Potongan kepala dan tubuh manusia diduga korban mutilasi ditemukan di Muara Sungai Wos, Banjar Keden atau Pantai Ketewel, Desa Ketewel, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Bali, pada Kamis (26/2) sekitar pukul 10.00 WITA.
Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, penyidik menemukan sejumlah ciri khusus pada potongan tubuh tersebut, yakni tato Bunda Maria dan jam tangan dengan angka Romawi. Tato dan gambar jam ini ditemukan pada potongan tubuh bagian lengan.
"Kita identifikasi seperti itu ya, ada jam, kemudian ada tato apa ya, Bunda Maria segala macam itu ya," kata Kabid Humas Polda Bali Kombes Ariasandy, Jumat (27/2).
Potongan tubuh yang ditemukan adalah kepala, kaki kanan, dada atas bagian kiri dan kanan, paha, serta sebagian organ dalam korban. Dalam kasus ini, penyidik sudah memeriksa sekitar tiga orang saksi dan sedang memeriksa rekaman kamera pengawas di sekitar lokasi untuk mengusut tuntas kasus tersebut.
Selain itu, penyidik dari Polres Gianyar dan Polda Bali saat ini masih melakukan penyisiran di lokasi kejadian. Penyidik mencari kemungkinan adanya potongan tubuh lain yang belum ditemukan.
"Jadi pasca-penemuan itu anggota kita juga turun ke lapangan mengecek, mencari informasi saksi-saksi di TKP yang sekiranya mengetahui, termasuk CCTV di sepanjang jalan di sekitar TKP untuk mengungkap kira-kira siapa pelakunya ini dan dibuangnya di mana seperti itu. Tim kita sementara bekerja," katanya.
Potongan tubuh ini pertama kali ditemukan oleh warga yang tengah berolahraga. Seluruh potongan tubuh tersebut telah dievakuasi ke RSUP Prof. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar, untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Dokter spesialis forensik RSUP Prof. I.G.N.G. Ngoerah, dr. Nola Margaret Gunawan, mengatakan potongan tubuh tersebut diterima dalam keadaan membusuk. Ia memperkirakan korban tewas lebih dari tiga hari.
Selain itu, tim forensik tidak bisa melakukan identifikasi secara visual karena potongan tubuh sudah membusuk. Oleh karena itu, tim forensik juga belum bisa menentukan jenis kelamin korban. Tim forensik saat ini menunggu permintaan dari polisi, baik untuk pemeriksaan luar, autopsi, hingga pemeriksaan DNA.
"Tapi DNA juga tidak bisa menunjukkan dia warga negara apa, tapi menunjukkan dia siapa. Dari sana bisa dilacak dia warga negara apa. Sebenarnya kalau dari aspek antropologi, dari struktur tulangnya baru kita bisa menentukan kedekatan populasi dengan kelompok mana, apakah Mongoloid, Negroid," sambungnya.





