Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah merilis program Pelatihan Vokasi Nasional 2026 dengan kuota 70.000 orang. Pendaftaran telah dibuka sejak 23 Februari hingga 6 Maret 2026.
Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menyampaikan, selain program magang nasional untuk lulusan perguruan tinggi, pemerintah juga memberikan alternatif program untuk lulusan SMA dan SMK.
“Program Pelatihan Vokasi Nasional batch 1 sebanyak 20.000 orang, khusus untuk lulusan SMA/SMK dalam tiga tahun terakhir,” ujarnya dalam konferensi pers di Kantor Kemenaker, Jumat (27/2/2026).
Nantinya, kuota 70.000 orang akan terbagi menjadi tiga gelombang atau batch. Saat ini, batch pertama tengah dibuka dan peserta dikhususkan bagi lulusan SMA/SMK/MA atau sederajat tahun kelulusan 2023–2025. Persyaratan tambahan atau ketentuan teknis lainnya, mengikuti ketentuan yang tercantum pada deskripsi setiap program pelatihan.
Durasi pelatihan bervariasi antara satu bulan hingga empat bulan, sesuai dengan jenis dan kebutuhan kompetensi pada masing-masing program pelatihan.
Tujuan utama program ini adalah membekali peserta dengan kompetensi teknis dan nonteknis (soft skills) yang relevan, tersertifikasi, dan aplikatif sebagai modal untuk memasuki dunia kerja maupun berwirausaha.
Baca Juga
- Kemenko PM Gelar Konsultasi Publik, Cari Solusi Masalah UMKM dan Pendidikan Vokasi
- Ahmad Luthfi Dorong Penguatan SDM Melalui Lembaga Vokasi di Solo
- Menteri Pratikno: Pendidikan Vokasional Jadi Prioritas Utama Pengentasan Kemiskinan
Manfaat yang diterima pada peserta nantinya meliputi biaya transportasi Rp20.000 per orang per hari, iuran JKK dan JKM, sertifikat pelatihan BNSP, fasilitas asrama untuk pelatihan tertentu, serta makan siang gratis selama pelatihan.
Yassierli menyampaikan bahwa anggaran untuk program yang paralel dengan program magang bagi lulusan S1 ini telah disiapkan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Meski demikian, dirinya tak menyebut besaran anggarannya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, pelatihan ini dilakukan secara luring, daring, dan hybrid dengan lebih dari 820 kelas pelatihan dan fokus pada 31 kejuruan.
Pelatihan ini meliputi teknologi informasi, komunikasi, bisnis, manajemen, parawisata, tata busana, garmen, apparel, housekeeping, kelistrikan, mekanisasi pertanian, hingga konstruksi.
“Kami berharap para pelajar SMA-SMK bisa mengikuti program dan memperpendek jarak antara pendidikan dengan lapangan kerja,” lanjutnya.
Pasalnya, berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), lulusan SMA-SMK pada 2024-2025 tercatat sebanyak 3,28 juta orang.
Sementara lulusan SMA yang bekerja sekitar 31,05 juta pekerja atau 20% dan dari total pekerja nasional yang mencapai 148 juta orang. Lulusan SMK yang bekerja tercatat sebanyak 20,8 juta orang atau mencakup 14%.
Pendaftaran dapat diakses hanya melalui laman resmi https://skillhub.kemnaker.go.id.





