Di tengah padatnya permukiman Kampung Kauman, Kota Yogyakarta, berdiri sebuah langgar atau masjid kecil bernama Langgar Kidoel KH Ahmad Dahlan.
Bangunan sederhana ini menjadi saksi sejarah pemikiran pembaruan Islam yang digagas pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan, lebih dari satu abad silam.
Langgar ini berlokasi di sekitar Jalan Nyai Ahmad Dahlan. Untuk mencapainya, pengunjung harus masuk gang sekitar 25 meter. Di bagian depan terpasang papan kayu bertuliskan “Langgar Kidoel Hadji Ahmad Dahlan”.
Bangunan tersebut terdiri dari dua lantai. Lantai atas difungsikan sebagai tempat salat, sementara lantai bawah kini menjadi ruang dokumentasi yang menyimpan foto-foto dan arsip sejarah Ahmad Dahlan serta perjalanan langgar tersebut. Di sisi utara langgar dahulu berdiri rumah tempat tinggal Ahmad Dahlan.
Langgar ini masih dikelola oleh keturunan Ahmad Dahlan, salah satunya Ahmad Paramasatya, canggah Ahmad Dahlan. Hingga kini, langgar tetap digunakan untuk salat dan mengaji, sekaligus menjadi lokasi edukasi sejarah yang kerap dikunjungi pelajar.
"Langgar Kidoel ini yang asli adalah sebuah langgar yang dibangun bukan yang pertama kali dibangun oleh KH Ahmad Dahlan justru, tetapi oleh ayah KH Ahmad Dahlan yaitu KH Abu Bakar yang merupakan salah seorang pejabat Abdi Dalem Pamethakan (Keraton Yogyakarta) atau Abdi Dalem Keulamaan dengan golongan Konco Pengulon dengan gelar Khatib Amin," kata Ahmad ditemui, Jumat (27/2).
Tidak diketahui pasti kapan langgar ini dibangun. Namun saat Ahmad Dahlan lahir pada 1868, bangunan tersebut sudah ada.
"Ketika KH Dahlan lahir, naik haji, menikah, itu langgarnya sudah ada," katanya.
Awalnya, langgar hanya satu lantai dan berbentuk sederhana, menggunakan material kayu dan bambu dengan konsep semi terbuka seperti pendapa.
Setelah KH Abu Bakar meninggal dunia, langgar ini kemudian diwariskan kepada Ahmad Dahlan yang merupakan anak laki-laki terakhir.
Langgar ini oleh Ahmad Dahlan kembali dihidupkan dengan pengajian dan dakwah-dakwah.
Kontroversi Koreksi Arah KiblatLanggar Kidoel mencatat salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam di Indonesia, yakni koreksi arah kiblat oleh Ahmad Dahlan pada akhir 1890-an.
"Langgar yang kemudian dihancurkan itu berkaitan dengan kontroversi koreksi arah kiblat," kata Ahmad.
Kala itu, Ahmad Dahlan mempertanyakan kebiasaan masyarakat Jawa yang salat menghadap lurus ke barat tanpa menghitung presisi arah ke Makkah.
"Dari situ muncul pertanyaan kritis apakah benar dari Yogya ke barat itu pasti sampai ke Makkah," kisahnya.
Ahmad Dahlan kemudian melakukan riset menggunakan kompas, jangkar, dan peta dunia. Hasilnya menunjukkan bahwa arah barat lurus dari Yogyakarta justru melenceng dari Ka'bah. Koreksi tersebut membuat arah saf menjadi sedikit miring ke utara.
"Koreksi arah Kiblat itu menyebabkan dari yang lurus ke barat jadi agak miring ke utara," katanya.
Perubahan itu memicu kontroversi. Langgar yang digeser dan tampak miring tersebut justru semakin ramai jemaah. Namun, kebijakan tersebut ditentang oleh Kiai Penghulu Keraton Yogyakarta. Ahmad Dahlan disebut mendapat tiga kali peringatan untuk menghentikan pengajian, tetapi ia tetap melanjutkannya.
Langgar kemudian dihancurkan oleh orang-orang suruhan Kiai Penghulu.
"Dan itu terjadi di Bulan Ramadan juga," katanya.
Meski demikian, peristiwa tersebut justru mendorong masjid-masjid lain menghitung ulang arah kiblat, termasuk Masjid Gedhe Kauman.
"Tempat pertama koreksi kiblat di sini. Nomor duanya langsung di Masjid Besar (Gedhe Kauman)," katanya.
Dibangun Kembali dan Jejak Goresan KiblatSetelah dihancurkan, langgar dibangun kembali. Namun, sejarah mencatat perdebatan apakah bangunan langsung dibuat dua lantai atau tetap satu lantai seperti semula. Dokumentasi tahun 1933 menunjukkan langgar sudah dua lantai.
Di dalam langgar, masih terdapat guratan yang diyakini sebagai patokan arah kiblat buatan Ahmad Dahlan.
"Di dalam tanda kotak itu ada garis goresan kalau di dalam keluarga besar diceritakan goresan Kiai Dahlan untuk patokan kiblat di langgar ini. Konon katanya Kiai Dahlan sempat menggariskan itu," katanya.
Terdapat dua garis lintang dari utara ke selatan dan satu garis koreksi miring dari timur ke barat. Saf salat mengikuti garis miring tersebut.
Ahmad Dahlan wafat pada 1923. Hingga kini, belum ada kepastian kapan tepatnya langgar menjadi dua lantai. Namun terlepas dari perdebatan itu, langkah koreksi arah kiblat yang dilakukan Ahmad Dahlan menjadi tonggak pembaruan pemikiran Islam di Nusantara.
Langgar Kidoel bukan sekadar bangunan tua. Ia adalah simbol keberanian berpikir kritis dan pembaruan yang pada masanya menuai penolakan, tetapi kemudian mengubah praktik keagamaan secara luas.





