ujar Fadli dalam diskusi terbatas, Kamis (26/2). 

Fadli tidak mau berkomentar soal nama beberapa emiten yang disebut-sebut terlibat proyek WtE. Ia pun tak merinci perusahaan lokal mana saja yang berpotensi menjadi mitra dalam proyek WtE. Menurut Fadli pengumuman nama-nama akan disampaikan secara terbuka pada waktunya. 

Lalu seperti apa profil Daaz Bara Lestari yang disebut berpotensi terlibat dalam proyek WtE? 

Profil Bisnis  Daaz Bara Lestari dan Jejak Pengendali

Daaz Bara Lestari (DAAZ) didirikan pada 2009, awalnya berfokus pada perdagangan komoditas. Seiring perkembangan dan kebutuhan pasar, perusahaan ini tumbuh menjadi bisnis terdiversifikasi dengan tiga pilar utama: perdagangan komoditas (seperti bijih nikel, batubara, dan solar), jasa angkutan laut, serta layanan pertambangan.  

 Adapun DAAZ mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) dua tahun lalu pada November 2024. Perusahaan menunjuk PT Henan Putihrai Sekuritas dan PT CGS Sekuritas Indonesia sebagai penjamin dan pelaksana emisi efek.  

Dalam penawaran umum perdana saham atau initial public offering/IPO, perusahaan mematok harga IPO Rp 880 per saham dari rentang harga Rp 835–900 per lembar. 

Perusahaan yang bergerak di industri logam itu melepas maksimal 300 juta lembar saham atau 15,02% dari modal disetor dan ditempatkan pasca IPO. Dari aksi korporasi ini, perusahaan meraup dana segar maksimal Rp 264 miliar.

Merujuk prospektus, DAAZ memiliki satu pemegang saham berbentuk badan hukum, yakni PT Daaz Nusantara Abadi. Berdasarkan ketentuan mengenai pemilik manfaat akhir (ultimate beneficial owner) sesuai Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2018, pemilik manfaat akhir Perseroan adalah Erwin Sutanto. 

Melalui Keputusan Sirkuler Pemegang Saham sebagai pengganti Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada 20 Agustus 2024, Erwin Sutanto juga ditetapkan sebagai pengendali Perseroan yang memiliki kemampuan menentukan pengelolaan dan kebijakan perusahaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Selain mengendalikan DAAZ, Erwin Sutanto juga tercatat sebagai salah satu pengendali di PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX). 

Sementara itu merujuk data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) kepemilikan saham mayoritas DAAZ dipegang oleh PT Daaz Nusantara Abadi sebanyak 42,49% diikuti Zainal Abidiansyah Siregar sebanyak 17% dan masyarakat 15,01%. Selain itu Erwin Sutanto yang juga komisaris DAAZ dan Irawan Sastrotanojo masing-masing memegang 12,75% saham. 

Geliat Ekspansi 2026

Seiring dengan pertumbuhan perseroan, manajemen DAAZ menyatakan tengah menyiapkan ekspansi bisnis pada 2026 dengan menambah armada logistik dan memperluas pasar komoditas. Perseroan telah menerbitkan obligasi senilai Rp 500 miliar untuk membeli tiga set tug and barge, dua unit Self Propelled Oil Barge (SPOB), serta satu tongkang minyak. 

Tak hanya itu, DAAZ menargetkan seluruh aset tersebut diterima pada 2026 guna memperkuat bisnis dua entitas anaknya, yakni PT Aserra Logistik Indonesia dan PT Indo Lautan Energi. Melalui penambahan armada ini, DAAZ berharap bisa meningkatkan kapasitas angkutan nikel, batu bara, serta distribusi solar. 

Perusahaan juga berencana menambah pemasok nikel dan batu bara. Selain itu juga meningkatkan efisiensi operasional melalui sinergi internal, serta memperluas pasar domestik dan ekspor, termasuk menjajaki kerja sama dengan smelter-smelter baru.

Di segmen komoditas cair seperti HSD dan B-40 yang berpotensi meningkat menjadi B-50, DAAZ juga menjalin kerja sama baru dengan produsen minyak yang melakukan impor untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri. 

Selain itu perusahaan juga memperluas jaringan distribusi dan menambah kapasitas penyimpanan solar. Saat ini DAAZ memiliki dua hub penyimpanan di Sulawesi dengan kapasitas sekitar 4.500 kiloliter, dan berencana menambah fasilitas storage pada 2026.

Sementara itu, untuk segmen jasa pertambangan, DAAZ mulai mengikuti sejumlah tender proyek dan menunggu kepastian hasilnya sebagai bagian dari peluang ekspansi bisnis pada tahun depan.

“Selain itu, kami juga telah mendapatkan beberapa customer baru untuk kegiatan eksplorasi, dan sekarang kami sedang melakukan kegiatan di Pulau Obi dan Halmahera,” ucap manajemen DAAZ dalam laporan paparan publiknya. 

Adapun untuk anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex), alokasinya masih terkait dengan program investasi yang dijalankan sejak 2025, terutama untuk pembelian kapal baru.

DAAZ merencanakan total capex sekitar US$ 90 juta untuk periode 2025–2026. Secara rinci sekitar US$ 27 juta telah direalisasikan sepanjang 2025. Sisanya sekitar US$60 juta akan direalisasikan pada 2026.

Masuk Proyek Proyek Baterai Listrik

Ekspansi DAAZ belakangan makin meluas dengan menggarap proyek baterai listrik.  DAAZ lewat HYD Investment Limited, telah menandatangani kerangka kerja sama dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) untuk proyek pengembangan ekosistem baterai terintegrasi bersama PT Industri Baterai Indonesia (IBI) pada Jumat (30/1). Adapun HYD Investment Limited merupakan konsorsium dari Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. dan EVE Energy Co., Ltd., serta DAAZ. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan proyek ini sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat hilirisasi. “Total Investasinya kurang lebih sekitar US$ 6 miliar (Rp 100,68 triliun),” kata Bahlil di Kementerian ESDM, Jumat (30/1). 

Investasi proyek terintegrasi ini terdiri atas tambang di Maluku Utara hingga pabrik pengolahan di Jawa Barat. Di sisi hulu, porsi BUMN yakni Antam sebagai pemegang saham mayoritas. 

Sementara di sisi hilir, porsi kepemilikan saham lebih dikuasai anggota konsorsium yang menguasai teknologi. Dia menyebut pengembangan industri ini masih membutuhkan dukungan mitra luar negeri, terutama dalam bentuk transfer teknologi, akses pasar, dan manajemen profesional. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
8 Tahanan Polres Way Kanan Kabur, 3 Berhasil Ditangkap
• 14 jam lalutvrinews.com
thumb
Pemprov Jabar ajukan pinjaman Rp2 triliun untuk kebut infrastruktur
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Jika Benar-Benar Tidak Mampu, Bolehkah Tidak Membayar Zakat Fitrah? Tegas, Begini Jawaban Buya Yahya
• 8 jam lalutvonenews.com
thumb
Anggota DPR Minta Kenaikan Iuran BPJS Dilakukan Transparan: Solusi Harus Berpihak pada Rakyat
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Soal Wisatawan Buat Onar di Bali, Luhut : Deportasi Saja
• 5 jam lalueranasional.com
Berhasil disimpan.