FAJAR, MAKASSAR — Direktorat Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin menghadirkan penulis Indonesia, M. Aan Mansyur, dalam Kelas Karir bertema “Dari Kata Menjadi Karya: Membangun Karir Kreatif di Era Digital” yang digelar di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Jumat (27/2/2026).
Kegiatan yang diinisiasi Subdirektorat Penyiapan Karir ini dibuka oleh Kepala Subdirektorat Penyiapan Karir Direktorat Kemahasiswaan Unhas, Burhan Kadir. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa menulis di era digital bukan lagi sekadar aktivitas merangkai kata.
“Kata adalah identitas kita. Kata dapat menjadi bagian dari karir, bahkan membuka peluang untuk menghasilkan pendapatan,” ujarnya. Ia menyebut kegiatan ini sebagai bentuk komitmen Career Center dalam membekali mahasiswa menghadapi dunia kerja serta memahami industri kreatif.
Memasuki sesi pemaparan, Aan membagikan refleksi perjalanan dua dekade sebagai penulis. Ia menyoroti perubahan lanskap digital, termasuk migrasi besar-besaran dari Twitter ke Instagram sekitar 2014, yang mendorongnya memikirkan kembali cara puisi berdialog dengan medium visual.
Ia juga menceritakan salah satu buku puisinya yang tidak hanya hadir dalam bentuk teks, tetapi dikolaborasikan dengan perupa dan dipamerkan di galeri seni di Jakarta. Menurutnya, puisi perlu bergerak melampaui halaman buku.
Pengalaman lain yang disoroti adalah keterlibatannya dalam penulisan puisi untuk film Ada Apa dengan Cinta? 2 (AADC). Buku puisi yang terbit pada 2016 itu, dalam enam bulan pertama, telah dicetak lebih dari 100 ribu eksemplar—angka yang jarang dicapai buku puisi di Indonesia.
“Puisi dapat hadir di ruang-ruang yang tidak terduga,” katanya, seraya menyebut konser, instalasi seni, hingga iklan sebagai kemungkinan perluasan medium karya.
Dalam sesi diskusi, Aan menolak memandang kepenulisan sebagai arena kompetisi. “Saya lebih percaya setiap penulis membangun ‘gunungnya’ sendiri,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa menulis dan menerbitkan merupakan dua ranah berbeda. Jika ingin hidup dari menulis, seorang penulis perlu memahami industri, mulai dari hak cipta hingga strategi pemasaran.
Kepada generasi muda, Aan berpesan agar bijak memanfaatkan ruang digital. Ia mengingatkan bahwa dunia digital bukan ruang yang sepenuhnya aman, melainkan ruang yang dinamis dan penuh perebutan perhatian.
“Gunakan ruang digital sebagai peluang untuk menyuarakan gagasan dan mengekspresikan diri demi kehidupan kolektif yang lebih baik, dengan tetap menjaga kewaspadaan dan daya kritis,” pesannya.(*)
Penulis: Nur Haliza Sultan
Mahasiswa Magang, Fajar





